One Night Stand With TUAN MUDA

One Night Stand With TUAN MUDA
Keharuan Anak dan Ayah


Sepasang mata Ardy dan Jian bertemu. Ada sorot mata sedih yang mereka tunjukan. Ardy tidak mau berpisah dengan Jian, tapi ia juga tidak bisa mengubah keputusan yang sudah di tetapkan oleh Damar.


"Dan satu lagi paman," ucap Ardy yang masih berada di rumah Jian.


Semua orang yang ada di sana penasaran dengan apa yang di katakan oleh pria tersebut.


"Apa?" tanya Damar.


"Sebagai rasa tanggung jawabku pada Jian, atas apa yang sudah saya lakukan padanya, saya akan menikahi Jian dalam waktu singkat," imbuhnya.


Kedua bola mata Jian terbelalak. Ia tidak habis pikir jika Ardy akan mengatakan hal tersebut pada ayahnya. Damar pun tak kalah terkejutnya, apalagi Mella.


"Menikah??" seru Jian.


"Ya, Jian. Aku akan menikahimu, aku takut sesuatu yang tidak di inginkan sampai terjadi akibat yang aku lakukan malam itu padamu. Sebab akupun tidak tahu, apa aku membuangnya di luar atau justru di dalam," kalimat tersebut kembali menyulut emosi Damar.


Namun yang di katakan Ardy ada benarkan juga. Jika saja Jian sampai hamil, maka pria itu harus bertanggung jawab untuk menikahinya.


"Benar-benar keterlaluan!" ucap Damar dengan emosi tertahan.


"Saya sungguh minta maaf, paman. Jian, sebaiknya kau pikir-pikir dulu lagi, apa kau mau menikah denganku? Karena akulah yang telah merenggut kehormantanmu, maka aku harus menikahimu. Permisi paman, tante, Jian!" pamit Ardy.


Damar menendang meja kayu yang ada di hadapannya sebagai pelampiasan amarah. Mella berusaha meredam gejolak amarah suaminya itu, namun gagal. Pria itu malah membentaknya kemudian pergi ke kamar.


Sementara Jian tertunduk seraya terisak. Ia masih tidak menyangka jika semuanya akan seperti ini.


"Puas kau, hah?! Dasar gadis murahan!" cecar ibu tirinya.


Jian hanya diam sambil meratapi nasibnya. Ia jatuh merosot ke lantai, air matanya tumpah tak tertahankan.


"Aaaaaaaa...." teriakannya melengking menembus langit cakrawala, ia menarik kain ujung baju guna melampiaskan semuanya.


🌷🌷🌷


Malam harinya, tepat pukul 1 dini hari. Damar terbangun, ia melaksanakan shalat tahajud. Pria itu menangis usai melaksanakan 2 rakaat terakhir. Ia berusaha menumpahkan segala kesedihannya. Lalu meminta jalan yang terbaik untuk apa yang saat ini ia alami.


Sebagai seorang ayah, ia tidak rela jika putrinya di sakiti bahkan sampai di lecehken oleh pria yang bukan muhrimnya. Hatinya sakit sekali. Ia merasa gagal menjadi seorang ayah yang tidak bisa menjaga dan melindungi anaknya. Ia juga merasa bersalah pada Amina, istri sekaligus ibu kandung Jian.


Sebelum akhirnya Amina di nyatakan meninggal, wanita itu sudah berpesan padanya. Menitipkan putri semata wayang padanya, untuk di jaga dan di lindungi. Dan sekarang merasa sangat bersalah. Sangat.


Usai berdo'a pada sang yang Maha Kuasa, Damar melipat sajadah dan menyimpannya kembali di lemari. Kemudian membaringkan tubuh di ranjang kayu sederhana. Tidak ada Mella di sana, sebab ia masih ingin sendiri. Meski hal itu membuatnya tambah sakit, lantaran harus pisah ranjang sementara.


Damar menumpuk dua bantal untuk di jadikan sandaran. Ucapan Ardy tadi siang mulai memenuhi seisi kepalanya. Jika mengingat pria yang sudah merenggut kehormatan putrinya, ia sangat marah. Tapi ucapan pria itu memang ada benarnya juga.


Ardy yang sudah merenggut kehormatan putrinya, maka Ardy pun harus bertanggung jawab akan hal itu.


Alasan pria itu juga agak masuk akal jika di pikir. Kasihan Ardy, traumanya membuat semua wanita menjadi korban. Dan semoga, Jian adalah wanita terakhir yang menjadi korban. Semoga juga, bersama Jian, Ardy bisa berubah.


Sementara di kamar Jian.


Wanita itu tak henti-hentinya menangis. Sedari tadi ponselnya berdering mengeluarkan nama Ardy, namun ia menghiraukannya begitu saja.


Bagaimana jika Ardy benar-benar akan menikahinya. Sementara ia belum siap dengan semua ini.


"Tuan Ardy memang akhir-akhir ini baik padaku, tapi aku tidak tahu apakah kebaikannya itu tulus? Sama halnya seperti Daven, aku pikir dia baik padaku layaknya seorang teman, tapi nyatanya dia memiliki perasaan untukku," ujarnya.


"Aku takut ayah akan menyetujui semuanya, dan tuan Ardy akan berubah mengerikan lagi usai menikah denganku. Ya Tuhaaan, aku harus bagaimana?"


Air mata Jian kembali menetes dan membasahi pipi. Saat ini ia tengah berada di posisi yang paling berat, dimana ia tidak bisa memutuskan sesuatu dengan berpikir jernih.


"Aku harus bicarakan ini lagi dengan tuan Ardy besok," ucapnya mantap.


🌷🌷🌷


"Kemarilah, nak!" pintanya seraya melambaikan tangan.


"Baik, ayah," jawab Jian segera menghampiri, dan duduk di samping ayahnya.


"Nak," panggil pria paruh baya itu lirih, namun tegas.


"Ya, ayah, ada apa?"


Pria itu diam sejenak dan menghirup napas panjang. "Ayah sudah memikirkan ucapan nak Ardy semalaman, dan .."


Damar menggantung kalimatnya. Jian tak sabar mendengar lanjutan kalimat sang ayah dengan jantung dag dig dug.


"Dan apa, ayah?"


"Dan ayah serahkan semuanya padamu. Jika kau memang menginginkan Ardy untuk bertanggung jawab atas apa yang sudah dia lakukan padamu, maka menikahlah dengannya. Tapi, jika kau tidak mau, kau bisa menolaknya. Ayah tidak akan memaksa apapun untuk masa depanmu, nak," tutur pria itu.


Jian tertunduk, sebenarnya ia juga bingung harus memutuskan apa. Pikiran dan hatinya belum bisa bersinkron dengan baik.


"Kau tidak perlu menjawabnya sekarang pada nak Ardy, nak. Sebab semuanya pun butuh waktu," imbuh pria itu.


Jian menghela napas panjang, menghirup banyak-banyak oksigen seraya memandang ke atas langit-langit kosong agar air mata yang sudah mengumpul di pelupuk matanya tidak sampai terjatuh.


"Baik, ayah. Aku akan memikirkan semuanya," jawab Jian dengan suara sedikit serak.


"Ya, nak. Untuk masalah pekerjaanmu, ayah juga serahkan semuanya padamu. Ayah tidak akan memaksamu untuk resign dari perusahaan itu."


Kalimat Damar barusan menciptakan binar kebahagiaan ke kedua manik mata Jian.


"Sungguh?" tanyanya ragu.


Damar mengangguk. "Ya, nak."


"Ayah tidak sedang bercanda, kan?" tanya Jian lagi seraya menggenggam buah tangan ayahnya.


Damar mengulas senyum tipis, namun berhasil membuat hati Jian hangat, sebab beberapa hari ini ia kehilangan senyum itu dari ayahnya.


"Ayah bicara sungguh, nak. Pergilah dan beri keputusan tentang kerjamu ke perusahaan nak Ardy sekarang!"


Jian mengangguk semangat. "Iya, ayah. Terima kasih banyak!" ucapnya, memeluk tubuh ayahnya kemudian.


Damar membelai lembut rambut sang putri dalam dekapannya. Memberinya ciuman yang begitu dalam di puncak kepala.


"Aku sayang ayah," ucap Jian.


"Ayah juga, nak. Ayah begitu menyayangimu," balas Damar.


Keadaan berubah begitu mengharukan. Namun, dalam hangatnya pelukan antara anak dan ayahnya, ada hawa panas yang nyaris membakar perasaan wanita yang sedari tadi mengintip dari balik tembok. Siapa lagi jika bukan Maellani.


Bersambung...


___


Dukung terus Novel ini dengan cara Spam LIKE, KOMEN, VOTE setiap SENIN, dan beri hadiah POIN/KOIN.


follow juga akun media sosialku di Instagram @wind.rahma