One Night Stand With TUAN MUDA

One Night Stand With TUAN MUDA
Bonus Chapter


Setelah satu tahun tinggal bersama mama dan ayah sambungnya, Gea merasakan kebahagiaan yang selama ini ia harapkan. Meski saat awal ia tinggal dalam keadaan mental yang terganggu. Beruntungnya, berkat psikolog kenalan Diana dan tentunya Tuhan Yang Maha Kuasa, psikis-nya kembali normal.


Masa pemulihan yang ia lewati bersama orang-orang yang menyayanginya, sehingga ia tidak begitu lama terjebak dalam kondisi seperti itu. Di tambah lagi kehadiran Aiden, putra Ardy dan Jian yang membuat Gea pulih secara cepat.


Meski awalnya ia begitu membenci anak itu, tapi saat sudah lahir berbanding terbalik. Ia begitu menyukai anak kecil, Jian sering berkunjung ke rumah ayahnya bersama Aiden, dan Gea pun begitu senang saat bocah kecil itu datang ke sana. Gea sering mengajak Aiden berbicara, dan yang membuatnya gemas, bocah kecil itu merespon ucapannya dengan tawa yang membuat hatinya terasa tenang. Entah kenapa, tapi kenyataannya memang seperti itu.


Seperti sekarang, Jian sedang berkunjung ke rumah ayahnya. Tentunya bersama sang putra yaitu Aiden. Sementara Ardy harus pergi ke kantor seperti biasanya. Jian mengajak Aiden bermain di taman yang ada di belakang rumah tersebut, kebetulan ada Gea yang sedang duduk di bangku besi putih di bawah pohon rindang.


"Sedang apa, Gea?"


Pertanyaan Jian barusan membuat Gea menoleh kemudian tersenyum pada wanita yang saat ini duduk di sampingnya.


"Aiden mana?" Gea balik bertanya, sambil mencari keberadaan bocah kecil yang baru saja lancar berjalan.


"Aiden sama ibu, mau aku bawa ke sini?"


"Tidak usah, biarkan Aiden bersama neneknya saja," tolak wanita itu.


Mereka kembali diam, sampai akhirnya Gea menatap sayu Jian.


"Jian.." panggilnya lirih.


"Iya."


"Kau memiliki kehidupan yang sangat beruntung sekali. Kau memiliki keluarga yang memiliki cinta kasih, kau memiliki suami yang begitu mencintaimu, kau memiliki anak yang sangat lucu dan menggemaskan. Kau memiliki segalanya, Jian." Gea mulai memupuk cairan bening di balik pelupuk matanya.


Jian meraih buah tangan wanita di sampingnya, lalu menggenggamnya cukup erat seolah sedang menyalurkan kekuatan pada wanita itu.


"Kehidupan itu sudah di tentukan oleh Tuhan, Ge. Akupun pernah berada di posisi dimana aku merasa tidak punya siapa-siapa. Aku yakin, kau pun pasti akan menemukan seseorang yang bisa membuatmu bahagia. Percayalah!" tutur Jian.


"Dengan aku berada di antara kalianpun aku sudah sangat bahagia, Ji. Aku tidak butuh seseorang baru lagi. Aku takut jika harus menelan kekecewaan lagi. Bagiku, hidupku sudah cukup. Aku tidak butuh apapun lagi."


Air mata Gea mengalir begitu deras, tergambar jelas ketakutan dan rasa tarumanya selama ini.


"Iya, Ge. Yang terpenting untuk saat ini, kau harus pulih total. Kau harus buang ketakutan itu. Kau harus bisa memulai lagi dunia baru. Dunia kebahagian yang sebenarnya sedang menantimu."


"Terima kasih, Jian. Aku beruntung sekali memiliki saudara sepertimu. Meski kita tidak memiliki ikatan darah. Aku menyesal telah membencimu. Kau benar, kebencian telah menggelapkan hatiku. Kau wanita yang sangat baik, Ardy tidak salah menjadikanmu sebagai istrinya."


Jian membantu menghapus air mata Gea yang sudah mulai surut, sambil terus memberi wanita itu motivasi hidup. Sebab ia juga pernah berada di dasar keterpurukan.


Seorang bocah kecil yang sedang berlari mengejar kupu-kupu mengalihkan perhatian Gea. Ia lekas bangkit berdiri dari duduknya dan menghampiri bocah tersebut.


"Aiden, sayang. Bibi bantu ambilkan kupu-kupunya, ya!"


Bocah tersebut mengangguk seakan paham apa di katakan Gea. Perlahan Gea berjalan mendekati bunga yang tengah di hisap oleh kupu-kupu tersebut. Beruntungnya ia berhasil menangkap hewan bersayap indah tersebut.


Aiden tersenyum senang sambil bertepuk tangan, Gea berjongkok di depan Aiden kemudian memperlihatkan hewan yang baru saja ia tangkap.


"Kupu-kupunya indah ya, Den," ujar Gea dan bocah kecil itu mengangguk.


"Tapi dia pernah di anggap menjijikan," sahut seseorang dari belakang Gea.


"Makhluk itu juga pernah berjuang keras dalam hidup. Dia menjadi asing berada di dalam kepompong sendirian. Sedih menahan lapar. Sampai akhirnya Tuhan menggantikan kesedihan itu dengan memberinya sayap yang cantik, menjadikannya indah dan di sukai banyak orang. Begitulah kehidupan, kita harus bisa belajar dari makhluk kecil ini. Di balik kesedihan pasti akan ada kebahagiaan yang tak terhingga."


Gea bangkit berdiri di hadapan Jian, kemudian memeluk tubuh wanita yang baru saja memberikan kalimat motivasi hidup.


Jian melepaskan pelukan dan memegang erat kedua bahu Gea.


"Kau benar, Ge. Mulai sekarang, jangan lagi berlarut-larut dalam kesedihan. Sudahi kesedihanmu dan jemputlah kebahagiaan."


"Iya, Jian. Terima kasih banyak."


Gea menghapus air matanya menggunakan punggung tangannya.


Sementara Jian mengambil Aiden lalu menggendongnya. Saat mereka hendak pergi dari tempat tersebut untuk kembali ke dalam rumah, beberapa orang datang dengan membawa kue berukuran kecil dengan lilin angka satu.


"Happy birthday to you ... Happy birthday to you ... Happy birthday, happy birthday, happy birthday Aiden ... "


Ardy membawa kue tersebut dan berdiri di hadapan Aiden yang sedang di gendong oleh istrinya. Beberapa orang lainnya merupakan Damar, Mella, Lily, Daven dan juga Diana.


Jian merasa terharu, di hari ulang tahun putranya yang pertama di beri kejutan oleh orang-orang terdekatnya. Ia pikir suaminya lupa mengenai hari ulang tahun sang anak, tapi justru suaminya lah yang lebih dulu memberikan kejutan tersebut.


Sebelumnya Ardy memang sudah memiliki rencana, yaitu menghubungi Damar agar pria itu meminta Jian untuk datang ke rumahnya menemani Mella, sebab ia berdalih sibuk di toko furniture-nya. Kemudian Ardy tidak lupa menghubungi Daven untuk ikut memberi kejutan tersebut. Ardy juga menjemput ibunya, padahal ia mengatakan akan pergi ke kantor seperti biasa. Dan kue tersebut, sudah Ardy pesan 3 hari sebelumnya.


Jian benar-benar tidak menyangka Ardy akan melakukan hal tersebut. Ia sangat terharu akan hal itu.


"Happy birthday yang ke 1 tahun Aiden Gabriel Sanjaya, sayang," ucap Ardy lalu mendaratkan ciuman di kening putranya.


"Iya, selamat ulang tahun cucu oma," ucap Mella.


"Selamat ulang tahun cucu kesayangan opa."


"Selamat ulang tahun cucuku."


"Selamat ulang tahun Aiden," ucap Daven dan Diana bersamaan.


"Selamat ulang tahun keponakan bibi tersayang," ucap Gea.


Semuanya memberikan ucapan selamat, Aiden sendiri pun tersenyum bahagia di kelilingi oleh orang-orang yang menyanyanginya.


"Tiup lilinnya, sayang," ujar Ardy sembari mengurung api di lilin kuenya menggunakan sebelah tangan, sebab api tersebut goyang tertiup angin.


Jian membantu Aiden untuk meniup lilin tersebut, tak lupa, Diana mengabadikannya lewat ponsel sesuai permintaan Ardy.


"Horeeee...." sorak mereka saat api lilin sudah padam.


Semua terlihat bahagia sekali, dan Gea memegang kupu-kupu yang masih di tangannya ke udara.


"Semoga kita semua bahagia, bawalah kesedihanku, kesedihan kami, semoga kesedihan ini terganti menjadi kebahagiaan yang menetap dan menjadikan kehidupan yang indah seperti sayapmu. Terbanglah kupu-kupu!"


Kupu-kupu tersebut pun langsung mengepakan sayap indahnya kembali saat Gea melepaskannya. Terbang tinggi sampai tidak bisa di jangkau oleh mata.


___


Mudah-mudahan bonus chapter-nya menghibur. Dan jangan lupa langsung cussss mampir ke novel baruku yang judulnya DARK WIFE MR. JEF


Salam hangat,


Wind Rahma