
***Pegunungan Kunlun***
Zhong Li alias King bertekad untuk menghafal teori ilmu meringankan tubuh dan gerakan langkah kaki dengan baik.
Walaupun di dunia aslinya King tidak menyukai pelajaran hafalan dan lebih suka mempraktekkan semuanya secara langsung, tetapi ilmu meringankan tubuh merupakan perpaduan hafalan teori dan gerakan langkah kaki sehingga mau tidak mau King harus menyesuaikan diri dengan semua hal di dunia baru ini.
King juga mengikuti petunjuk Putri Jing Mi untuk mengatur dan menggunakan kekuatan yang tepat sehingga tubuhnya terasa ringan dan lincah seperti melayang di udara.
Lambat laun King sudah bisa mengontrol kekuatannya sehingga Putri Jing Mi melepaskan tangannya dari pinggang King.
"Sekarang saatnya kamu mencoba sendiri!" kata Putri Jing Mi.
King berkonsentrasi penuh mengontrol kekuatannya untuk turun dari Pegunungan Kunlun. Gerakan kaki King sangat gesit dan cepat sehingga Putri Jing Mi yang berada dibelakangnya merasa kagum dengan kecepatan belajar dari King.
Putri Jing Mi mempercepat langkah kakinya untuk menyusul King sehingga mereka berdua berdampingan menuruni Pegunungan Kunlun.
King menoleh ke samping dan tersenyum tipis ke Putri Jing Mi, sedangkan Putri Jing Mi yang melihat jelas mata cemerlang King menjadi teringat akan sesuatu.
"Zhong Li! Sejak kapan matamu sembuh?" tanya Putri Jing Mi ketika mereka berdua hampir tiba di dasar Pegunungan Kunlun.
King yang terkejut dengan pertanyaan dadakan dari Putri Jing Mi menjadi pecah konsentrasinya sehingga tidak bisa mengontrol kekuatan tubuhnya dan mendarat sempurna di tanah dengan posisi telungkup.
"Aduh!" King meringis kesakitan, sedangkan Putri Jing Mi mendarat di tanah dengan posisi berdiri yang sempurna.
Xena yang paling terakhir tiba di tanah segera berlari ke arah King dan memapahnya berdiri.
Xena tidak menyangka Zhong Li yang terlihat sudah berhasil menguasai ilmu meringankan tubuh dengan baik, bisa terjatuh di jarak yang dekat.
"Walaupun tuan muda Zhong Li sudah mempunyai tenaga dalam, karena buta tidak bisa menggunakannya dengan tepat, " kata hati Xena.
"Tuan muda Zhong Li. Kamu tidak apa-apa?" tanya Xena.
"Aku baik-baik saja," kata King sambil memegang hidung dan pipinya yang sakit.
Putri Jing Mi tertawa kecil karena tidak bisa menahan rasa gelinya, sewaktu melihat pipi dan hidung King yang memar serta berwarna kebiruan.
Suara ketawa Putri Jing Mi membuat rona wajah King menjadi merah.
"Putri Jing Mi! Kemarilah!" kata King sambil menggertakkan giginya.
King merasa sangat malu karena terjatuh dan mendarat di tanah dengan posisi telungkup padahal hanya tinggal sedikit saja dirinya bisa mendarat sempurna. Semua karena konsentrasinya terganggu, yang disebabkan oleh Putri Jing Mi.
Putri Jing Mi berjalan ke arah King.
"Ada apa?" tanya Putri Jing Mi sambil memberi isyarat mata kepada Xena. Xena mengerti maksud Putri Jing Mi yang ingin berbicara berdua dengan King sehingga Xena berjalan menjauhi mereka berdua.
"Gara-gara kamu, aku jatuh!" gerutu King.
"Konsentrasimu pecah karena telah berbohong. Hal itu yang membuatmu jatuh dan bukan karena aku ," kata Putri Jing Mi dengan tenang.
"Aku tidak berbohong! Aku memang buta sejak kecil," kata King.
"Aku tahu! Sekarang matamu sudah sembuh kan?" tanya Putri Jing Mi dengan nada menyelidiki.
"Sejak aku diselamatkan olehmu dari sungai, mataku tiba-tiba sembuh," jawab King.
Apa yang dikatakan oleh King bukanlah bohong seratus persen karena memang Zhong Li mati tenggelam di sungai, kemudian roh King terperangkap ke dalam tubuh Zhong Li dan pada saat itulah mata Zhong Li bisa melihat dengan jelas.
Putri Jing Mi juga mempercayai perkataan King. Sewaktu dirinya bersama King di sungai, Putri Jing Mi sudah mulai curiga mata King bisa melihat dengan jelas. Kemudian di jamuan malam istana, Putri Jing Mi yakin dirinya melihat sekilas mata King yang berbinar-binar sewaktu meneguk arak.
Putri Jing Mi kagum dengan kejujuran King terhadapnya. Ketika mereka berada di gua tempat rumput abadi berada, King bisa saja membiarkan Putri Jing Mi melawan ular piton hitam sendirian sehingga kebohongan itu tidak terbongkar, tetapi King malahan melompat ke ekor ular piton hitam dan membantu Putri Jing Mi.
Putri Jing Mi yakin King punya alasan kuat untuk tetap berpura-pura buta.
"Jangan khawatir! Aku akan menjaga rahasiamu, " kata Putri Jing Mi.
King percaya seratus persen dengan perkataan Putri Jing Mi.
Mereka bertiga meneruskan perjalanan menuju Kuil Tao. Xena memapah King yang tetap berpura-pura buta mengikuti Putri Jing Mi dari belakang.
***Kuil Tao***
King, Putri Jing Mi, dan Xena tiba di Kuil Tao pada saat malam hari. King bersyukur mereka tidak perlu menginap di atas puncak Pegunungan Kunlun dan sudah mendapatkan rumput abadi untuknya dan bunga teratai salju untuk Putri Jing Mi.
Hercules menyambut kedatangan mereka dengan senyuman lebar di bibirnya.
"A Tu! Cepat bantu tuan muda Zhong Li membersihkan diri. Aku akan memasak masakan vegetarian sekarang!" kata Hercules.
"Ayo tuan muda Zhong Li!" kata A Tu sambil menuntun King ke kamar tamu yang dipersiapkan oleh pendeta Tao muda semalam.
"Tuan muda Zhong Li. Xena akan mengobati Putri Jing Mi sekarang," kata Xena.
Xena meminta izin kepada King untuk menemani Putri Jing Mi.
"Pergilah! Jangan lupa bunganya!" kata King.
King yakin bunga teratai salju yang dipetik oleh Xena di salju putih bagian barat harus diramu menjadi obat sebelum mengoleskannya ke luka wajah Putri Jing Mi dan Xena lah orang yang paling tepat untuk melakukannya.
King juga ingin luka wajah Putri Jing Mi segera sembuh. Xena mengambil kantong kecil yang berisi bunga teratai salju dari kantong goni milik King, kemudian berjalan menuju kamar tamu tempat Putri Jing Mi menginap.
***
A Tu merasa ngeri melihat pakaian King yang penuh dengan bercak darah. Wajah King juga memar kebiru-biruan sehingga A Tu menduga King mengalami bahaya sewaktu di puncak Pegunungan Kunlun.
"Tuan muda Zhong Li terluka?" tanya A Tu dengan hati-hati.
"Sedikit. Cepat siapkan air hangat. Aku mau mandi," kata King.
A Tu menyiapkan tong air besar yang berisi air hangat untuk King. King berendam di dalamnya setelah memesan A Tu untuk membakar pakaian Tao berwarna biru yang penuh dengan bercak darah itu.
King tidak mau ular piton putih dan kawanan ular kecilnya datang ke Kuil Tao apabila mencium bau darah dari ular piton hitam.
***Kamar tamu tempat Putri Jing Mi menginap***
Putri Jing Mi sedang mengganti pakaiannya dengan pakaian yang kering dan bersih, sedangkan Xena mengeluarkan bunga teratai salju dari kantong kecil dengan hati-hati.
Seperti dugaan King, Xena harus membuat ramuan dari bunga teratai salju untuk Putri Jing Mi. Bunga berkelopak empat dan berwarna putih itu di tumbuk di dalam lesung kecil, wadah yang sering dipakai oleh Xena untuk membuat ramuan. Kemudian Xena mencampurkan air tetesan embun dan bubuk mutiara putih. Xena memasukkan hasil ramuan cairan ke dalam botol kecil.
"Putri Jing Mi. Setiap hari mengoleskan satu kali ramuan ini ke bekas luka. Xena yakin paling lama satu minggu, bekas lukanya akan menghilang," kata Xena ke Putri Jing Mi yang sudah selesai berganti pakaian.
Putri Jing Mi memegang botol kecil yang diberikan oleh Xena.
"Baiklah!" kata Putri Jing Mi.
Xena tersenyum lebar dan berjalan meninggalkan kamar.
Putri Jing Mi berjalan ke arah cermin dan duduk di hadapan cermin sehingga terlihat pantulan wajah Putri Jing Mi di sana. Putri Jing Mi membuka topeng yang menutup bagian kanan wajahnya yang rusak secara perlahan. Putri Jing Mi masih bisa mengingat dengan jelas rasa sakit yang dirasakannya ketika luka itu muncul di wajahnya.
***
Selamat malam readers. Author akan usahakan up satu bab lagi ya. Di tunggu ya. Mungkin agak malam 😅😅😅.
Maaf author terperangkap dengan kesibukan real life 🤗🤗🙏
TERIMA KASIH
AUTHOR : LYTIE