One Night Stand With TUAN MUDA

One Night Stand With TUAN MUDA
Bukti Rekaman


...Selamat hari SENIN, saatnya memberi VOTE!...


🌷🌷🌷


Usai merekam pembicaraan antara Alana dan wanita yang satunya, Daven pergi dari restoran tersebut setelah membayar makanannya. Ia harus bertemu dengan Jian sekarang juga dan memberitahu kebusukan seorang Alana.


Daven memasuki mobil dan melajukan mobilnya menuju kantor Ardy. Saat baru turun dari sana, ia melihat Jian dan Ardy tengah berjalan hendak memasuki mobil. Daven bergegas melangkahkan kaki huna menghampiri mereka berdua.


"Jiaaan!" teriaknya.


Di kejauhan, wanita itu menoleh, begitupun dengan Ardy. Namun melihat siapa orang yang memanggil wanita di sampingnya, Ardy segera menarik lengan Jian dan memintanya segera memasuki mobil.


"Ayo, Jian! Tidak usah bertemu dengannya," ajak Ardy kemudian membuka pintu samping mobilnya.


"Tapi, tuan-"


"Masuklah! Jam makan siangnya tinggal 20 menit lagi," kata Ardy sedikit memaksa tubuh Jian masuk ke dalam mobil.


Lantaran Daven sudah dekat, Ardy segera menutup pintu mobil tersebut, lalu ia berjalan mengitari mobil dan masuk ke jok bagian kemudi.


"Jian, tungguuu! Ada hal penting yang harus aku bicarakan padamu," Daven berlari mempercepat langkah sebelum mobil Ardy pergi dari sana.


Pria itu berhasil sampai ke dekat body mobil milik Ardy, ia mengetuk-ngetuk kaca pintu bagian jok Jian.


"Jian, ada hal penting yang harus aku bicarakan padamu. Kau harus tahu ini, Jian!" ucapnya sembari mengetuki kaca pintu mobil.


Ardy menghiraukan permintaan Jian untuk turun sebentar dan mendengarkan apa yang akan Daven bicarakan.


"Abaikan saja, itu tidak penting!" ujar Ardy kemudian menancapkan gas.


Melihat mobil akan melaju, Daven segera lari dan menghadang mobil tersebut. Ardy sontak menginjak pedal rem saat melihat aksi gila temannya yang nekad.


"Aaaaa.." teriak Jian kaget saat Daven menghadang mobil yang di tumpanginya, satu kaki pria itu jadi sasaran.


"Ya Tuhan, Daven!" pekiknya.


Jian dan Ardy langsung turun dari mobil secara bersamaan, mereka langsung menghampiri pria yang saat ini tergeletak di jalan raya. Beberapa orang ikut mengerubungi, namun Ardy segera membubarkan segerombolan orang itu.


Jian berjongkok, lalu menopang kepala Daven menggunakan lengannya.


"Daven, kau tidak apa-apa? Kenapa kau melakukan hal itu?" tanya Jian panik, pria itu tampak kesakitan di bagian lutut sebelah kirinya.


"Kau gila, Dav! Apa yang baru saja kau lakukan membayakan dirimu dan aku juga bisa di salahkan!" cecar Ardy emosi.


"Cukup, tuan! Salahmu juga karena tidak memberi kesempatan Daven untuk berbicara padaku!" lerai Jian.


"Tidak ada yang perlu di bicarakan lagi Jian! Dia tidak pantas mendapat maaf darimu," seru Ardy.


"Berhenti bicara, tuan! Aku ingin dengarkan penjelasan Daven, soal aku memberinya maaf atau tidak itu urusanku. Kau lupa, bahwa kau pun berjuang gila-gilaan untuk mendapat maaf dari ayahku. Maka Daven pun tengah melakukan hal yang sama, dia sedang berjuang mati-matian mendapat maaf dariku."


Ardy diam seketika mendengar ucapan wanita yang saat ini tengah menopang kepala temannya dalam pangkuan. Hal tersebut membuat tubuhnya kian gerah.


"Dav, kau tidak apa-apa? Maafkan aku karena tidak mau mendengar penjelasanmu!" ucap Jian cemas.


"Ya, Jian. Aku tidak apa-apa," jawab Daven sembari menahan sakit di bagian lutut akibat benturan yang lumayan keras.


Ardy menghembuskan napas kasar melihat Jian begitu cemasnya mengenai keadaan Daven.


"Sekarang katakan, apa yang ingin kau bicarakan denganku?!" pinta Jian kemudian.


"Sebelumnya, aku minta maaf yang sebesar-besarnya padamu, Jian. Karena aku sudah membuat ayahmu sampai serangan jantung. Aku tidak bermaksud seperti itu, awalnya aku hanya ingin menyelamatkanmu dari Ardy," terang Daven.


"Aku bukan pria berbahaya sepertimu, sialan!" maki Ardy.


"Cukup, tuan. Ku mohon, diamlah!"


Ardy memutar bola mata malas, seban Jian terus saja membela Daven di hadapannya.


"Ya, Dav. Tidak usah di bahas lagi! Aku sudah memaafkanmu."


Seulas senyum terbit dari kedua sudut bibir Daven. "Terima kasih, Jian. Dan satu hal lagi." Daven menghentikan kalimatnya sementara tangannya merogoh saku jas, ia mengeluarkan benda pipih berupa ponselnya.


"Apa?" tanya Jian penasaran.


Hal tersebut pun membuat Ardy jadi penasaran. Daven mulai memutar rekaman pembicaraan Alana di restoran tadi.


"Serius kau yang melakukannya?"


"Ya, tapi kau jangan katakan pada siapapun, ya!"


"Ya, aku tidak akan mengatakan pada siapapun. Tapi kenapa kau sampai melakukan itu?"


"Sebab aku membenci keluarga Jian sejak dulu. Kau tahu, ibunya menjadi pelakor di antara hubungan orang tuaku. Maka dari itu, diam-diam aku menyewa orang untuk mengikat ibunya di rel kereta api. Dan sekarang dia sudah mati."


"Sungguh? Kau berani sekali."


"Wanita sialan itu memang pantas mati karena sudah mengganggu ketenangan keluargaku. Dan sekarang yang membuat aku lebih membenci Jian, dia sudah merebut pujaan hatiku. Padahal dia tahu aku naksir berat pada pria itu."


"Wah, benar-benar sialan Jian. Mungkin sifat ibunya menurun padanya."


"Ya, benar-benar sialan. Saat itu aku berpura-pura berteman dengannya untuk menutupi kesalahanku karena sudah mengubah data keuangan perusahaan. Dan aku juga pernah mengatakan pada orang tuanya, bahwa Jian pulang ke Apartemen bersama pria pujaanku dengan membuntutinya sepanjang jalan. Tapi orang tuanya bilang, jika Jian sedang di pindahtugaskan di luar kota. Benar-benar wanita sialan kan? Orang tuanya saja sampai ia bohongi!"


"Ya, kau benar, Alana."


Usai mendengar suara rekaman yang di putar oleh Daven, kini tubuh wanita itu terasa melemas. Setengah kekuatan dari tubuhnya terasa menghilang. Jian menggeleng lemah, rasanya ia masih tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.


"Tidak, ini tidak mungkin. Alana, dia tega sekali pada ibuku. Dia sangat keji," ujarnya sambil terisak.


Air mata Jian mengalir dengan begitu derasnya. Ardy dan Daven mulai cemas melihat kondisi wanita itu saat ini. Terlebih saat tiba-tiba tubuh Jian ambruk ke belakang, dengan sigap Ardy segera menopang tubuh mungil wanita itu agar tidak sampai terjatuh menyentuh aspal.


"Jiaaan!" pekik Ardy dan Daven secara bersamaan.


Dengan sekuat tenaga Ardy membopong tubuh Jian dan memasukannya ke dalam mobil jok belakang.


"Dav, tolong buka pintunya!" pinta Ardy.


Meski jalan setengah pincang, Daven berusaha melangkah guna membukakan pintu mobil tersebut.


Daven duduk di jok belakang bersama Jian, sementara Ardy yang mengemudikan mobil. Mereka semua panik melihat Jian jatuh pingsan. Ardy melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, ia berniat membawa Jian ke klinik terdekat. Sesekali ia menengok ke arah spion yang menggantung di hadapannya. Terlihat Daven tengah mengusap rambut Jian dengan perasaan cemas.


Meski demikian, ini bukanlah waktu yang tepat bagi Ardy untuk cemburu pada Daven. Sebelumnya, ia juga sempat menghubungi seorang security untuk menjaga mobil Daven yang masih terparkir di dekat halaman kantornya.


...Bersambung......


___


...ARDY TAMAJAYA...



...JIAN GABRIELLA...



...DAVEN SAGARA...



...Jangan lupa untuk tetap dukung Novel ini!...


...Kumpulin POIN dan VOTE...


...sebagai dukungan kalian!...


...Dengan cara klik HADIAH dan...


...klik gambar kopi ☕☕☕atau gambar ❤️...


...Tambahkan ke rak favorit, ya. Supaya kalian dapat notifikasi ketika bab selanjutnya publish😊...


...Follow ig @wind.rahma...