
Pagi ini Jian mendapat kabar jika hasil observasi jantung ayahnya sudah keluar. Ia bersama Ardy dengan cepat pergi menuju tempat dimana ayahnya berada.
Sesampainya di sana, mereka mendapati Mella yang tengah membaca hasil observasi tersebut. Dan begitu Mella menyadari bahwa Ardy dan Jian berada di sana, ia langsung memberikan kertas tersebut pada mereka.
"Bagaimana hasilnya, bu?" tanya Jian penasaran.
"Baca saja!" jawab wanita itu.
Jian pun membacanya bersama Ardy, seorang Dokter spesialis jantung yang menangani Damar menghampiri. Keduanya segera berdiri usai membaca isi dari selembar kertas tersebut.
"Dok, jadi selanjutnya bagaimana?" tanya Ardy mewakili semuanya.
Dokter Jasson menghela napas panjang seraya tersenyum. "Pihak kami akan melakukan tindakan medis sesuai hasil observasinya. Dan kalian tidak usah khawatir, semua pasti akan berjalan dengan semestinya. Sebab jantung tuan Damar belum terlalu kronis," jelasnya.
Ardy, Jian, serta Mella lega mendengarnya.
"Lakukan yang terbaik untuk ayah saya, Dokter!" pinta Jian.
"Ya, Dok. Lakukan yang terbaik," timpal Mella.
Dokter Jasson mengangguk. "Ya, tenang saja. Pihak kami akan melakukan yang terbaik, dan kami akan melakukan tindakan siang ini. Mudah-mudahan semua berjalan dengan semestinya."
"Semoga saja," ucap mereka serempak.
Dokter Jasson pun pergi dari hadapan mereka. Setidaknya berita ini membuat Ardy dan Jian merasa lebih tenang. Dan mereka akan segera menceritakan tentang kebenarana usai Damar benar-benar pulih total.
"Tuan, aku ingin bertemu dengan ayahku sebelum Dokter Jasson dan tim nya melakukan tindakan pada ayah," pinta Jian pada Ardy.
"Ayo, aku temani."
Kemudian mereka berdua masuk ke dalam ruangan Damar, sementara Mella memilih menunggu di luar.
Di dalam, Jian mendapati ayahnya tengah berbaring dengan beberapa alat medis yang sudah terpasang sebelumnya. Meski Dokter Jasson sudah mengatakan tidak usah cemas, tetap saja ia mencemaskan sosok sang ayah.
Damar bangun saat menyadari putrinya masuk ke dalan ruangannya. Ardy dan Jian segera mencegah pria paruh baya tersebut untuk bangun, biarkan Damar tetap tidur dan beristirahat guna mempersiapkan tindakan medis selanjutnya yang akan Dokter Jasson ambil.
"Ayaah ..." Jian meraih buah tangan ayahnya dengan selang infusan terpasang di punggung tangan sedikit keriput itu.
"Nak, kenapa menangis?" tanya Damar sedikit serak.
Jian melihat ke atas langit-langit guna mencegah air mata yang sudah mengumpul di pelupuk matanya agar tidak turun. Sebenarnya Jian bukan mengkhawatirkan tindakan medis yang akan di lakukan Dokter Jasson pada ayahnya, tapi ia khawatir jika ayahnya nanti pulih total itu artinya ia akan menceritakan kebenaran itu pada ayahnya. Ia takut ayahnya akan sedih, kecewa, dan itu pasti.
"Tidak apa-apa, ayah! Aku hanya menangis bahagia, sebentar lagi ayah akan sembuh, ayah akan sehat," nada suara Jian terdengar menahan isak.
Damar menaruh buah tangannya yang satunya lagi di atas punggung tangan putrinya. Kemudian tersenyum.
"Do'akan saja, nak!" ucap pria tersebut.
Jian mengangguk. "Itu pasti, ayah. Aku akan selalu mendo'akanmu."
Ardy yang menyaksikan percakapan seorang anak dan ayah merasakan haru. Ia menundukan kepalanya, mengingat baik-baik moment seperti itu dengan ayahnya dulu. Tanpa ia sadari, air matanya menetes membasahi pipi. Ardy segera menyeka air bening tersebut agar Jian dan Damar tidak sampai melihatnya.
🌷🌷🌷
Tepat pukul 11 siang, Damar di pindahkan ke ruang lain untuk melakukan tindakan medis yang harus tim Dokter Jasson lakukan. Jian, Ardy, serta Mella merapalkan do'a di hati masing-masing seiring tindak medis itu berjalan.
Dan tepat pukul satu, semua berjalan dengan lancar. Dokter Jasson dan tim keluar dari ruangan dengan senyum mengembang, sepertinya mereka membawa kabar baik.
"Bagaimana, Dok? Apa semuanya berjalan dengan lancar? Apa ayah saya baik-baik saja? Ayo, Dokter, katakan!" tanya Jian memburu.
"Bersabarlah, Jian!" bisik Ardy betusaha menenangkan wanita di sampingnya.
"Ya, nona. Tenanglah! Alhamdulillaah, seperti yang saya perkirakan, semua berjalan dengan semestinya," jawab Dokter Jasson membuat semuanya mengucapkan hamdalah berusaha bersyukur.
"Maaf, untuk saat ini belum bisa. Tuan Damar harus kami pindahkan lagi satu jam mendatang ke ruangan sebelumnya. Nanti, kalian semua baru bisa menemuinya," terang sang Dokter, semua mengangguk paham.
Akhirnya mereka menuruti apa saja yang di katakan Doktet Jasson. Yang terpenting, Damar bisa secepatnya pulih total.
🌷🌷🌷
Ardy melihat wajah Jian kini tampak memucat. Sepertinya wanita itu butuh istirahat. Melihat hal tersebut, perasaannya mulai cemas, apalagi saat Jian tampak menahan mual sejak tadi.
"Jian, kau tidak apa-apa?" tanya Ardy cemas.
Jian menggeleng. "Aku baik-baik saja, tuan," jawab Jian berusaha tersenyum meyakinkan pria yang kini tengah duduk di sampingnya.
Meski Jian mengatakan baik-baik saja, Ardy tahu jika wanita itu tengah tidak baik-baik saja. Tak ingik sesuatu buruk terjadi, Ardy mengajak Jian untuk pulang.
"Kita pulang saja, ya!" ajak Ardy kini sudah beranjak dari duduknya.
"Tidak, aku masih ingin di sini. Aku ingin memastikan apa ayahku sudah membaik," tolak wanita itu.
"Besok kita bisa kesini lagi, Jian. Aku yakin kau pasti sedang tidak baik-baik saja. Pikirkan kesehatanmu juga, ya!"
Jian terdiam, pria itu memang benar, jika dirinya memang merasa lelah. Dan ia masih tidak sadar akan penyebab yang membuat dirinya mudah lelah seperti ini.
"Baiklah," kata Jian pasrah.
"Ayo!"
Ardy membantu membangunkan Jian dengan merengkuh kedua bahu wanita tersebut, namun ketika berdiri, tubuh Jian nyaris ambruk.
"Jian kau tidak apa-apa?" Ardy begitu mencemaskan Jian yang kini tengah memegang kepalanya yang terasa pusing kunang-kunang.
"Kepalaku sakit sekali, tuan," rintihnya sembari memejamkan kedua mata.
Lantaran Jian tak memungkinkan berjalan, pria itu langsung mengangkat tubuh Jian kemudian membopongnya menuju mobil.
"Tuan, apa yang kau lakukan?" seru Jian setengah terkejut.
Ardy sama sekali tidak menggubris pertanyaan Jian. Ia tetap berjalan membawa tubuh mungil itu ke dalam mobilnya.
"Turunkan aku, tuan! Aku bisa berjalan sendiri," pinta wanita tersebut sama sekali di hiraukan oleh Ardy.
Sampai di mobil, Ardy mendudukan Jian di bangku depan. Dengan cepat ia berjalan mengitari mobil lalu masuk dan menancap gas berlalu dari sana. Tadinya ia akan membawa Jian ke Rumah Sakit ke Dokter Kandungan, tapi ia takut jika Jian mengetahui kandungannya sebelum ia mengatakan di waktu yang tepat. Akhirnya ia memilih membawa Jian ke Unit Apartmennya lagi saja.
...Bersambung......
___
...Jangan lupa untuk tetap dukung Novel ini!...
...Kumpulin POIN dan VOTE...
...sebagai dukungan kalian!...
...Dengan cara klik HADIAH dan...
...klik gambar kopi ☕☕☕atau gambar ❤️...
...Tambahkan ke rak favorit, ya. Supaya kalian dapat notifikasi ketika bab selanjutnya publish😊...
...Follow ig @wind.rahma...