
**RUANG DEPAN KEDIAMAN JENDRAL ZHONG GUO***
Zhong Li alias King tidak menyangka kedua pendeta Tao yang di undang oleh Ming Lan adalah pendeta Tao dari Kuil Tao yang berada di bawah kaki Pegunungan Kunlun.
A Tai dan A Shang adalah pendeta Tao senior di sana. King mencoba menajamkan indra penciumannya dan tidak menemukan aroma tubuh A Lao dan A Jun.
"A Tai dan A Shang pasti sudah di suap oleh Ming Lan!" kata hati King.
King sadar di dunia mana pun baik dunia aslinya maupun dunia Zhong Li , penyuapan bisa dilakukan oleh siapapun karena uang sangatlah penting untuk mempertahankan hidup di dunia yang keras.
King tidak menyalahkan A Tai dan A Shang yang terbuai oleh janji upah yang tinggi dari Ming Lan . Setiap orang berhak memilih jalan hidupnya sendiri dan harus siap bertanggung jawab atas semua resiko yang ditimbulkan oleh jalan yang di pilihnya.
Waktu berlalu dengan cepat, bahkan dupa yang menyala sudah habis terbakar setengah batang. Ming Lan merasa heran dan sedikit panik karena melihat Zhong Li masih duduk dengan tenang dan pandangan mata kosong. Zhong Li sama sekali tidak terpengaruh oleh asap dupa itu dan bereaksi seperti yang Ming Lan harapkan.
"Sudah selesai kah?" tanya King dengan nada tenang.
"Tuan muda Zhong Li! Dupanya sudah terbakar habis setengah batang.Hercules akan antar tuan muda Zhong Li kembali ke kamar sekarang!" kata Hercules.
Hercules maju menghampiri King setelah mendapatkan isyarat mata dari Xena.
"Tunggu sebentar! Roh hantu airnya belum di usir!" teriak Ming Lan dengan panik.
Ming Lan bergegas menghampiri King yang akan berdiri dari tempat duduknya dengan bantuan Hercules. Zhong Min ikut maju dan mencegah King meninggalkan ruang depan.
"Benar sekali perkataan Nyonya Ming Lan! Dupanya belum habis terbakar dan roh hantu airnya belum keluar. Tuan muda Zhong Li tidak boleh pergi!" kata A Tai.
A Shang segera menghidupkan satu batang dupa lagi dan menancapkannya di tempat dupa. Kedua batang dupa itu diberikan oleh Ming Lan kepada A Tai dan A Shang. Mereka berdua hanya bertugas menyalakan batang dupa dan membiarkan asap dupa bertiup ke arah Zhong Li. Kemudian mereka berdua menjadi saksi Zhong Li yang bersikap seperti orang gila dan mengumumkan kepada semua orang bahwa hantu air di dalam tubuh Zhong Li sangat kuat dan berbahaya.
"Show time!" kata hati King sewaktu melihat Ming Lan dan Zhong Min mendekat ke arahnya.
King mengenggam dua butir racun kecil yang dibuat oleh Xena dan dengan gerakan tangan khas orang buta yang meraba tidak jelas, King berhasil menyentuh tangan Ming Lan dan Zhong Min. Kedua butir racun kecil itu langsung menyerap ke dalam tubuh Ming Lan dan Zhong Min melalui permukaan kulit tangan mereka.
"Baik, Ibu! Aku akan menunggu asap dupanya habis," jawab King dengan patuh dan duduk kembali ke kursi yang disediakan khusus untuknya oleh Ming Lan.
A Tai dan A Shang berpura-pura membacakan mantera sambil menunjuk-nunjuk ke arah King.
Para pelayan kediaman Jendral Zhong Guo sudah berkumpul mengelilingi ruang depan . Mereka ingin melihat dengan jelas bagaimana roh hantu air di tubuh Zhong Li di usir oleh kedua pendeta Tao yang terlihat sangat berpengalamanan mengusir hantu.
Sementara itu Ming Lan dan Zhong Min menarik napas lega setelah mendengar perkataan King. Ming Lan yakin Zhong Li pasti akan menjadi gila setelah menghirup semua asap dari kedua batang dupa.
Pakaian baru yang diberikan oleh Ming Lan setiap hari ke King , masih berada di dalam lemari pakaian King sehingga Ming Lan tidak mencurigai King sudah mengetahui rencana busuknya.
"Argh!!!" Ming Lan dan Zhong Min berteriak bersamaan. Kata-kata umpatan kasar dan tidak jelas keluar dari mulut Ming Lan dan Zhong Min. Ming Lan menjerit dengan suara lengkingan yang keras sedangkan Zhong Min menangis histeris. Sikap yang berbeda dari Ming Lan dan Zhong Min membuat para pelayan kediaman Jendral Zhong Guo nerasa ada yang tidak benar dan memundurkan tubuh mereka ke belakang menjauhi Ming Lan dan Zhong Min.
Hercules dan Xena segera memapah King berdiri dari tempat duduk dan membawanya menjauhi meja altar.
Suara mantera yang dibacakan oleh A Tai dan A Shang bagaikan dengungan lalat di telinga Ming Lan dan Zhong Min sehingga mereka berdua berlari ke arah A Tai dan A Shang. Ming Lan menggigit tangan A Tai sedangkan Zhong Min berlutut sambil menggigit kaki A Shang.
"Sakit ! Tolong!" A Tai dan A Shang berteriak kesakitan dan meminta pertolongan tetapi para pelayan kediaman Jendral Zhong Guo tidak berani mendekat ke arah Ming Lan dan Zhong Min.
Di satu sisi mereka tidak berani melukai Ming Lan dan Zhong Ming yang merupakan nyonya dan tuan muda . Sedangkan di sisi lain, mereka tidak mau mengalami nasib yang sama dengan A Tai dan A Shang.
"Ada apa? Kenapa aku mendengar suara aneh dari mulut ibu dan Zhong Min? " King pura-pura bertanya kepada Hercules.
"Nyonya Ming Lan dan tuan muda Zhong Min menjadi gila. Mereka menggigit A Tai dan A Shang ," jawab Hercules dengan spontan.
Sewaktu tinggal di Kuil Tao, Hercules berteman akrab dengan A Tai dan A Shang karena masakan vegetarian Hercules sangat enak dan disukai oleh A Tai dan A Shang.
Hercules tidak menyangka kedua teman barunya akan menjadi pesuruh Ming Lan dalam waktu yang singkat.
"Tuan muda Zhong Li! Apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya A Tu.
A Tu mewakili para pelayan kediaman Jendral Zhong Guo untuk bertanya kepada King karena sekarang hanya King yang bisa mengambil keputusan .
"Aku juga tidak tahu!" jawab King sambil menampilkan wajah bingung.
"Biarin aja mereka berdua menggigit A Tai dan A Shang sampai puas," kata hati King.
Sesuai dengan prinsip yang dijalankan oleh King selama ini, A Tai dan A Shang harus menerima konsekuensi dari jalan yang dipilih oleh mereka sendiri
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Tuan muda Zhong Li!"
"A Chen?" kata hati King.
King mengingat suara A Chen , kepala pimpinan prajurit yang menyelidiki kejadian kepala kusir kuda yang terpenggal beberapa waktu yang lalu.
A Chen terkejut melihat Ming Lan dan Zhong Min yang menggila sehingga memerintahkan prajurit bawahannya untuk memisahkan Ming Lan dan Zhong Min dari A Tai dan A Shang yang menjerit kesakitan.
Akhirnya dengan susah payah, prajurit bawahannya bisa memisahkan Ming Lan dan Zhong Min dari A Tai dan A Shang. A Tai dan A Shang terduduk lemas di lantai sambil memegangi bagian tubuh mereka yang kena gigit.
"Panggilkan tabib untuk memeriksa keadaan Nyonya Ming Lan dan tuan Zhong Min," perintah A Chen ke prajurit bawahannya .
"Maaf tuan muda Zhong Li! Aku dan prajuritku menerobos ke dalam kediaman Jendral Zhong Guo secara mendadak hari ini," kata A Chen.
"Tidak apa-apa! Aku yakin pasti ada hal yang penting. Lagi pula aku sangat berterima kasih dengan kedatanganmu yang membantu mengurus keadaan yang kacau tadi sehingga ibu dan adikku tidak terluka ," kata King sambil melihat ke arah lain dengan pandangan mata kosong.
A Chen menatap iba kepada King , yang masih saja peduli dengan ibu tiri dan adik tirinya. Padahal kedatangan A Chen kali ini karena tahu ada yang berniat jahat terhadap King dan A Chen menduga Ming Lan serta Zhong Min lah yang berniat jahat terhadap King.
"Sebenarnya aku mendapatkan laporan bahwa kedua pendeta senior Tao menerima suap dari seseorang untuk mencelakai tuan muda Zhong Li sehingga aku bergegas ke sini," kata A Chen dengan jujur.
"Siapa yang melaporkannya?" tanya King.
Kali ini King sama sekali tidak bisa menebak siapa yang berbaik hati melaporkan kepada prajurit Kerajaan Dong Wang.
"Mungkinkah Putri Jing Mi?" kata hati King.
"Kak Zhong Li!" Terdengar suara anak kecil yang nyaring, yang sedang berlari ke arah King.
"A Jun!" kata King sambil tersenyum kecil.
A Bai ikut berlari menghampiri King dan menggosok-gosokkan badannya ke kaki King.
"A Bai! Kamu rindu padaku?" kata hati King.
A Bai melolong pendek pertanda jawaban 'iya' terhadap pertanyaan King.
"Kak Zhong Li! Tanpa sengaja aku mendengar pembicaraan kak A Tai dan Kak A Shang tentang ke kediaman Jendral Zhong Guo untuk membuat kak Zhong Li menjadi gila," kata A Jun dengan polos.
"Sial*n! Ternyata kamu yang memberitahu prajurit kerajaan Dong Wang!" teriak A Tai sambil menunjuk A Jun.
A Jun secara refleks bersembunyi di belakang tubuh King. Sedangkan A Bai bersikap siaga dan memperlihatkan gigi tajamnya ke arah A Tai.
"Bawa mereka berdua ke penjara!" Perintah A Chen ke prajurit bawahannya.
"Jangan takut, A Jun! Mereka berdua akan mendekam di penjara dalam waktu yang lama," kata A Chen sambil membelai kepala A Jun dengan lembut.
"Penjara? Siapa yang akan menjaga Kuil Tao? Aku harus tinggal di mana? Kak Lao sudah pergi meninggalkan kuil Tao beberapa hari yang lalu," kata A Jun dengan nada cemas.
"Kamu bisa ikut denganku!" kata A Chen dengan yakin .
"Benarkah?" tanya A Jun dengan mata berbinar-binar.
A Jun yang masih kecil di buang oleh orang tua kandungnya di depan Kuil Tao sehingga A Tai memungutnya dan menjadikannya pendeta Tao kecil.
"Iya! Aku bisa melatihmu menjadi prajurit Kerajaan Dong Wang! Tetapi kamu tidak boleh membawa A Bai," kata A Chen.
A Jun mengerti perkataan A Chen. Bagaimanapun juga A Bai adalah seekor serigala liar sehingga tidak mungkin bisa mengikuti prajurit Kerajaan Dong Wang berkeliaran di jalanan.
"Aku bisa memberikan A Bai kepada Kak Zhong Li!" kata A Jun sewaktu melihat A Bai menempel di kaki King dengan tenang.
Selamat malam readers. Bab ini author up pukul 22.40 WITA.
Semoga readers menyukainya. Novel ini akan tamat dalam waktu dekat dan tentunya akan ada konflik terakhir ya.
TERIMA KASIH DUKUNGAN VOTE, LIKE, HADIAH DAN KOMENTAR POSITIFNYA.
CRAZY UP 3 BAB CRAZY UP 3 BAB
CRAZY UP 3 BAB CRAZY UP 3 BAB
SELAMAT MALAM
AUTHOR : LYTIE