Aku Mencintaimu,Tanpa Syarat

Aku Mencintaimu,Tanpa Syarat
Dua bayi


Sore hari Matteo menutup laptopnya. Bersiap untuk pulang. Sebentar dia merenggangkan kedua tangannya karena merasa pegal. Dia sudah berdiri meraih jas dan kunci mobil.


Dia menekan lift kemudian masuk. Setelah keluar dari lift dia berjalan dengan cepat. Senyum terukir di bibirnya karena sebentar lagi dia akan bertemu dengan Altea sang istri dan juga thiago sang buah hati. Rasanya dia tidak sabar ingin cepat sampai dirumah.


Pria itu bahkan mengabaikan gio dan Mike tadi padahal mereka berdua hanya memberi tahu jadwal hari Senin serta berkas berkas yang perlu. Tapi Matteo tidak peduli dia hanya ingin agenda dan pekerjaan hari ini cepat selesai.


Setelah tiba dihalaman rumah. Hari sudah terlihat mulai gelap. Pergantian siang ke malam terasa karena angin dingin yang berhembus. Matteo mematikan mesin mobil. Dia keluar dan melihat ada mobil terparkir juga di rumah sebelah rumahnya. Setahu Matteo rumah itu kosong karena pemiliknya baru pindah ke luar negeri. Bahkan Matteo berniat membeli rumah itu.


"Hai. Apa kamu tinggal disini?" ucap salah seorang wanita cantik yang melangkah mendekat kepada Matteo.


"Iya" ucap Matteo sambil memperhatikan penampilan wanita itu. "Kenapa ? "


"Sepertinya kita akan sering bertemu. Karena kita tetangga. mulai besok aku sudah menempati rumah ini." Ucap wanita itu.


"Oh.. baiklah" Matteo berlalu. Wanita itu terlihat kesal kerena Matteo mengabaikannya.


Matteo membuka pintu kamar. Pemandangan pertama yang dia lihat adalah anak dan istri yang dia rindukan sedari tadi.


"Sayang... kau sudah pulang ? " ucap Altea sambil berdiri membantu Matteo membuka jas.


"Sudah " Matteo memberikan banyak kecupan manis di pipi Altea. Kemudian dia melangkah mendekati thiago. Bayi itu sudah mengulurkan tangan mungilnya. Matteo juga mendaratkan banyak ciuman kepada Thiago.


"Daday mandi dulu. Nanti kita bermain sama mommy oke ? " Matteo melangkah kedalam kamar mandi. Ternyata Altea juga ada didalam kamar mandi sedang mengisi air panas kedalam bath up.


Altea berbalik setelah melihat bath up penuh. Dia terlonjak kaget karena melihat Matteo sudah membuka semua bajunya hingga menyisakan celana boxer yang masih menempel.


"Kenapa " tanya Matteo sambil tersenyum mendekat. Tangannya langsung merengkuh pinggang Altea dengan erat.


"Sudah 40 hari belum ? " Tanya Matteo dengan nada sensual membuat bulu kuduk Altea berdiri karena merinding.


" ini masih 34 hari " ucap Altea.


"Jangan membohongiku, atau kau akan tau akibatnya " ucap Matteo menyeringai.


"iya iya... 38 hari " ucap Altea kesal.


"38 atau 39 ? " Tanya Matteo lagi sambil menampilkan senyum tipis penuh ancaman.


Altea mendengus jengkel. "Aku lupa....nanti aku cek kembali " ucap Altea. yang dipikirannya sekarang adalah cepat keluar dari kamar mandi.


"Baiklah cek dengan teliti. jangan sampai salah atau kau akan tau akibatnya " Ucap Matteo memberikan kecupan keras di leher Altea hingga si empunya berteriak.


.


.


.


Dimalam harinya setelah selesai makan malam


Matteo menyempatkan diri bermain dengan anak dan istrinya.


Sambil bermain, mereka mengobrol tentang aktivitas masing masing hari ini. Matteo menceritakan semua yang dia lakukan kantor sama seperti altea menceritakan aktivitasnya sebagai ibu rumah tangga.


"Al... apa kau sudah menerima tawaranku agar berhenti kuliah? " Ucap Matteo melirik Altea.


Altea sontak menghentikan tangannya yang sibuk bermain dengan Thiago. Dia beralih menatap wajah Matteo.


"Jika aku berhenti kuliah, aku tidak memiliki modal dan itu artinya aku akan kesulitan untuk mendapatkan pekerjaan yang layak kedepannya" ucap Altea.


Matteo memijit pelipisnya. "Memangnya untuk apa kau bekerja lagi? Apa uang yang aku berikan setiap bulan tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan kita ? "


Altea menggeleng. "aku hanya tidak enak hati sama kamu Teo. Bahkan aku sudah menghabiskan banyak uangmu".


"Lalu ? "


"Aku juga ingin bekerja dan memiliki penghasilan agar aku tidak selalu bergantung samamu. Dengan aku bekerja, Kita bisa sama sama berpenghasilan dan kau tidak perlu bekerja hingga larut malam Teo " Ucap Altea.


Matteo tersenyum membawa Altea kedalam pelukannya. "Kau istriku dan sudah seharusnya kau itu tanggung jawab ku. Dan aku tidak mau melihat mu bekerja. Kau cukup fokus untuk aku dan anak kita itu cukup sayang."


"Baiklah. Aku akan berhenti kuliah " ucap Altea.


"Terimakasih sudah mau memenuhi seluruh kebutuhan aku dan Thiago " Altea menarik tangan Matteo dan mengecupnya. "Aku akan menjadi istri dan ibu rumah tangga yang baik "


Matteo tersenyum "Seperti ini baru wanitaku, penurut dan tidak suka membantah " ucap Matteo.


Keluarga kecil itu terlihat semakin hari semakin saling ketergantungan. Matteo dan Altea sudah seperti tim hebat yang menghasilkan kerjasama yang baik dalam mengasuh si kecil.


Setelah puas bermain main Altea dan Matteo memutuskan untuk tidur karena baby Thiago juga sudah tidur.


.


.


.


Jam menunjukkan pukul 01.00 dini hari. Tidur Altea terusik karena thiago menangis. Altea segera menyibak selimut dan meraih tubuh thiago dengan lembut. "Kesayangan mommy kenapa nangis? ".


"Haus ya nak ? "


"Sebentar mommy panaskan susu mu ya ".


Setelah hangat dia kembali ke dalam kamar lagi dan memberikan susu kepada Thiago. Bayi itu langsung diam dan dengan rakus menghabiskan susu.


Setelah menenggak sebotol ASI ternyata tidak membuat Thiago kenyang. Dia menangis lagi.


Mendengar suara riuh Thiago sontak membuat Matteo bangun juga. "Sayang .... Thiago menangis ya ? "


"Iya "


"Mungkin dia haus " ucap Matteo sambil membantu Altea untuk mendiamkan Thiago.


"Aku sudah memberinya susu baru saja "


"kamu memanaskan sendiri ?


"Iya"


"Kenapa tidak membangunkan aku ?? " Protes Matteo. Dia merasa kehilangan momen yang biasanya dia selalu bangun membantu Altea memanaskan susu untuk Thiago. Katanya itu adalah cara dia menjadi seorang ayah yang serbaguna. Dan Altea pernah tertawa mendengar itu. Katanya mirip seperti iklan tepung serbaguna.


"Aku tidak kepikiran. Sudah lah pegang dia sebentar dulu. Aku mau menampung asi sebentar ".


"Apa dia belum bisa minum secara langsung ? "


"Belum. Dia belum pintar " Ucap Altea.


"Anak Daddy belum pintar menyusu ya ?. Apa Daddy perlu mencontohkan cara menyusu yang gampang dan benar? " Ucap Matteo sedikit menarik senyum menyeringai.


Altea membulatkan kedua matanya. Sejak Thiago lahir ada saja ide konyol Matteo diluar akal sehat manusia yang kadang membuat Altea pusing.


"Jangan ajari anakku berbuat mesum seperti mu " Ucapnya setelah itu dia melengos pergi.


Setelah Altea hilang dibalik pintu. Matteo tertawa.


"Lihat mommy mu itu. Dia marah. Seharusnya kau bilang iya tadi agar Daddy bisa memberimu contoh dan kita sama sama diuntungkan bukankah begitu boy ". Thiago sudah diam. Mata jernihnya membulat menatap wajah Matteo. bibirnya komat kamit menandakan bayi itu mungkin masih kehausan.


Altea sudah datang membawa botol berisi susu. Dia segera duduk disamping Matteo dan bersiap untuk memberikan susu kepada Thiago.


"Berikan padaku. " Ucap Matteo meminta botol susu dari tangan Altea.


"ini makanan mu boy. " ucapnya kepada Thiago. Sambil memberi susu. Bayi itu langsung menyesap hingga kandas. Altea kemudian melangkah kedapur untuk memasukkan kedua botol susu itu kedalam alat sterilisasi agar bersih sempurna dan aman digunakan besoknya.


Setelah itu dia masuk lagi kedalam kamar. Dia melihat Matteo berusaha menidurkan Thiago dengan menimang sambil menyanyikan lagu anak anak yang mendayu. Tapi masalahnya Thiago tidak juga mau tidur.


"Dia tidak tidur juga ya ?. Sini berikan padaku " Ucap Altea ingin meraih tubuh thiago dari gendongan Matteo. Tapi Matteo menolak


"Kau tidurlah. Biar aku yang menemani Thiago sampai dia tidur lagi".


"Tapi... "


"Sssttt... istirahatlah sayang. Kau sudah berjaga dari pagi sampai sore tadi. Sekarang giliran ku. " ucap Matteo.


"Ayo baringkan tubuhmu. Istirahatlah " Ucap Matteo mengulangi perintahnya.


"Baiklah. Kalau dia haus lagi bangunkan aku nanti ya ". Ucap Altea.


"Iya sayang ".


Sebelum memejamkan matanya, Altea melirik Matteo yang sedang bermain dengan Thiago. Dia menarik senyum tipis. Ada perasaan yang hangat melihat Matteo seperti ini. Pria sangar yang mengerikan itu tidak pernah absen membantu Altea merawat Thiago.


Sebenarnya Altea tidak tega melihat Matteo. Kapan pria itu istirahat Altea bahkan tidak bisa menjawab.


Sudah satu Minggu ini Matteo kembali bekerja. Pagi hingga sore Matteo bergelut di kantor dan malamnya dia begadang menjaga Thiago. Kadang Altea kasihan melihat kebaikan Matteo seperti ini. Kadang pria itu hanya tidur dua jam karena Thiago selalu mengajaknya begadang.


Dua jam berselang, Thiago belum juga tidur. Matteo sebenarnya sudah sangat mengantuk. Tapi Thiago selalu mengajaknya bermain. Mau tidak mau pria itu menurut. Dia memainkan baby bad bel agar sehingga menghasilkan suara. Bayi itu tampak senang. Kakinya sudah bergerak gerak kesana kemari. Tidak lupa suara gumaman berkeluaran dari bibir mungil Thiago. Dan itu membuat Matteo semangat.


berjam jam Matteo terus memainkan baby bad bel. Sampai akhirnya dia menyerah. Ngantuk berat sudah menyerang. Dia tau jika dia terus menerus memainkan rattle Thiago tidak akan tidur.


Akhirnya dia memutuskan untuk menimang Thiago dan menyanyikan lagu-lagu yang mendayu agar bayi itu tidur saja. Jika Thiago tidur maka otomatis dia juga bisa tidur.


Sampai akhirnya bayi mungil itu tidur. Matteo dengan hati hati meletakkan tubuh Thiago diatas tempat tidur. Kemudian dia membaringkan tubuhnya menyusul istri dan anaknya kedalam mimpi. Sebelum itu dia masih menyempatkan diri mengecup dahi Altea bergantian dengan Thiago.


.


.


.


Keesokan paginya Altea bangun. Dia tersenyum melihat Matteo dan Thiago masih tidur . Tampak pria itu bertelanjang dada seperti biasa. Yang membuat dia tersenyum karena Thiago dan Matteo sama sama tidur tanpa baju atasan.


Sepertinya mereka kelelahan bermain main sepanjang malam.


Altea menarik selimut untuk menutupi bagian tubuh Matteo. Hal yang sama juga dia lakukan menarik selimut untuk membungkus tubuh Thiago.


"Dua bayi ku... " gumam Altea melihat Matteo dan Thiago tertidur pulas.



Bonus foto papa Matteo sedang tidur dengan baby Thiago.


Bersambung...