
***KAMAR TIDUR ZHONG LI***
Zhong Li alias King duduk merenung sambil memikirkan Pangeran Bei Chen Yi dan Putri Bei Chen Hsuang.
Perihal Jendral Zhong Guo dan pasukannya yang melakukan pemeriksaan insentif dan menyeluruh selama satu minggu tetapi tidak menemukan satu ekor ulat santet di kediaman Bunga Persik bagian utara sudah diketahui oleh King. King mencurigai ada orang yang membantu Pangeran Bei Chen Yi dan Putri Bei Chen Hsuang secara diam-diam.
"Mungkinkah Ming Lan yang membantu Pangeran Bei Chen Yi dan Putri Bei Chen Hsuang?" kata hati King.
Jika memang benar Ming Lan adalah mata-mata dari Kerajaan Bei Ming, maka King harus bersikap lebih berhati-hati dan waspada. Mungkin saja Pangeran Bei Chen Yi ataupun Putri Bei Chen Hsuang akan memerintahkan Ming Lan melakukan sesuatu terhadap dirinya.
King yakin Pangeran Bei Chen Yi dan Putri Bei Chen Hsuang untuk sementara waktu tidak akan turun tangan langsung mencelakainya , sehingga Ming Lan lah satu-satunya bidak catur yang bisa digunakan oleh Pangeran Bei Chen Yi dan Putri Bei Chen Hsuang.
Beberapa saat kemudian, King mendengar suara ketukan pintu kamar dari luar.
"Tuan Zhong Li!" kata A Tu dari luar kamar tidur.
"Masuklah!" kata King .
King duduk bersandar di tempat tidur seperti biasanya dan matanya melihat ke arah lain dengan pandangan mata kosong.
Hercules sedang berada di dapur untuk menyiapkan makan siang . Sedangkan Xena di beri tugas khusus oleh King.
King meminta Xena membuat beberapa ramuan obat untuk mengusir serangga terutama ulat. Sejak King melihat gerombolan ulat santet yang seperti sarang semut keluar dari tubuh Chong Ren di kediaman Bunga Persik, King tidak bisa menahan rasa jijiknya . Setidaknya dengan adanya ramuan obat dari Xena, serangga-serangga tidak akan mendekat ke arah King walaupun King tahu pasti ada beberapa ulat santet yang lebih kuat dan tidak akan terpengaruh dengan ramuan obat itu.
A Tu berjalan masuk ke dalam kamar tidur sambil membawa beberapa pakaian baru di tangannya. Semua pakaian baru itu sudah di lipat rapi.
"Tuan muda Zhong Li! Nyonya Ming Lan membelikan pakaian baru untukmu. Tuan muda Zhong Min juga dibelikan pakaian baru yang sama," kata A Tu.
A Tu yang polos masih belum tahu Ming Lan lah yang menyewa pembunuh bayaran untuk membunuh Zhong Li beserta semua pelayannya sewaktu perjalanan menuju Kuil Tao beberapa waktu yang lalu.
Ming Lan menyuruh A Tu untuk mengantarkan pakaian baru ke Zhong Li dengan alasan pakaian baru itu untuk persiapan pernikahan Zhong Li dengan Putri Jing Mi dalam waktu dekat.
A Tu tidak menaruh rasa curiga apa pun karena melihat Zhong Min juga dibelikan pakaian baru oleh Ming Lan sehingga A Tu merasa pakaian baru ini aman dan tidak berbahaya terhadap Zhong Li sehingga membawanya ke kamar tidur Zhong Li.
"Simpanlah!" kata King dengan pandangan mata kosong.
A Tu membuka lemari pakaian dan menyimpan semua pakaian baru itu di laci yang masih kosong.
Indra penciuman Zhong Li yang tajam membuat King bisa mencium aroma bunga yang menyebar dari pakaian baru itu.
Aroma bunga ini bukanlah sabun wangi yang biasa A Tu gunakan untuk mencuci pakaian King sehingga King menjadi semakin curiga.
"A Tu! Pakaian baru nya sudah kamu cuci?" tanya King.
"Kata Nyonya Ming Lan, pakaian baru ini terbuat dari kain sutra yang halus dan mahal sehingga melarangku untuk mencucinya. Bibi A Mei yang mencuci, mengeringkan dan melipatnya sebelum diberikan kepadaku," jawab A Tu dengan polos.
King tahu Bibi A Mei adalah pelayan pribadi Ming Lan dan sudah melayani Ming Lan selama puluhan tahun. Bibi A Mei adalah pelayan yang disegani di kediaman Jendral Zhong Guo. Bisa di bilang Bibi A Mei adalah big boss ataupun sesepuh para pelayan kediaman Jendral Zhong Guo.
King yang mendengar perkataan A Tu semakin yakin ada yang tidak beres dengan pakaian baru yang dibelikan oleh Ming Lan .
Kalau saja bukan karena indra penciuman Zhong Li yang tajam, King sama sekali tidak akan bisa tahu wangi pakaian baru nya sangat berbeda dengan wangi pakaian yang biasa King pakai.
Aroma pakaian Ming Lan dan Zhong Min pun bukanlah wangi bunga yang tercium sekarang.
"Aku akan meminta Xena memeriksanya. Ming Lan pasti menaburkan sesuatu ke pakaian baru itu. Entah drama apa lagi yang akan Ming Lan mainkan sekarang ," kata hati King.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Setelah makan siang bersama, King sengaja menyuruh A Tu untuk membantu Hercules membawakan piring kotor ke dapur dan mencucinya karena ingin berbicara dengan Xena.
"Xena! Coba periksa pakaian baru yang di bawa oleh A Tu tadi. A Tu menyimpannya di lemari !" kata King.
"Baik, tuan muda Zhong Li!" kata Xena dengan patuh.
Xena mengeluarkan pakaian baru dari kain sutra yang berada di dalam lemari pakaian dan memeriksanya satu persatu dengan teliti.
Xena mengira King curiga ada ulat santet yang menempel di pakaian baru itu sehingga King memintanya untuk memeriksanya.
Sepuluh menit kemudian, Xena sudah memeriksa semua pakaian baru itu dan tidak menemukan apa pun.
"Tuan muda Zhong Li! Tidak ada ulat santet di dalam pakaian baru ini," kata Xena.
"Hidungku sangat sensitif. Aku mencium aroma bunga yang aneh dari pakaian baru ," kata King.
Xena mendekatkan hidungnya secara perlahan ke pakaian baru itu dan mencium aromanya. Beberapa saat kemudian Xena menutup hidungnya dengan cepat.
King menyadari gerakan refleks Xena dari pandangan mata kosongnya.
"Dugaanku tidak salah!" kata hati King.
"Indra penciuman tuan muda Zhong Li sangat hebat. Pakaian baru ini memang sengaja diberi pewangi bunga beracun. Jika di hirup terus menerus akan membuat seseorang menjadi gila secara tiba-tiba," kata Xena.
"Ternyata begitu. Kira-kira berapa hari reaksi racunnya akan muncul? " tanya King.
"Tiga hari!" jawab Xena.
Xena tahu pakaian sutra itu baru saja dibawa oleh A Tu ke dalam kamar Zhong Li sehingga Zhong Li belum terkena efeknya.
"Xena akan menyingkirkan pakaian baru ini!" kata Xena.
"Tidak perlu! " kata King dengan tenang.
"Xena! Kamu bisa membuat racun yang sama dan obat penawarnya kan?" tanya King.
"Bisa, tuan muda Zhong Li!" kata Xena.
"Buatlah racun dan obat penawarnya sekarang! Pakaian baru nya tetap di biarkan saja di dalam lemari pakaian supaya Ming Lan tidak curiga. Aku yakin Ming Lan masih ada rencana lain terhadapku," kata King.
"Baik, tuan muda Zhong Li!" jawab Xena dengan patuh.
Hari demi hari di lalui oleh King dengan tenang tanpa gangguan dari siapa pun. Ming Lan rutin membelikan pakaian baru yang berbeda-beda untuk Zhong Li dan tentunya semua pakaian baru itu di cuci oleh A Mei dan A Tu yang menyimpannya ke dalam lemari pakaian.
"Dasar rubah tua! Tidak tanggung-tanggung meracuni Zhong Li setiap hari!" kata hati King .
King sudah makan obat penawar buatan Xena sehingga aroma wangi bunga beracun dari pakaian baru itu tidak ada pengaruh jelek terhadap tubuh King.
Di hari ketiga, Jendral Zhong Guo sudah berangkat pagi-pagi ke istana Kaisar Wang untuk membahas masalah aliansi perdamaian dari Kerajaan Xi Xia, Kerajaan Nan Yun dan Kerajaan Bei Ming.
King yakin hari ini Ming Lan pasti akan menjalankan rencana pamungkasnya karena Jendral Zhong Guo tidak ada di kediaman .
Beberapa saat kemudian A Tu mengetuk pintu kamar tidur Zhong Li.
"Tuan muda Zhong Li!" kata A Tu dari luar kamar.
"Masuklah!" jawab King dengan tenang.
"Ada apa pagi-pagi sudah mencari tuan muda Zhong Li?" tanya Hercules.
Hercules penasaran dengan A Tu yang masuk ke dalam kamar tidur Zhong Li dengan wajah panik.
"Nyonya Ming Lan mengundang pendeta Tao ke kediaman Jendral Zhong Guo untuk...untuk mengusir hantu air," kata A Tu dengan gugup sambil melirik ke arah King.
"Hantu air? Di mana?" tanya Hercules.
"Di tubuh tuan muda Zhong Li," jawab A Tu dengan suara kecil dan menundukkan kepalanya.
A Tu merasa bersalah terhadap Zhong Li karena dirinya harus menjalankan perintah dari Ming Lan. Padahal selama menjadi pelayan pribadi Zhong Li, A Tu yakin di tubuh Zhong Li sama sekali tidak ada hantu air seperti yang digosipkan beberapa waktu yang lalu.
"Ibu menyuruhmu membawaku keluar?" tanya King dengan santai.
"Iya!" jawab A Tu.
"Baiklah! A Tu! Kamu tuntun aku ke sana!" kata King.
***RUANG DEPAN KEDIAMAN JENDRAL ZHONG GUO***
A Tu menuntun King ke ruang depan kediaman Jendral Zhong Guo secara perlahan.
King melirik sekilas ke dalam ruangan. Ada sebuah meja altar yang berisi buah persembahan dan wadah dupa. Dua orang pendeta Tao berpakaian abu-abu berdiri di depan meja altar. Sedangkan Ming Lan dan Zhong Min duduk di kursi ruang depan untuk menunggu Zhong Li keluar.
"Zhong Li!" kata Ming Lan sambil berdiri dari tempat duduknya dan menghampiri King. Ming Lan merangkul lengan King dengan lengannya seolah-olah hubungan ibu dan anak antara mereka berdua sangat erat.
"Zhong Li! Tidak lama lagi kamu akan menikah dengan Putri Jing Mi. Tetapi gosip di luar tentang kamu kerasukan hantu air bisa merusak nama baikmu. Ibu sudah mengundang pendeta Tao dari Kuil Tao untuk mengusir roh hantu air dari tubuhmu. Ada atau tidaknya roh hantu air itu, kedua pendeta Tao ini pasti akan melakukan yang terbaik untuk keselamatanmu," kata Ming Lan panjang lebar.
"Baik, Ibu! Aku tidak mau Putri Jing Mi membatalkan perjodohan seperti Putri Xing Xing. Apa yang harus aku lakukan sekarang?" tanya King dengan panik
"Dasar bodoh! Mudah sekali di bohongi!" kata hati Ming Lan .
"Kamu duduk dekat meja altar. Kedua pendeta Tao ini akan membacakan mantera untuk mengusir roh hantu air," kata Ming Lan.
"Baik, Ibu!" jawab King dengan patuh.
Ming Lan menuntun King ke arah meja altar dan mendudukkan King di kursi yang berada tepat di depan meja altar. Kedua pendeta Tao menyalakan dupa dan menancapkannya di tempat dupa.
Asap dari dupa perlahan menuju ke arah King yang duduk tepat di hadapan meja altar. King bisa mencium dengan jelas aroma bunga racun dari dupa itu, yang merupaka aroma bunga yang sama di semua pakaian baru nya. Tetapi asap dari dupa ini memancarkan aroma bunga beracunnya sepuluh kali lipat.
"Ternyata tujuan Ming Lan adalah ingin melihatku menjadi gila secara tiba-tiba saat ini," kata hati King.
King duduk tenang dengan pandangan mata kosong. Sedangkan Hercules dan Xena berdiri tidak jauh dari tempat duduk King. Xena sudah memasukkan satu butir obat penawar ke mulut Hercules secara diam-diam tanpa sepengetahuan Ming Lan dan Zhong Min.
Xena menduga asap dupa itu pasti bermasalah dan mengandung racun seperti yang ada di pakaian baru Zhong Li.
King mencoba melirik sekilas wajah kedua pendeta Tao dengan pandangan mata kosongnya karena indra penciuman Zhong Li memberikan sinyal bahwa King mengenal kedua Pendeta Tao.
"A Tai dan A Shang?" kata hati King.
Selamat malam readers.
Hari ini author crazy up 3 bab ya.
Ini bab kedua. Di tunggu ya.
CRAZY UP TODAY CRAZY UP TODAY
CRAZY UP TODAY CRAZY UP TODAY
TERIMA KASIH
AUTHOR : LYTIE