
** Kamar tamu tempat Putri Jing Mi menginap***
Putri Jing Mi menatap luka berat di wajah kanannya dalam waktu yang lama. Luka yang didapatkannya dalam pertarungan melawan kerajaan lain lima tahun yang lalu.
Putri Jing Mi sama sekali tidak merasa malu dengan luka sayatan pedang di wajahnya. Pada awalnya Putri Jing Mi tidak berniat memakai topeng untuk menutupi lukanya.
Kaisar Wang lah yang meminta Putri Jing Mi memakai topeng wajah karena tidak tega melihat luka di wajah Putri Jing Mi yang di akibatkan oleh pertarungan melindungi Kerajaan Dong Wang.
Putri Jing Mi memegang luka sayatan pedang yang cukup panjang dari pipi atas ke pipi bawah di wajah bagian kanan. Luka ini sudah bersembunyi di dalam topeng selama lima tahun.
Beberapa saat kemudian, Putri Jing Mi membuka botol kecil yang diberikan oleh Xena tadi. Tetesan air dari bunga teratai salju bisa mengobati luka parah di kulit menjadi halus dan kembali ke kulit semula.
Tadi Xena sengaja menumbuk hancur bunga teratai salju dan menambahkan air tetesan embun serta bubuk mutiara supaya khasiatnya lebih sempurna.
Putri Jing Mi percaya dengan keahlian Xena dan yakin luka sayatan pedang itu pasti akan menghilang setelah satu minggu.
Putri Jing Mi menuang ramuan bunga teratai salju ke jari tangannya dan mengoleskannya secara perlahan ke luka di wajahnya.
Ramuan cairan itu terasa dingin dan langsung meresap ke dalam kulit wajah Putri Jing Mi yang terluka. Putri Jing Mi memakai kembali topeng wajahnya dan berjalan keluar dari kamar menuju ruang makan.
Kali ini mereka semua akan makan bersama di ruang makan Kuil Tao bersama beberapa pendeta Tao yang tinggal di sana.
***Ruang makan Kuil Tao***
Zhong Li alias King berjalan menuju ruang makan dengan di tuntun oleh A Tu.
Beraneka ragam makanan vegetarian hasil kreasi dari Hercules sudah di hidangkan di atas meja makan.
King duduk di sebelah Putri Jing Mi. Suasana hati King sangat senang. Selain karena dirinya sudah mempunyai tenaga dalam yang besar dan menguasai ilmu meringankan tubuh, juga karena dirinya mengenakan pakaian Tao berwarna hitam saat ini. Sama seperti yang dikenakan oleh Putri Jing Mi.
Ini pertama kalinya King mengenakan pakaian berwarna hitam, yang merupakan warna favoritnya sejak terperangkap di tubuh Zhong Li.
Di kuil Tao ini hanya tinggal empat orang pendeta Tao. Dua pendeta Tao senior yang bernama A Tai dan A Shang. Satu pendeta Tao muda yang membukakan pintu untuk King semalam, bernama A Lao. Serta seorang Tao kecil yang berusia sekitar tujuh tahun dengan nama A Jun.
Hercules, Xena, dan A Tu ikut bergabung dan makan bersama. Para pendeta Tao terlihat sangat dekat dengan Hercules. King menduga pasti Hercules yang cerewet membuat ke empat pendeta Tao mudah akrab dengannya. Masakan vegetarian Hercules sangatlah enak sehingga mereka memuji Hercules.
Dari ke empat pendeta Tao itu, King lebih tertarik dengan pendeta Tao kecil yaitu A Jun. A Jun mempunyai binatang peliharaan dengan bulu berwarna putih bersih. Pada awalnya King yang melirik sekilas dengan pandangan kosongnya mengira binatang itu adalah seekor anjing.
Beberapa saat kemudian King sadar bahwa binatang itu bukanlah anjing karena tidak mendengar suara gonggongan anjing sama sekali. Ternyata binatang kecil itu adalah serigala putih.
Serigala putih yang jinak dan duduk dengan tenang di samping A Jun. King penasaran bagaimana serigala putih bisa tinggal di Kuil Tao, di mana para pendeta semuanya makan makanan vegetarian. Di mana mereka mendapatkan daging untuk serigala putih itu?
Berbagai pertanyaan muncul di pikiran King. Putri Jing Mi seolah-olah bisa membaca pikiran King sehingga mengajukan pertanyaan itu kepada pendeta Tao.
"Di mana serigala putih ini mendapatkan makanannya?" tanya Putri Jing Mi ke A Jun yang sedang membelai kepala serigala putih.
"A Bai bisa mencari makanannya sendiri di luar Kuil Tao," jawab A Jun sambil tersenyum.
A Jun memberi nama serigala kecil itu A Bai yang berarti putih karena sekujur tubuh A Bai diselumuti bulu berwarna putih yang halus dan lembut.
"Serigala yang pintar," kata Putri Jing Mi.
A Bai melolong pendek setelah mendengar perkataan Putri Jing Mi.
"Putri Jing Mi! A Bai mengerti pujianmu," kata Hercules dengan antusias.
"Kamu menginginkan A Bai?"
Mata King membulat besar karena mendengar suara Putri Jing Mi di telinganya, tetapi mulut Putri Jing Mi terlihat jelas sedang mengunyah sayuran dengan santai.
"Telepati?" kata hati King secara spontan.
"Ini ilmu telepati." Suara Putri Jing Mi kembali menembus di telinga King lagi.
King semakin bersemangat karena tebakannya benar dan melirik sekilas ke arah Putri Jing Mi sambil menunggu perkataan Putri Jing Mi selanjutnya.
"Aku akan mengajarimu teori dan prakteknya," kata Putri Jing Mi melalui telepati.
King makan dengan lahap dan cepat karena sudah tidak sabar lagi belajar ilmu telepati dari Putri Jing Mi.
Waktu yang dimiliki oleh King untuk belajar bagaimana cara menggunakan tenaga dalamnya sangatlah singkat. King tahu Putri Jing Mi tidak bisa terlalu lama berada di Kuil Tao. Lagi pula dirinya juga harus segera kembali ke kediaman Jendral Zhong Guo sehingga King ingin menggunakan waktu sebaik-baiknya belajar ilmu dari Putri Jing Mi.
King menganggap Putri Jing Mi sebagai teman dekat maupun rekan kerjanya sekarang karena mereka berdua bekerjasama mengalahkan ular piton hitam di puncak Pegunungan Kunlun.
Putri Jing Mi mau mengajari King ilmu telepati sebagai tanda terima kasih atas empedu ular piton hitam yang diberikan oleh King kepadanya.
Putri Jing Mi yakin ilmu meringankan tubuh dan ilmu telepati yang diajarkannya akan sangat membantu King di kemudian hari.
***Kuil Tao***
King masih tertidur pulas di kamar tamu Kuil Tao. Semalam King berlatih ilmu telepati dengan Putri Jing Mi hingga larut malam.
Walaupun fokus ilmu telepati berpusat pada pikiran dan bukan kekuatan, King malahan merasa lebih lelah dibandingkan latihan dengan menggunakan kekuatan.
King bangun dari tidur pulasnya setelah matahari bersinar terik di siang hari. Hercules, Xena, dan A Tu tidak berada di dalam kamar.
"Lapar," kata King sambil memegang perutnya yang keroncongan.
"Hercules! Xena! A Tu!" King berteriak memanggil ketiga pelayannya. Akan tetapi, setelah menunggu lama, tidak ada satu pun yang muncul di hadapan King.
Beberapa saat kemudian King mendengar suara langkah kaki kecil sedang mendekati kamar tempat dirinya berada.
"Siapa?" kata hati King.
Suara langkah Hercules, Xena, dan A Tu sudah dihafal oleh King sehingga King yakin orang yang sedang mendekati kamar bukanlah para pelayannya.
King melihat ke arah lain dengan pandangan mata kosong dan menajamkan indra penciumannya.
"A Jun dan A Bai?" kata hati King.
King terkejut ketika menyadari A Jun, si pendeta Tao kecil dan A Bai, serigala putih yang di inginkannya sedang berjalan masuk ke dalam kamar.
***
Selamat malam readers. Bab ini author up pukul 23.00 WITA. Selamat membaca.
TERIMA KASIH
AUTHOR : LYTIE