
Seorang gadis mendapati pria yang tengah duduk termenung di bangku besi menghadap gelapnya langit malam yang membentang begitu luas. Gadis tersebut memutuskan menghampiri pria tersebut kemudian ikut duduk di sampingnya.
"Aku tahu sekacau apa perasaanmu saat ini," pria tersebut menoleh terkejut dan baru menyadari jika ada orang lain yang bersamanya.
"Diana!" ujar pria itu lirih.
Gadis yang di ketahui bernama Diana itu mengulas senyum pada pria di sampingnya.
"Iya, Dav. Aku sudah tahu mengenai apa yang terjadi dengan keluargamu," terang gadis itu.
Daven menghela napas yang terdengar berat seraya mengusap wajah yang menengadah ke atas langit.
"Kamu harus kuat, Dav. Kamu harus ikhlas. Semua yang terjadi di dunia ini sudah di tetapkan oleh Yang Maha Kuasa," tutur Diana.
Daven menoleh pada gadis yang berada di sampingnya. Ia memperhatikan baik-baik wajah teman masa kecilnya yang dari segi penampilan maupun cara bicranya sudah jauh berbeda.
Dulu, Diana dan Daven begitu dekat semasa kecilnya. Sampai akhirnya Diana harus melanjutkan pendidikan di luar negeri, yang membuat mereka harus terpisah. Dan sekarang, saat pendidikan gadis itu sudah selesai, bahkan Diana sudah merintis bisnis, dia kembali ke Tanah Air. Selain cantik, Diana juga merupakan gadis yang pintar.
"Terima kasih, Diana," ucap pria itu.
"Sama-sama," balasnya di sertai senyuman yang terlihat manis, lesung pipit di pipi kanannya yang tidak terlalu dalam menambah pesona kecantikan gadis itu.
"By the way, kau kapan kembali ke Indonesia? Dan darimana kau tahu jika aku di sini?" tanya Daven setelah beberapa saat keheningan menyelinap.
"Aku sudah pulang sekitar 3 hari yang lalu, dan aku memilih untuk usaha di Indonesia saja. Dan begitu aku tahu mengenai masalah yang menimpa keluargamu di sosial media, aku berpikir jika kamu pasti sangat hancur. Lalu aku memutuskan datang ke sini karena aku tahu, ini tempat yang sering kamu datangi sewaktu kecil. Dan benar kan, kamu ada di sini," jelas Diana menciptakan ukiran senyum di bibir Daven.
"Ternyata kau masih mengingatnya?"
"Tentu saja," jawab Diana.
"Aku pikir kau sudah lupa jalan pulang ke Indonesia, karena selama bertahun-tahun kau tidak pernah menginjakkan kaki lagi di tempat kelahiranmu."
"Kata siapa?"
Daven mengerutkan keningnya, mengubah posisi duduknya menjadi menghadap gadis itu secara miring.
"Memang benar kan?"
"Selama aku di Perancis, aku sudah pulang kesini sekitar 3 kali."
"Karena kamu gak berusaha mencari tahu."
Jawaban Diana membuat Daven tersadar, jika selama ini ia hidup dengan kesibukannya sendiri. Bahkan saat papanya ternyata menjadi pelaku atas apa yang menimpa ibu Ardy, ia pun tak tahu.
"Diana," panggil Daven lirih.
"Hm?"
"Kau masih tinggal di rumahmu yang lama?" tanya Daven penasaran.
Gadis itu mengangguk. "Iya, kenapa memangnya?"
"Sendiri?"
"Iya."
"Kenapa gak tinggal sama aku aja, aku juga sendiri sekarang. Kan lumayan buat teman ngobrol," goda pria itu.
Diana tertawa kecil. "Emangnya boleh? Kalau boleh, sih, ya hayu-hayu aja. Asal kamu tanggung aja makan sama jajan aku," balas gadis tersebut.
"Emang kau masih suka jajan?"
"Suka dong."
"Ya sudah, tinggal di rumah aku aja."
"Jadi beneran mau nanggung makan sama jajan aku?" tanya gadis itu memastikan.
"Tidak, kalau kau lapar, pulang dulu saja ke rumahmu. Dan kalau mau jajan, beli saja sendiri," jawab Daven menciptakan gelak tawa di antara mereka.
"Haha.. Dasar!"
Obrolan kecil mereka pun berlanjut, sampai akhirnya Daven bisa sejenak melupakan luka di hatinya. Dalam segi fisik Diana memang banyak berubah, tapi gadia itu tetap sama dengan Diana yang di temuinya sejak masih kecil. Gadis itu suka bercanda, asyik jika di ajak ngobrol, dan mereka sefrekuensi.
Bersambung...