One Night Stand With TUAN MUDA

One Night Stand With TUAN MUDA
Muntahan


Beberapa hari berada di Rumah Sakit, hari ini Jian sudah bisa di bawa pulang dengan kondisi baik-baik saja. Namun, wanita tersebut belum juga mengetahui kehamilannya.


Saat mobil yang di kemudikan Ardy tiba di halaman rumah orang tua Jian, pria itu membawa tubuh Jian keluar dari mobil dengan membopongnya. Kemudian membawa Jian masuk ke dalam rumah serta membaringkannya di kamar wanita itu.


Damar dan Mella berjalan di belakang mereka, ikut masuk ke dalam kamar.


"Nak, istirahat yang cukup, ya! Jangan banyak bergerak dulu!" pesan Damar pada putrinya, pria paru baya itu tidak mau jika hal seperti kemarin terulang.


"Ya, ayah," jawab Jian, nada bicaranya masih terdengar lemas.


"Ma, tolong buatkan bubur untuk Jian, ya! Mama tidak keberatan, kan?" pinta Damar pada Mella.


Dengan berat hati Mella mengangguk. "Ya," jawabnya, lalu bergegas keluar dari kamar Jian.


"Nak Ardy, Jian, ayah tinggal keluar sebentar, ya!" pamitnya.


"Ya, ayah."


"Ya, paman," jawab Ardy bersamaan dengan Jian.


Saat tidak ada orang laim selain dirinya dan Jian, mungkin sudah tiba waktunya Jian tahu soal kehamilannya. Sebab ini sudah bukan lagi rahasia.


Ardy yang duduk di tepi ranjang tempat tidur Jian menggerakan tangannya memberi sentuhan lembut di puncak kepala Jian.


"Jian.." ucapnya lirih, membuat Jian sedikit mendongak.


"Hm?"


"Aku ingin mengatakan sesuatu padamu, tapi kau harus janji, ya!"


Jian mengerutkan dahinya. "Mengatakan apa? Kenapa harus berjanji?"


Ardy menghela napas panjang dan terdengar berat. "Ya, kau harus janji. Janji untuk tetap tenang saat mendengar apa yang aku katakan."


Jian terdiam, sebenarnya apa yang ingin di katakan pria itu, sampai dirinya harus berjanji. Kemudian Jian menganggukan kepalanya lemah. Saat itu juga Ardy mulai menyusun kata, darimana ia harus mengatakannya.


"Sebelumnya aku ingin bertanya sesuatu dulu padamu, apa kau merasakan sesuatu yang aneh dalam perutmu?"


Jian menggeleng. "Tidak. Hanya saja, aku sedang menunggu bulanku yang terlambat datang."


"Apa kau tidak pernah berpikir sesuatu, kenapa kau terlambat datang bulan?" tanya Ardy lagi.


"Berpikir apa? Ya mungkin memang belum datang saja," jawab Jian kelewat polos, seharusnya dia panik saat mengetahui jika siklus menstruasinya telat.


"Lalu apa kau masih penasaran, mengapa aku memintamu berhenti bekerja dan menjadi istriku?"


"Mm.." Jian tampak berpikir. "Mungkin kau mencintaiku?"


Ardy tersenyum mendapat jawaban Jian, ia menyubit ujung batang hidung mancung milik Jian.


"Kenapa kau tersenyum? Apa aku salah berbicara, ya? Mana mungkin juga kau mencintai wanita sepertiku." Jian tampak menyesali ucapannya tadi.


"Kenapa tidak mungkin? Di bumi ini tidak ada yang tidak mungkin, Jian."


Ucapan Ardy barusan membuat Jian tampak gugup, dan lihatlah pipinya sekarang, sudah merona merah.


Ardy membantu Jian bangun dan duduk menyandar di kepala ranjang. Ia menatap lekat-lekat wanita di hadapannya seraya menangkup kedua pipi wanita tersebut.


"Aku mencintaimu, Jian. Sebentar lagi kita akan menikah, sebab rahimmu tengah mengandung anakku. Anak kita."


Kedua mata Jian melebar, sekujur tubuhnya terasa kaku. Ia mencoba memastikan apa pendengarannya saat ini masih berfungsi dengan baik.


"M-maksudmu ... Ak-aku .. Aku hamil?" tanya Jian terbata.


Entah harus merasa senang atau apa, yang pasti Jian masih shock mendengar apa yang baru saja pria itu katakan.


"Apa ayahku mengetahui hal ini?" tanya Jian merasa takut.


"Ayah dan ibumu sudah tahu saat kau mengalami pendarahan kemarin," jawab Ardy.


"Benarkah? Tapi kenapa ayah masih bersikap baik padaku? Apa ayah tidak marah? Apa ayah tidak memarahimu?" tanya Jian berbondong-bondong.


"Aku juga tidak tahu. Awalnya ayahmu juga shock mendengar ini, aku pikir ayahmu akan marah padaku dan akan menamparku lagi bahkan mengajarku. Tapi nyatanya tidak, ayahmu berhati lembut, dia menerima apapum yang terjadi tanpa menyalahkan takdir," ujar pria itu.


Setidaknya itu membuat Jian merasa lega, namun yang ia khawatirkan saat ini, apa dia bisa menjalani hari-harinya setelah ini. Pasalnya ia mengandung dalam waktu yang belum siap. Tapi ia akan berusaha menerima semua ini, meski terasa begitu berat.


"Jadi aku akan menjadi istrimu, dan kau menjadi suamiku?" tanya Jian lagi, rasanya masih ragu.


"Ya, aku akan segera melangsungkan pernikahan kita sebelum perutmu benar-benar membesar," jawab Ardy mantap.


"Tapi bagaimana dengan wanita itu, dia pasti akan marah sekali padaku."


Jian begitu menkhawatirkan masalah Gea. Mendengar ucapan Jian, juga menimbulkan sedikit kekhawatiran dalam benaknya, ia takut jika sewaktu-waktu Gea akan nekad melakukan apapun pada Jian, sebab wanita itu masih tidak terima harus putus dengannya.


"Tidak usah cemas, Jian! Aku akan memastikan jika dia tidak akan bisa lagi menyentuhmu, apalagi membuatmu terluka," tutur Ardy.


Pria itu menarik tubuh Jian, lalu mendekap tubuh mungil wanita tersebut. Lagi-lagi tangannya membelai lembut rambut Jian, dengan mendaratkan ciuman singkat di pucak kepala wanita itu.


"Berhentilah bermesraan, nanti dia hamil lagi!" ujar seorang wanita yang tiba-tiba masuk ke dalam kamar Jian.


Ardy langsung melepaskan pelukannya mendengar suara wanita yang tak asing di telinganya.


"Ini buburnya," Mella memberikan semangkuk bubur di tangannya pada Ardy, agar pria itu yang menyuapi Jian.


"Cepat sembuh, agar kau tidak merepotkanku lagi," imbuh wanita itu.


"Terima kasih, bu," ucap Jian, ini pertama kalinya Mella memberikan sebuah perhatian kecil padanya selama menyandang status ibu sambungnya.


Tanpa membalas, Mella pun keluar lagi dari kamar Jian. Memergoki anak sambungnya tengah bermesraan membuatnya juga ingin melakukan hal seperti itu lagi bersama Damar. Bahkan ia lupa, kapan terakhir kalinya di sentuh oleh suaminya itu.


"Makan yang banyak, ya, Jian, kau harus sehat, agar anak yang ada dalam kandunganmu juga sehat!" ujar Ardy seraya menyuapi Jian.


"Ya, tuan," jawab Jian berusaha menurut, bagaimana pun juga, pria yang merupakan bosnya di kantor itu sebentar lagi akan menjadi suami sekaligus ayah dari calon buah hatinya.


Baru beberapa sendok bubur masuk ke dalam mulut Jian. Tiba-tiba saja wanita itu kembali merasakan mual.


"Kenapa, Jian?" tanya Ardy saat Jian tak menerima suapan buburnya, justru malah menutup mulutnya dengan menahan sesuatu.


Dengan cepat Jian menggeleng, lantaran ia tidak mau membuat Ardy cemas. Tapi rasa mualnya semakin tak tertahankan. Sampai akhirnya ia memuntahkan kembali apa yang baru saja ia makan.


"Hoeks .. hoeks ..."


Dan muntahan itu tumpah ke dalam pangkuan Ardy.


Setelah puas mengeluarkan isi perutnya, Jian mendongak dengan raut wajah penuh rasa bersalah


"Maaf..!" ucap Jian.


Ardy yang melihat muntahan tersebut dalam pangkuannya langsung menahan jijik dalam-dalam. Ia berusaha tersenyum pada Jian, meski rasanya berat.


"Tidak apa-apa, Jian!" ucapnya sambil menahan mual juga.


Bersambung...


___