
Matteo masih menunggu reaksi dari Altea , entah apa tanggapan anak gadis itu dia tetap menunggu.
Apakah terlalu dini untuk memperbincangkan hal serius seperti ini? Ah entahlah diriku hanya mengikuti logika yang mengatur pola pikirku.
Aku hanya berharap Altea memberi angin segar walaupun tidak seindah yang kubayangkan.
Begitulah isi pikiran Matteo yang sedang memegang setir mobil tanpa menjalankannya. Jika bisa jujur dirinya sekarang bagaikan manusia bodoh yang dilanda kecemasan yang disebabkan oleh dirinya sendiri.
Tapi apa boleh buat ? Tidak ada gunanya kita menyimpan rasa atau sesuatu yang membuat kita tersiksa bukan?
Akan lebih bodoh lagi jika kita hanya memendam perasaan itu tanpa berani untuk mengungkapkannya.
Tiga puluh menit berlalu tanpa ada suara membuat hawa dingin semakin menyeruak.
Mengapa Altea diam?
Apakah Matteo tidak pantas untuk Altea?
Apakah Altea tidak punya tanggapan?
Atau apakah Altea tidak berniat menanggapi kalimat Matteo?
Inilah hal yang tidak bisa dicerna oleh logika Matteo , bahkan sekedar menebak isi pikiran Altea saja dirinya tidak berani. Bisa saja tebakannya benar, namun bisa juga tidak ada yang benar. Maka dari situ dia memilih diam menunggu.
Terdengar Altea memperbaiki posisi duduknya sehingga mengakibatkan suara ketika dia bergerak.
"Lalu apa masalahnya? " Setelah bergelut dengan pikirannya akhirnya menghembuskan nafasnya dengan kasar dan membuka suara.
Nah, betulkan ternyata jawaban Altea memang jauh diluar dugaan Matteo. Altea bukan memberi tanggapan tapi malah melayangkan pertanyaan yang tidak masuk akal.
"Tidak ada masalah ,aku hanya mengungkapkan perasaanku " Matteo berusaha melindungi harga dirinya.
"Terimakasih sudah mencintaiku" Altea menunduk seolah malu dengan kalimat yang keluar dari mulutnya.
"Apakah aku salah mencintai mu? " Matteo melirik Altea sejenak.
"Apa kau tau arti mencintai ? Altea terkekeh sejenak.
"Mengapa kau menanyakan itu ?
Matteo tidak habis pikir dengan Altea yang masih bisa terkekeh disaat dirinya sedang tegang seperti ini.
"Aku pikir kau hanya tau menyakiti orang bukan mencintai" Altea menutup mulutnya seolah menahan tawanya.
"Apa aku pernah menyakiti mu? Matteo menunduk dan meresapi kalimatnya sendiri.
"Pikir saja sendiri, Altea memandang lurus ke depan.
"Maaf kalau aku pernah menyakitimu, dan maaf mungkin aku juga tidak pantas mencintaimu" Matteo menegakkan kepalanya seakan memberikan kekuatan untuk hati kecilnya yang sedang rapuh.
"Tidak, mencintai dan dicintai itu hak semua orang" Altea mencoba menghilangkan kecanggungan.
"Lalu apakah aku berhak dicintai juga ? " Matteo dengan wajah datarnya berusaha mengembangkan teori Altea.
"Iya, kamu juga berhak dicintai" Altea menjawab pertanyaan Matteo.
Di part ini mereka seakan sedang menjalani sidang didepan hakim, tanpa memberikan pemaparan masing masing, apa yang ditanya itu yang dijawab, lucu bukan?
"Apa itu artinya kau juga mencintaiku? Matteo menarik senyumnya ,tapi karena senyum itu sangat tipis mungkin saja Altea tidak menyadari jika Matteo tersenyum.
"Kalau itu aku tidak berani bilang iya, bagiku bukan perkara gampang mencintaimu" Altea dengan tegas mengatakan kalimatnya
Melihat sisi kehidupan Matteo yang buruk wajarlah Altea berpikir berkali kali, lagi pula dia memang tidak punya perasaan kepada Matteo.
"Itu artinya kau tidak mencintai ku? Matteo menatap wajah Altea dengan dalam.
"Berikan aku waktu, aku belum sepenuhnya yakin dengan mu" Altea melirik Matteo dan pandangan mereka bertemu.
"Apa karena kehidupan ku yang buruk makanya dirimu tidak mencintaiku?" Matteo kembali memandang lurus ke depan.
"Perjalanan mu masih panjang , masih ada waktu untuk mu memperbaiki kehidupan mu yang kamu maksud buruk itu" ucap Altea memperhalus bahasanya.
Sebenarnya yang dikatakan Matteo itu benar. Dirinya memang tidak gampang mencintai Matteo karena dia melihat jika Matteo adalah sosok lelaki yang penuh emosi, dan suka mabuk mabuk an.
"Pria seperti apa yang kamu sukai? Matteo tetap memandang ke depan tanpa menoleh sedikit pun, dirinya berusaha menguatkan perasaanya.
"Laki laki yang baik ,bertanggung jawab dan membuat ku nyaman" Altea menampilkan senyum manisnya sehingga lesung pipinya tergambar.
"Seperti Rafael? kamu menyukainya bukan? " Matteo melirik Altea untuk melihat ekspresi gadis itu.
"Aku hanya mengaguminya saja " Ucap Altea polos.
"Tapi aku masih bisa melihat perbedaanya" Altea bersikukuh.
"Sekarang katakan saja kau menerima cinta ku atau tidak " ucap Matteo to the poin.
"Aku sudah bilang bukan berikan aku waktu" Sebenarnya ini adalah cara halus Altea menyatakan jika dia tidak mencintai Matteo,namun terlalu kejam rasanya jika dia menolak Matteo dengan mentah.
"Baiklah... " Matteo memperbaiki posisinya dan berusaha menarik senyumnya kemudian dia kembali menghidupkan mesin mobil dan melajukan nya.
Inilah yang ditakutkan oleh Matteo, kenyataan yang begitu menggelisahkan, dia gelisah apakah Altea akan memberinya waktu yang singkat atau panjang.
Bahkan tidak tertutup kemungkinan waktu itu tidak didapatkan oleh Matteo. Jelas saja ini sebuah harapan yang menggelisahkan. Beban pikiran Matteo semakin bertambah.
Tapi setidaknya perasaanya sudah jauh lebih lempang dan tenang setelah menyatakan cinta dari lubuk hatinya.
Mengkomunikasikan perasaan kita kepada orang lain merupakan hal yang tidak gampang.
Tetapi satu hal yang jelas memendam pikiran dan perasaan itu hanya akan menyakiti diri kita sendiri.
Selagi ada waktu untuk mengutarakan itu akan lebih baik.
Setidaknya Altea tau sudah tau perasaannya. Permasalahan diberi waktu atau tidak biarlah itu urusan Altea nantinya.
"Aku lihat kamu dekat sekali dengan Rafael" Matteo kembali membuka pembicaraan untuk mengusir kecanggungan mereka berdua.
"Yang kamu lihat belum tentu yang sebenarnya" Altea menoleh kepada Matteo yang fokus menyetir.
"Aku hanya berharap kau jangan berubah padaku setelah kau mengenal Rafael"
Matteo sadar jika kehidupan Rafael jauh lebih baik darinya. Bahkan kehidupan Matteo akan berada di nomor sekian jika Altea mengurutkannya didalam daftar.
"Aku akan mengantar mu pulang " Ucap Matteo.
"Baiklah, jika tidak ada lagi yang mau kamu bicarakan" ucap Altea dingin.
"Sebenarnya banyak, tapi tidak sekarang" balas Matteo.
Altea hanya menganggukkan kepalanya, dan menatap kembali keluar dari balik kaca dia menggerakkan jari telunjuknya seolah menggambar sesuatu.
Beberapa menit kemudian mereka tiba didepan rumah orang tua Altea. Sebelum Altea turun Matteo menahan tangan kanan Altea sehingga membuat Altea menoleh dan mempertemukan tatapan keduanya.
"Aku mencintaimu Altea " Matteo memberanikan dirinya menyentuh kepala Altea dan mengusap rambutnya.
Sekujur tubuh Altea menegang merasakan sentuhan lembut Matteo, bulu kuduknya terasa merinding dan membuat jantungnya berpacu dengan cepat.
"A a... aku turun dulu , terimakasih" Altea langsung memutuskan kontak mata mereka.
Mendengar itu Matteo melepas tangan Altea dan kembali memperbaiki posisinya " Maaf "
Altea langsung mempercepat langkahnya dan segera masuk kedalam rumah tanpa menunggu Matteo pergi terlebih dahulu.
Dia kemudian menyandarkan tubuhnya di balik pintu dan memejamkan kedua matanya.
Kedua kakinya juga seolah tidak sanggup menopang tubuhnya yang begitu lemas. sambil duduk berjongkok dilantai dia memegang jantungnya dan menenangkannya.
Hal yang berbeda dialami oleh Matteo, Dia sejenak menatap pintu rumah Altea seakan tau jika Altea masih di belakang pintu itu.
Dia kemudian melajukan mobilnya, didalam mobil dia masih bergelut dengan pikirannya.
Secara garis besar Matteo bukan tipikal pria yang gampang tertarik atau jatuh cinta dengan wanita.
Dia bahkan pernah menganggap jika wanita itu adalah makhluk paling aneh dan menjijikkan.
Terbiasa menghabiskan waktu di klub malam membuat matanya sering melihat wanita begitu menjijikkan.
Apalagi ketika Clarish mantannya memutuskan Matteo secara sepihak dan lebih memilih selingkuhannya.
Dari situlah dia paham bahwa semua wanita sama saja.
Namun setelah mengenal Altea dia harus mengakui jika Altea sangat lah berbeda dengan wanita yang biasa dia temui.
Bersambung.....
Hai reader bantu like dan komen ya..
Maaf kalau part ini tidak begitu menegangkan.
Soalnya ini Author tuangkan lewat pengalaman pribadi 😆.