
Tidak terasa, satu minggu kemudian. Ini merupakan hari dimana Ardy dan Jian akan menyandang status sebagai suami istri. Pesta pernikahan mereka di gelar secara sederhana, hanya orang-orang tertentu saja yang datang di acara mereka. Tidak ada kalangan petinggi ataupun pengusaha besar kenalannya. Hanya di hadiri oleh pihak keluarga, sahabat, serta tetangga. Itu juga tidaklah banyak.
Seperti biasanya, seorang tetangga pasti akan memerbincangkan saat anak tetangganya menikah dalam waktu mendadak. Apalagi yang menjadi topik pembahasan mereka yaitu calon suami Jian. Pria tampan, mapan, bisa memilih seorang wanita yang terlahir dari keluarga sederhana. Itu semua asti ada apa-apanya.
Acara pernikahan mereka tak terlepas dari kehadiran Daven, pria yang saat ini duduk di bagian paling belakang itu harus menelan kekecewaan yang mendalam. Menyaksikan wanita yang kita cintai bersanding dengan pria lain bukanlah hal mudah, perlu ketegaran yang luar biasa.
Saat semuanya tampak sudah siap, sepasang pengantin pun sudah berada di depan penghulu. Itu artinya, acara akan segera di mulai.
Jian tampak cantik dengan gaun hasil design Revita. Riasan wajahnya yang tidak terlalu tebal membuatnya tampak cantik natural. Hanya polesan-polesan kecil yang sengaja Jian minta pada seorang perias wajahnya.
Ardy pun tampak tampan sekali, ketampanannya menjadi pusat perhatian para tamu undangan wanita yang hadir saat ini.
Terlepas dari itu semua, ada Damar yang merupakan ayah Jian terlihat sangat berat melepas putrinya. Tapi bagaimanapun juga, ia harus ikhlas. Sebab anak hanya titipan belaka.
Waktu sudah tepat menunjukkan pukul 9 pagi, acara ijab kobul pun di mulai. Ardy begitu lantang mengucapkannya tanpa di tuntun, dan mereka pun akhirnya sah menjadi sepasang suami istri. Kemudian acara sungkem pun di lakukan.
Usai acara ijab kobul dan sungkem selesai, para tamu undangan di persilahkan untuk menikmati hidangan yang sudah di siapkan. Beberapa lainnya turut mengucapkan selamat kepada sepasang pengantin yang tengah duduk di kursi pelaminan.
"Selamat ya, akhirnya kalian sah menjadi suami istri," ucap Daven dengan nada bicara terdengar berat.
"Terima kasih, Dav. Mudah-mudahan kau cepat menyusul," jawab Ardy.
Daven hanya tersenyum singkat, pandangannya kini beralih pada wanita yang berada di samping temannya.
"Jian, selamat, ya!" Daven mengulurkan tangannya pada wanita tersebut.
Jian pun menjabat tangan Daven. "Ya, Dav. Terima kasih," ucap Jian sedikit canggung.
Bagaimana pun juga, Daven pernah menjadi bagian terbaik dalam kehidupannya. Saat semua orang memperlakukannya dengan tidak layak, justru pria itu memperlakukannya bagaikan ratu. Tapi semua itu berakhir pada malam ketika Daven menciumnya.
"Ekhem.." dehaman Ardy mengeluarkan Daven dari segala pemikirannya, dengan cepat dia melepaskan tangannya yang masih berjabat dengan Jian.
"Oh, ya, Dy. Aku sekalian ingin menyampaikan informasi padamu, jika sidang kasus Alana sudah di putuskan. Hakim memberi Alana hukuman yang pantas ia dapatkan," ujar Daven memberi tahu.
"Sungguh? Hukuman mati kah?" tanya Ardy penasaran, Jian pun ikut tertarik mendengarkan.
"Pidana seumur hidup."
"Kenapa tidak di hukum mati saja, sih?" ujar pria itu tidak terima.
"Tidak apa-apa, yang penting Alana mendapatkan hukumannya. Mudah-mudahan dengan dia di beri kesempatan hidup, dia bisa memperbaiki semuanya," tutur Jian.
"Tapi, Jian-"
"Tidak usah terlalu memikirkan Alana, ini hari kebahagiaan kita," potong Jian.
"Ya, aku setuju. Yang terpenting Alana mendapat hukuman yang setimpal, meski tidak sesuai dengan apa yang kita harapakan," sahut Daven.
Sebenarnya Ardy masih tidak terima dengan keputusan hakim seperti yang Daven sampaikan, tapi mau bagaimana lagi, itu sudah menjadi keputusan yang tidak dapat di ganggu gugat.
🌷🌷🌷
Ini merupakan malam pertama bagi Ardy dan Jian setelah menyandang status sebagai suami istri. Dan Ardy membawa istrinya itu ke Apartemen, sebab ia segan jika harus tinggal bersama orang tua Jian.
"Ya, tuan," jawab Jian tersipu.
"Jangan memanggilku tuan, Jian. Aku ini kan suamimu, bukan atasanmu."
"Lalu aku harus memanggilmu dengan sebutan apa?" tanya Jian sedikit gugup.
Ardy terdiam tampak berpikir, sebutan apa yang kira-kira pantas untuknya.
"Mm.. Panggil sayang saja!" pinta Ardy dengan manja.
"Tapi, tuan-"
"Panggil sayang, Jian.." ujarnya sambil menyubit sebelah pipi gemoy istrinya.
Pipi tersebut berubah menjadi kemerahan, bukan karena Ardy terlalu keras menyubitnya, tapi karena ia tersipu malu.
"I-iya, s-sayang," ujar Jian canggung.
Ardy tersenyum di buatnya, sebab ini merupakan pertama kalinya Jian menyebutnya dengan sebutan demikian. Meski tidak ada pernyataan sayang Jian untuknya, Ardy yakin jika dalam hati Jian memiliki perasaan yang sama dengannya. Hanya saja mungkin istrinya tidak ahli menyatakan seputar perasaan. Biarlah, tak perlu kata-kata romantis untuk mengatakan sebuah perasaan, yang terpenting tindakan.
Malam ini kota Jakarta di guyur dengan hujan deras, guntur serta petir pun ikut datang melengkapi. Dan suara guntur yang begitu keras menyelinap ke keheningan kamar Ardy, membuat Jian menghambur dalam pelukan pria itu.
"Aku takut.." ucap Jian dalam dekapan Ardy.
"Tidak usah takut, sayang. Ada aku," ujar Ardy menenangkan.
Bulir keringat dingin mengalir di dahi Jian seiring kerasnya suara guntur. Serta gemerlap cahaya petir menyelinap ke celah jendela kamar tersebut.
Ardy melepaskan Jian dari pelukannya, kemudian menangkup kedua pipi istrinya.
"Tenangkan dirimu, Jian. Tidak usah takut, ada aku di sini." Ardy mengusap keringat di kening istrinya, Jian pun mengangguk lemah, jemarinya sibuk mencekeram ujung kaus yang di gunakan Ardy.
Ardy menatap lekat-lekat wajah Jian, fokus matanya tertuju pada bibir mungil yang tengah gemetar menahan takut. Tak kuat meski sudah mengendalikan diri, Ardy pun perlahab memajukan wajahnya dan langsung melahap bibir mungil tersebut.
Tangannya yang satu Ardy gunakan untuk menarik tengkuk Jian, agar bibir istrinya itu tidak sampai terlepas dari pagutannya. Sementara tangannya yang satunya mulai bergerak menjelajah ke gundukan gunung kembar yang kenyal.
Awalnya Ardy memberi remmassan perlahan di gundukan kembar itu, namun seiring tubuhnya memanas, gerakan tersebut semakin liar. Ia sampai melupakan jika Jian tengah mengandung sekarang.
Jika merintih dan sesekali mengeluarkan ******* yang membuat Ardy semakin semangat menggerakan lidahnya yang bergerak liar di dalam sana.
Setelah merasa puas dengan ciumannya, lidahnya turun menyusuri leher jenjang milik Jian. Dan berhenti di kepala gunung kembar itu. Ardy membuka satu persatu baju yang di kenakan Jian, tanpa menghentikan aktivitasnya. Deru napasnya terdengar memburu akibat menahan hasrat yang bergejolak di dalam tubuhnya. Setelah setengah Tubuh Jian terbuka, ia dengan lincahnya menguulluum kepala gundukan tersebut secara bergantian.
"Mmhh.. Hhh.. Mmhh.." Jian mendesah, antara geli dan nikmat berpadu menjadi perpaduan yang mengasyikan.
Derasnya hujan yang mengguyur membasahi wilayah ibu kota Jakarta, serta ikut membuat yang berada di dalam Unit Apartemen pun ikut basah.
Bersambung...
___