
**Kediaman Jendral Zhong Guo***
Kereta kuda berhenti di depan kediaman Jendral Zhong Guo. Orang yang berada di dalam kereta kuda turun bergiliran satu persatu. Tentu saja Zhong Li alias King yang buta menjadi orang yang terakhir turun dari kereta kuda.
Hercules naik ke atas kereta kuda untuk menuntun King turun, sedangkan Jendral Zhong Guo masih berdiri di depan pintu masuk kediaman dan belum ada niat untuk masuk ke dalam terlebih dahulu.
Jendral Zhong Guo ingin menunggu Zhong Li sehingga Ming Lan dan Zhong Min pun berdiri di samping Jendral Zhong Guo dengan perasaan dongkol di dalam hati mereka.
"Zhong Li! Besok kita makan pagi bersama," kata Jendral Zhong Guo dengan suara lembut.
"Baik, Ayah!" jawab King dengan patuh.
Jendral Zhong Guo menepuk pundak King sekali sebelum berjalan masuk ke dalam kediaman. Ming Lan dan Zhong Min mengikuti dari belakang setelah memberikan pandangan mata benci ke King terlebih dahulu.
Terlihat jelas Jendral Zhong Guo sangat menyayangi Zhong Li sehingga membuat Ming Lan dan Zhong Min semakin membenci Zhong Li.
***Kamar tidur Zhong Li***
Hercules menuntun King untuk naik ke atas tempat tidur. King menatap ke arah lain dengan pandangan mata kosong.
A Tu yang di tinggal di kediaman Jendral Zhong Guo, tergesa-gesa menuangkan satu cangkir air putih untuk King.
"Tuan muda Zhong Li. Silakan di minum airnya," kata A Tu.
King menganggukkan kepala dan meneguk air putih itu secara perlahan.
"A Tu! Cuci jubah perang ini dengan hati-hati. Jangan sampai rusak," kata King sambil melepaskan jubah perang Putri Jing Mi yang dipakainya.
"Baik, tuan muda Zhong Li. Aku pasti akan mencuci dengan bersih dan mengantarkannya setelah kering," kata A Tu dengan semangat.
A Tu tahu jubah perang itu milik Putri Jing Mi dan sangat berharga sehingga dirinya harus menjaga jubah perang itu dengan baik.
King sengaja membuat alasan untuk menyingkirkan A Tu dari kamar tidur Zhong Li karena ingin menanyakan hal yang penting ke Xena.
***
"Xena! Selendang Putri Bei Chen Hsuang mengandung racun?" tanya King secara terus terang tanpa basa-basi.
"Iya! Racun yang bisa membuat pria tergila-gila kepadanya," jawab Xena dengan jujur.
"Dasar wanita tua genit!" teriak King secara spontan.
"Tuan muda Zhong Li tahu Putri Bei Chen Hsuang sudah tua?" tanya Hercules dengan raut wajah penasaran.
"Dari suaranya!" jawab King dengan singkat.
"Tuan muda Zhong Li memang spesial," puji Hercules sambil menatap King dengan mata berbinar-binar.
King tidak memedulikan Hercules yang sedang terkagum-kagum kepadanya. King lebih fokus menanyakan pertanyaan selanjutnya ke Xena.
Sewaktu di dalam kereta kuda tadi, King memang terlihat duduk dengan tenang tetapi pikirannya melayang ke sesuatu hal tentang Putri Bei Chen Hsuang. Tentu saja bukanlah hal romansa, melainkan hal yang membuat King merasa marah dan benci kepada Putri Bei Chen Hsuang jika dugaannya benar.
Xena merasa terkejut karena sama sekali tidak mengira King bisa menebak tepat Putri Bei Chen Hsuang yang melukai wajah Putri Jing Mi.
"Iya, tuan muda Zhong Li," jawab Xena dengan jujur.
Mata Hercules membulat besar mendengar jawaban Xena karena dia sama sekali tidak tahu Putri Bei Chen Hsuang yang membuat wajah Putri Jing Mi rusak. Hanya Kaisar Wang dan prajurit yang ikut berperang dengan Putri Jing Mi lima tahun yang lalu mengetahui kebenaran itu.
Para prajurit yang ikut berperang menghormati Putri Jing Mi dan menutup rapat mulut mereka mengenai kejadian lima tahun yang lalu sehingga rakyat Dong Wang hanya tahu wajah Putri Jing Mi rusak karena bertarung mempertahankan Kerajaan Dong Wang, tanpa mengetahui siapa yang melakukan hal itu terhadap Putri Jing Mi.
"Xena! Ceritakan semua kejadian hari itu!" perintah King.
King yakin Xena juga berada di dalam pertarungan antara Kerajaan Dong Wang dan Kerajaan Bei Ming lima tahun yang lalu sehingga Xena pasti tahu jelas bagaimana wajah Putri Jing Mi bisa terluka parah.
"Baik tuan muda Zhong Li," jawab Xena.
Xena mencoba menarik napas dalam-dalam dan mengingat kembali kejadian lima tahun yang lalu.
Sebenarnya Putri Jing Mi sudah tidak mempermasalahkannya dan melarang Xena untuk menceritakan siapa penyebab luka di wajahnya ke Zhong Li. Akan tetapi, karena King sendiri yang menebaknya dengan tepat dan ingin mengetahui kejadian lima tahun yang lalu, Xena memutuskan untuk menceritakannya sekarang.
"Pada saat itu Putri Jing Mi berusia lima belas tahun dan terjun ke medan perang. Prajurit Kerajaan Dong Wang dibawah pimpinan Putri Jing Mi selalu memenangkan setiap pertempuran. Pasukan Kerajaan Nan Yun dan Kerajaan Xi Xia sudah mengundurkan diri dari medan pertempuran dan hanya tinggal pasukan Kerajaan Bei Ming. Putri Bei Chen Hsuang yang memimpin pasukan Kerajaan Bei Ming pada saat itu."
Xena menghentikan perkataannya sambil menahan emosinya yang akan meluap karena kejadian berikutnya lah yang menyebabkan wajah Putri Jing Mi rusak.
Xena berusaha mengatur napasnya supaya teratur dan tenang, sedangkan King tetap diam dan menunggu Xena melanjutkan ceritanya dengan sabar.
"Ternyata Putri Bei Chen Hsuang menyandera puluhan anak kecil Kerajaan Dong Wang. Putri Bei Chen Hsuang mengajukan syarat kepada Putri Jing Mi untuk bertarung satu lawan satu dengannya. Putri Jing Mi tidak diperbolehkan menggunakan senjata apa pun, sedangkan Putri Bei Chen Hsuang akan menggunakan cambuk cemeti, senjata andalannya. Jika Putri Jing Mi menang, puluhan anak kecil Kerajaan Dong Wang akan dilepaskan dan pasukan Kerajaan Bei Ming akan mengundurkan diri," kata Xena.
"Putri Jing Mi pasti menyetujui syarat itu!" kata King.
Walaupun baru mengenal Putri Jing Mi dalam waktu yang singkat, King bisa menilai kepribadian Putri Jing Mi dengan tepat. Putri Jing Mi memang berpenampilan kaku dan dingin, tetapi hatinya sangat lembut dan hangat. Keinginan utama Putri Jing Mi adalah menjadikan rakyat kerajaan Dong Wang hidup makmur dan sejahtera sehingga Putri Jing Mi pasti akan menyetujui apa pun persyaratan dari Putri Bei Chen Hsuang agar puluhan anak kecil itu selamat.
"Putri Jing Mi hampir memenangkan pertarungan dengan Putri Bei Chen Hsuang. Cambuk cemeti yang diarahkan Putri Bei Chen Hsuang berhasil di pegang oleh Putri Jing Mi. Tetapi pada saat itulah ujung cambuk cemeti Putri Bei Chen Hsuang mengeluarkan pedang yang tajam dan melukai wajah Putri Jing Mi," kata Xena dengan suara bergetar.
Xena yang mengikuti Putri Jing Mi dalam pertarungan pada waktu itu melihat dengan jelas Putri Bei Chen Hsuang menekan tombol rahasia di cambuk cemetinya sehingga pedang tajam yang keluar dari ujung cambuk cemeti langsung mengenai wajah Putri Jing Mi.
"Wanita tua yang psikopat!" teriak King sambil mengepalkan kedua tangannya.
***
Selamat sore readers. Hari ini crazy up 3 bab ya. Di tunggu bab ketiga nanti malam.
TERIMA KASIH
AUTHOR : LYTIE
CRAZY UP TODAY CRAZY UP TODAY
CRAZY UP TODAY CRAZY UP TODAY
CRAZY UP TODAY CRAZY UP TODAY