One Night Stand With TUAN MUDA

One Night Stand With TUAN MUDA
Memberitahu Kebenaran Pada Damar


Di ruang tengah rumah Jian, semuanya kini tengah berkumpul. Jian menyodorkan beberapa cangkir minuman dalam nampan yang baru saja ia buat untuk menjamu tamunya yaitu Daven dan Ardy.


"Di minum, Dav, tuan!" ucap Jian.


"Terima kasih, Jian," kata Daven dan Ardy hampir terdengar bebarengan.


Jian pun ikut bergabung di kursi panjang. Rasa penasaran Damar atas kedatangan Ardy dan pria yang ia ketahui bernama Daven itu kini mulai datang.


"Jadi, kedatangan nak Ardy bersama nak Daven itu ada perlu apa?" tanya Damar membuka percakapan.


Ardy, Daven, dan Jian saling melemparkan tatapan kode siapa yang akan berbicara lebih dulu. Mella yang juga berada di sana lantaran ikut penasaran pun ikut memperhatikan sorot mata tiga orang itu.


Sebenarnya apa yang akan mereka bicarakan? Aku benar-benar penasaran. Batin Mella.


"Jadi begini, ayah," sahut Jian, dia yang memilih bicara lebih dulu. "Ayah ingat dengan orang yang memberi tahu ayah jika aku tidak dipindah tugaskan kerja di luar kota?"


Damar tampak mengingat-ingat, dan tidak berapa lama ia ingat juga, tapi tidak begitu ingat jelas wajahnya.


"Ya, nak, ayah ingat. Memangnya kenapa?" jawabnya.


"Jadi dia adalah satu-satunya temanku di kantor yang aku anggap paling baik, ayah. Setelah semua orang tidak ingin berteman denganku lantaran aku membuat kerugian di perusahaan tuan Ardy. Tapi ternyata, dia adalah teman yang menusukku dari belakang," jelas Jian membuat kerutan di kening pria paruh baya itu.


"Menusukmu dari belakang bagaimana, nak?" tanya Damar sedikit tidak paham.


Jian menghirup napas panjang-panjang guna melanjutkan penjelasannya pada sang ayah, meski saat ini air matanya terasa ingin keluar, namun sebisa mungkin ia tahan. Ia tidak mau ayahnya cemas serta panik sebelum penjelasannya selesai.


"Dia mengkhianatiku, ayah. Ternyata dia yang membuat aku di tuduh sebagai orang yang membuat kerugian perusahaan. Diam-diam dia mengubah data keuangan yang aku kerjakan, sehingga semuanya kacau," lanjut Jian.


Damar sungguh terkejut di buatnya, pria paruh baya itu kemudian menatap Ardy, lalu kembali menatap Jian lagi.


"Jadi apa yang selama ini kamu terima sebagai balasan atas apa yang kamu perbuat itu sama sekali tidak pantas kamu terima, nak?" seru Damar.


Jian mengangguk lemah, sementara rasa bersalah Ardy kini muncul kembali. Ia jadi takut jika Damar tidak terima akan hal ini.


"Astaghfirullaah, naaak. Kenapa ini semua bisa terjadi padamu, sayang? Lalu, apa temanmu ini sekarang sudah mendapat hukuman yang semestinya dia dapatkan? Nak Ardy, apa dia sudah mendapat hukumannya??" Damar menatap putrinya dan Ardy secara bergantian secara tidak sabar untuk mendapat jawabannya.


"Belum, paman," jawab Ardy masih tidak berani menatap wajah pria di hadapannya.


"Kenapa? Kenapa belum? Kenapa di biarkan begitu saja sementara Jian, Jian menerima apa tidak pantas ia terima?" tanya Damar berbondong-berbondong, dadanya mulai terasa sesak, namun berusaha ia tahan dengan mengatur deru napasnya.


"Ayah, tenang dulu, ku mohon!" pinta Jian seraya mengusap bahu ayahnya berulang kali.


"Bagaimana ayah bisa tenang, nak? Sementara pelaku sebenarnya di biarkan begitu saja, dia menghirup napas bebas sementara kamu selama ini mendapat sesuatu yang tidak layak sebagai hukuman. Itu tidak adil, sayang."


Jian dan Ardy kini menunduk, Daven hanya bisa diam menunggu giliran bicara. Ingin rasanya Mella ikut bicara, tapi ia memilih untuk mendengarkan cerita mereka saja, sebab di sini posisi Jian tidak salah. Jika ia ikut membuka suara, bisa-bisa ia yang di salahkan.


"Semua ada alasannya, ayah. Tenangkan diri ayah dulu maka aku, tuan Ardy, juga Daven akan mengatakan apa yang menjadi dasar tuan Ardy dan Daven datang kemari!" Jian memberikan secangkir teh manis yang tadi ia buatkan namun beluk sempat Damar sentuh.


Damar pun menuruti apa yang di minta putrinya. Usai merasa tenang, mereka kembali melanjutkan obrolannya.


"Benar paman, ada sesuatu yang lebih besar yang harus paman ketahui. Maka dari itu saya membawa paman ke Dokter spesialis jantung agar paman tidak sampai terkena serangan jantung seperti kemarin," kata Ardy.


"Iya, ayah. Tenangkan diri ayah!" timpal Jian.


Damar beberapa kali menghela napas panjang kemudian menghembuskannya. "Baiklah, katakan apa yang sebenarnya menjadi tujuan kalian!"


"Baik, paman. Apa paman sudah siap mendengarnya?" tanya Ardy memastikan.


"Ya, paman. Jadi ada alasan mengapa saya tidak langsung menghukum teman Jian, yakni karyawanku di kantor yang bernama Alana itu. Karena ada fakta besar di sana, yang membuat kami membiarkannya sementara bebas," jelas Ardy.


"Daven. Temanku ini yang mendapat bukti jika Jian ternyata tidak bersalah, dan Alana lah yang melakukan itu semua," sambung Ardy sembari memberi kode Daven untuk membuka suaranya.


"Ya, paman, Ardy benar. Tempo hari, aku tengah makan siang di sebuah restoran yang kebetulan tidak jauh dari kantor Ardy. Awalnya aku berniat untuk meminta maaf karena sudah memberi tahu rahasia antara Jian dan Ardy sampai membuat paman masuk Rumah Sakit. Di sana, aku tidak sengaja mendengar percakapan dua orang wanita yang duduk di meja yang ada di belakangku. Dan ini rekaman pembicaraan mereka." Daven mengeluarkan ponselnya dari saku jas berwarna biru navy yang saat ini ia kenakan.


Daven mulai memutar rekaman di ponselnya, kemudian meletakkan benda pipih tersebut di atas meja. Jian yang sudah mendengar isi rekaman itu seakan tidak sanggup lagi mendengarnya, sementara Damar dan Mella kian bertambah rasa penasarannya. Mereka mendengar baik-baik suara yang keluar dari ponsel yang tergeletak di atas meja tersebut.


Raut wajah dan sorot mata Damar mulai berubah saat ia mendengar jika wanita yang bicara di dalam ponsel itu ternyata hanya pura-baik pada putrinya. Dan seketika tubuhnya kaku, matanya melotot, kedua tangannya terkepal menahan amarah yang menguasai diri dan hati saat mendengar ucapan selanjutnya.


"Sebab aku membenci keluarga Jian sejak dulu. Kau tahu, ibunya menjadi pelakor di antara hubungan orang tuaku. Maka dari itu, diam-diam aku menyewa orang untuk mengikat ibunya di rel kereta api. Dan sekarang dia sudah mati."


"Istriku bukan wanita seperti itu, ini fitnah besar, Yaa Allah," ucap Damar dengan suara serak.


Semua orang kini mulai mencemaskan kondisi Damar. Apalagi Mella tidak terima mereka memberi tahu kebenaran seperti ini pada suaminya. Meski ibu Jian itu sudah tiada, tapi Mella tetap cemburu saat suaminya masih mencintainya ibu Jian.


Tiba-tiba saja Damar mengeluh kesakitan lagi di bagian dada kirinya, saat ia mendengar kalimat lanjutan dari dalam rekaman tersebut.


"Wanita sialan itu memang pantas mati karena sudah mengganggu ketenangan keluargaku."


"ASTAGHFIRULLAAHAL'ADZIIM, YAA ALLAH ...."


Damar sudah tidak sanggup lagi mendengar lanjutan rekamannya, kini ia terjatuh dari kursi akibat menahan sakit. Tubuhnya terasa kaku, aliran darahnya seolah berhenti mengalir, persendiannya seakan lepas, dan hatinya bagai di tusuk, di sayat, di remas. Sehingga ia merasakan sakit yang amat sangat dahsyat.


Ardy, Jian serta Mella dengan sikap membantu Damar dengan cara menenangkannya. Semuanya sangat panik dan kini suasana terasa menegangkan. Daven segera memastikan rekaman di ponselnya agar tidak semakin memperburuk kondisi Damar.


"Dav, mana obatnya? Cepat berikan!" pinta Ardy dengan tidak sabar.


Dengan susah payah Daven mengeluarkan ples kecil berisi obat yang mereka siapkan jika sewaktu-waktu Damar kembali terkena serangan jantung.


Jian menangis karena panik, begitupun dengan Mella.


"Kalian memang jahat, kenapa gemar sekali membuat suamiku serangan jantung, SIALAN?! Awas saja, jika sesuatu buruk terjadi, saya tidak akan segan-segan menuntut kalian!" hardik Mella emosi, ia benar-benar takut jika suaminya terbaring tak terbaya lagi di ruang ICU. ia takut kehilangan suaminya.


Ardy dengan cepat memberikan obat tersebut pada Damar, sementara Daven berlari mencari letak dapur rumah itu guna mengambil segelas air putih untuk ayah Jian. Begitu ia menemukan letak dapurnya, ia membawa air tersebut dengan teko-tekonya.


Daven berlari kembali ke ruang tengah.


"Ini," Daven memberikan teko tersebut pada Ardy.


"Sialan, kenapa harus di bawa dengan tekonya, sih?" maki Ardy.


"Sudah, tidak perlu banyak bicara. Cepat berikan airnya pada paman Damar!" kata pria itu.


Tidak ada waktu untuk mendebatkan masalah teko, Ardy pun menuruti perkataan gila Daven. Ia meminumi Damar menggunakan teko tersebut.


Beberapa menit kemudian, Alhamdulillah Damar sudah terlihat lebih tenang. Meski hati pria itu pasti sangat kacau, setidaknya serangan jantungnya sudah hilang. Yang di katakan Dokter Jasson benar, serangan jantung Damar memang bisa saja kembali kambuh, tapi tidak usah terlalu cemas ataupun panik, sebab itu tidak akan berakibat fatal dan bisa sembuh dengan obat yang sudah ia resepkan.


...Bersambung......


___


...Bantu SHARE cerita ini ke grup fb atau WA yang suka baca Novel, ya 😊...