
Jian duduk di lantai samping tempat tidurnya sambil memeluk kedua lutut. Air matanya berjatuhan dan tidak mau berhenti sejak tadi. Ia merasa tidak adil atas takdir yang di tetapkan untuknya.
Mendapat perlakuan buruk dari sang ibu tiri saja, membuatnya hampir menyerah. Kini di tambah lagi ia harus di perlakukan sesuka hati oleh pria yabg tak berperasaan.
Jian mengabaikan panggilan masuk dari Daven puluhan kali. Saat ini ia tidak ingin di ganggu oleh siapapun. Ia hnya ingin menangis. Srtidaknya dengan menangisbeban pikiran terasa sedikit terangkat. Benarkan?
Setelah puas menangis, Jian membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur dengan posisi meringkuk.
Bermimpi indah merupakan satu-satunya harapan di tengah kenyataan hidup yang pahit.
Sementara di sofa, Ardy terus menatap ke arah pintu kamar Jian. Ia berpikir bahwa ucapan wanita tersebut ada benarnya juga. Ia tidak berhak mengatur hidup Jian. Tapi pikirannya saat ini tidak sedang bersinkron dengan hatinya. Sebab hatinya masih tidak rela jika Jian harus terlepas dari kehidupannya begitu saja. Apa dia mulai tertarik pada Jian?
Tidak! Pikiran itu segera di tepis kasar oleh Ardy. Lagipula ia masih memiliki Gea, wanita yang ia cintai. Selain bisa memberinya cinta, Gea juga mampu memuaskan birahinya. Jadi untuk apa terlalu memikirkan apalagi sampai mengkhawatirkan wanita yang hanya sebatas karyawannya begitu berlebihan.
Lagipula, Jian hanya ia jadikan sebagai pemuas hasrat jika Gea sedang tidak ada. Dan akan terus seperti itu.
🌷🌷🌷
Pagi harinya. Jian tidak menemukan Ardy di Unit Apartemen. Mungkin pria itu sudah berangkat lebih dulu dengan meninggalkannya. Sebab biasanya mereka akan berangkat bersama dan Jian akan akan turun seratus meter sebelum sampai gedung kantor.
Semalam Daven mengiriminya pesan mengajak berangkat ke kantor bersamanya. Dan Jian baru membacanya tadi saat baru bangun tidur. Awalnya ia enggan menerima tawaran pria tersebut dengan alasan segan pada Alana. Tapi jika ia harus naik taksi online pasti akan menguras isi dompet. Dan ia tidak akan bisa mengumpulkan uang untuk mengganti kerugian perusahaan sesuai niatnya tadi malam.
Saat sampai di parkiran Apartemen, Jian melihat Daven tengah menunggunya sambil bersandar di body mobil. Pria itu mengembangkan senyum manis khasnya.
"Selamat pagi, nona," sapa Daven sedikit menggoda.
Jian mengulas senyum hambar. "Pagi," balasnya.
Kemudian Daven membukakan pintu mobilnya untuk Jian. Wanita tersebut pun masuk seraya mengucapkan terima kasih. Daven pun ikut masuk ke dalam mobil tempat kemudi. Sedetik kemudian mobil melesat dari tempat tersebut.
"Orang cantik, jelek kalau cemberut," goda Daven, membngunkan Jian dari segala pemikirannya.
Jian mengulas senyum singkat. "Aku memang jelek, Dav. Makanya aku sering di perlakukan tidak baik oleh orang-orang."
Daven menoleh wanita di sampingnya yang mengenakan stelan formal terkesan norak. Sorot matanya jatuh pada pakaian berwarna putih polos dan gombrang. Meskipun demikian, tidak menenggelamkan bagian yang menonjol di dada besar Jian.
"Seperti jam kantor biasa," jawab Jian, Daven pun mengangguk.
"Nanti aku jemput."
Dengan cepat Jian melambaikan tangannya. "Tidak usah! Aku bisa pulang sendiri. Lagipula, aku tidak ingin merepotkanmu."
"Tidak apa-apa, Jian. Beri tahu aku jika jam pulangmu sudah dekat!" pinta Daven sedikit memohon.
Jian mengangguk pelan. "Iya. Terima kasih sudah mengantarku, Daven!"
"Sama-sama."
Wanita itu lantas turun dari mobil Daven. Ia melambaikan tangannya pada saat mobil tersebut akan kembali melaju. Seulas senyum terukir di bibirnya, namun seketika pudar pada saat pandangannya tertuju pada Alana yang baru saja keluar dari taksi online.
Bersambung...
___
Sambil nunggu UP mending baca dulu novel saya yang judulnya TERJERAT IKATAN PERNIKAHAN.
Jangan lupa juga untuk:
👍Tinggalkan Like
📝Komentar
❤Masukan rak buku favorit
📦Beri Hadiah
Jangan lupa untuk follow akun media sosialku:
IG: wind.rahma