
Tanpa terasa sudah sebulan mata-mata Kerajaan Dong Wang mengikuti Pangeran Bei Chen Yi secara diam-diam.
Xena dan A Bai ikut dalam misi yang dilakukan oleh mata-mata Kerajaan Dong Wang. Zhong Li alias King dan Putri Jing Mi memang sengaja tidak menggunakam pasukan yang banyak untuk menguntit Pangeran Bei Chen Yi karena Pangeran Bei Chen Yi sangat licik dan waspada.
Pangeran Bei Chen Yi berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain. Sampai akhirnya jejak Pangeran Bei Chen Yi menghilang di dekat Pegunungan Huang Shan. Berdasarkan peta Kerajaan Dong Wang, ada dua gua yang merupakan tempat masuk ke dalam Pegunungan Huang Shan. Keduanya berada di dua sisi yang berbeda yaitu timur dan barat.
King dan Putri Jing Mi tidak mau mengambil resiko masuk ke dalam gua yang salah sehingga memutuskan menemui seseorang yang mengetahui tempat masuk yang benar . Orang itu berada di penjara Kerajaan Dong Wang yaitu Putri Bei Chen Hsuang.
King bergidik ngeri melihat seorang nenek tua berbaring di lantai penjara Kerajaan Dong Wang. Tubuh nenek itu sangat kurus hingga terlihat tulang tubuh yang menonjol jelas. Rambutnya rontok dan berserakan di lantai penjara. Keadaannya sangat menyedihkan. Tidak akan ada orang yang percaya bahwa nenek tua itu adalah Putri Bei Chen Hsuang.
Putri Bei Chen Hsuang sudah berada di dalam penjara Kerajaan Dong Wang selama satu bulan lebih sehingga ulat santet pemikat yang berada di dalam tubuh, mulai memakan organ bagian dalam tubuhnya.
"Hei! Wanita tua!" kata King dengan suara keras.
Putri Bei Chen Hsuang menatap ke arah King dan Putri Jing Mi dengan tatapan mata penuh dendam.
"Kamu masih belum mati?" kata King sambil berjongkok di depan Putri Bei Chen Hsuang.
King mengeluarkan peta dan membukanya di hadapan Putri Bei Chen Hsuang.
"Adik tercintamu sedang bersembunyi di Pegunungan Huang Shan! Tunjukkan mana pintu masuk yang benar!" kata King .
Putri Bei Chen Hsuang tidak mau melihat ke arah peta yang ditunjukkan oleh King.
"Aku akan mengirim adik tercintamu untuk menemanimu di neraka!" kata King dengan santai.
"Kalianlah yang akan menemaniku ke neraka!" kata hati Putri Bei Chen Hsuang.
Putri Bei Chen Hsuang tahu ajalnya akan tiba dalam waktu dekat sehingga membulatkan tekad untuk menyeret King dan Putri Jing Mi menemaninya di neraka.
"Di sini!" kata Putri Bei Chen Hsuang dengan suara lemah sambil menunjuk pintu masuk bagian timur di peta.
"Tidak di sangka. Sebelum mati, kamu akan membantu kita," kata King sambil tersenyum lebar.
"Ayo Putri Jing Mi! Kita tangkap Pangeran Bei Chen Yi di pintu masuk barat!" kata King sambil menarik tangan Putri Jing Mi.
"Timur! Bukan barat!" kata Putri Bei Chen Hsuang dengan panik dan suara yang gemetar tidak bertenaga.
King tidak memedulikan teriakan Putri Bei Chen Hsuang dan meninggalkan penjara Kerajaan Dong Wang dalam sekejap mata.
"TIDAK!!!!!"
Terdengar suara teriakan dan tangisan dari dalam penjara Kerajaan Dong Wang.
***PEGUNUNGAN HUANG SHAN BAGIAN BARAT***
King , Putri Jing Mi , dan A Bai masuk ke dalam Pegunungan Huang Shan melalui gua bagian barat. Sedangkan Jendral Zhong Guo, A Chen, Xena, Hercules dan para prajurit mengikuti dari belakang.
Gua yang dilalui oleh mereka sangatlah panjang dan sempit. Setelah berjalan hampir dua puluh menit, mereka mencium bau amis darah yang sangat menyengat.
Mereka tiba di dalam ruangan yang cukup besar . Ada cekungan besar yang mirip danau di hadapan mereka. Bau amis darah itu berasal dari cekungan besar. King dan Putri Jing Mi mendekati cekungan besar itu dan terkejut karena di dalamnya berisi darah segar dalam jumlah yang banyak.
A Bai melolong panjang sambil melihat ke arah genangan darah segar. Bersamaan dengan itu lonceng spesial yang diberikan oleh Pangeran Xi Wen Lung berbunyi dengan keras . King mengambil salah satu obor yang menggantung di dinding gua dan menyinari genangan darah di dalam danau buatan itu. Terlihat ratusan ulat santet menyerupai koloni semut yang banyak, berenang di dalam genangan darah.
"Genangan darah ini tempat memelihara ulat santet!" kata Putri Jing Mi.
Entah sudah berapa banyak rakyat Kerajaan Dong Wang yang ditangkap dan dibunuh untuk mendapatkan genangan darah yang cukup banyak di hadapan mereka membuat para prajurit Kerajaan Dong Wang menjadi marah.
"Musnahkan ulat santet!" teriak prajurit Kerajaan Dong Wang.
"Xena! Kamu dan beberapa prajurit tinggal di sini untuk memusnahkan semua ulat santet di dalam genangan darah. Yang lainnya ikut denganku!" perintah King.
"Baik, tuan muda Zhong Li!" jawab Xena.
Jendral Zhong Guo tersenyum bangga melihat Zhong Li yang tegas dan berwibawa dalam memimpin.
Mereka pun melanjutkan perjalanan menyusuri bagian dalam gua yang sangat besar itu. Beberapa saat kemudian mereka bertemu dengan Pangeran Bei Chen Yi bersama puluhan pengikutnya. Terlihat jelas wajah para pengikut berbeda dengan rakyat Kerajaan Dong Wang.
"Sial! Prajurit Kerajaan Dong Wang! Serang!" teriak Pangeran Bei Chen Yi kepada pengikutnya.
Terjadilah pertarungan yang sengit dalam sekejap mata. Sedangkan Pangeran Bei Chen Yi melarikan diri. King dan Putri Jing Mi segera mengejar Pangeran Bei Chen Yi.
Pangeran Bei Chen Yi menghentikan larinya dan membalikkan tubuhnya menghadap ke arah King dan Putri Jing Mi. Pangeran Bei Chen Yi tersenyum samar.
"Celaka!" teriak King.
Walaupun firasat King sangat tepat, dirinya tidak bisa menghindar dari jebakan yang dibuat oleh Pangeran Bei Chen Yi. Pangeran Bei Chen Yi menekan salah satu dinding batu gua sehingga dasar pijakan King dan Putri Jing Mi terbuka sehingga mereka berdua jatuh ke dalam lubang besar.
King melemparkan cakar panjat besi dari pinggangnya ke arah Pangeran Bei Chen Yi dengan cepat. Cakar panjat besi itu mencengkram erat bahu Pangeran Bei Chen Yi sehingga dia pun ikut jatuh bersama King dan Putri Jing Mi ke dalam lubang besar.
Cakar panjat besi itu merupakan senjata baru King yang dibuatnya di perajin pandai besi. Mereka bertiga jatuh dan mendarat di sebuah ruangan tertutup. Sekitar sepuluh peti mati tanpa tutup berjejeran rapi di sana. Di setiap peti mati ada mayat wanita maupun pria.
King menarik cakar panjat besinya dengan keras sehingga secuil daging di bahu Pangeran Bei Chen Yi ikut terlepas dan membuat Pangeran Bei Chen Yi meringis kesakitan.
Pangeran Bei Chen Yi mengeluarkan di zi dan meniupnya. Suara yang keluar dari di zi itu terdengar sangat aneh.
King mempunyai firasat tidak baik sehingga melemparkan pisau terbang kecil ke tangan Pangeran Bei Chen Yi . Di zi di tangan Pangeran Bei Chen Yi terjatuh ke lantai. Tetapi tindakan King terlambat karena para mayat yang tertidur pulas di dalam peti mati sudah terbangun dan melayangkan pisau tajam di tangan mereka untuk menyerang King dan Putri Jing Mi.
Selamat malam readers. Ternyata kehaluan author sangat panjang sehingga endingnya tambah satu bab lagi ya.😆😆
Totalnya up 4 bab hari ini. Selamat membaca
SALAM SAYANG
AUTHOR : LYTIE