
Habis baca ini jangan lupa POIN nya beri ke aku, yah, dengan cara klik BERI HADIAH di bawah cover. Atau jika punya KOIN jangan sungkan-sungkan untuk di SODAKOHKAN agar rezekinya tambah banyak.
TAMBAHKAN KE RAK FAVORIT YAAAโค
๐ท๐ท๐ทHappy Reading๐ท๐ท๐ท
Usai drama tusuk-tusuk, Ardy kembali melajukan mobilnya setelah jalanan mulai lenggang. Tidak ada pembicaraan di antara mereka, semua sibuk dengan kegiatan masing-masing. Jian sibuk menutupi bagian dada dan pinggangnya, sementara Ardy sibuk menahan tawa.
Sampai akhirnya, perhatian Ardy teralih pada mobil yang baru saja keluar dari pertigaan jalan arah rumah Jian. Mobil tersebut seperti tidak asing baginya, tapi ia tidak begitu memperdulikan hal tersebut.
Begitu mobil memasuki pelataran rumah, Jian dan Ardy di kejutkan oleh suara orang meminta tolong. Suara tersebut berasal dari dalam rumahnya.
"Itu suara ibu, jangan-jangan ayah-" Jian menggantung kalimantnya, lalu bergegas keluar dari mobil dan berjalan memasuki rumah dengan langkah tergesa.
"Hati-hati, Jian!" teriak Ardy saat wanita itu berlari, lalu ia menyusul langkah Jian ke rumah.
Di ambang pintu, Jian mendapati ayahnya tergeletak di lantai, ibu tirinya pun ada di sana dengan wajah panik.
"Ayah!" pekiknya.
Jian langsung menghambur ke sana, mendekap tubuh ayahnya yang tidak sadarkan diri.
"Ibu, ayah kenapa?" tanya Jian sembari terisak. Cemas, panik, takut bercampur menjadi sebuah tangisan.
Ardy yang baru saja masuk pun ikut bergabung bersama mereka. "Ayahmu kenapa?" tanya Ardy tak kalah cemas.
"Ayah terkena serangan jantung. Ardy, tolong tante!" pinta Mella dengan air mata yang bercucuran.
Pria itu mengangguk. "Baik."
Ardy pun berusaha mengangkat tubuh Damar meski merasa sedikit kesulitan. Kemudian membawanya ke dalam mobil. Mella ikut masuk ke jok penumpang bersama suaminya, sementara Jian duduk di depan samping kemudi.
Ardy berjalan mengitari mobil, lalu masuk ke bagian jok kemudinya. Mobil pun melaju dari tempat dengan kecepatan tinggi menuju Rumah Sakit terdekat.
"Ayah, bertahanlah!" Jian terus menengok ke arah belakang, air matanya tak berhenti mengalir sejak tadi.
"Tuan, bisa lebih cepat lagi!" pintanya kemudian.
"Ini sudah paling cepat, Jian, bersabarlah!" ucap Ardy berusaha menenangkan wanita di sampingnya.
Keadaan kini cukup menegangkan, Ardy tidak tega melihat Jian menangis sesenggukan seperti itu. Damar harus selamat, ia tidak ingin Jian sampai merasakan bagaimana rasanya kehilangan sosok sang ayah.
๐ท๐ท๐ท
Sampai di Rumah Sakit, Ardy meminta perawat dan suster di sana untuk segera membawakan brangkar pasien. Dua orang perawat dan seorang suster pun datang, lalu memindahkan Damar ke atas brangkar tersebut. Kemudian mereka dengan cepat membawa pasien tersebut ke ruang ICU. Di iringi oleh Jian, Mella, Ardy, serta di susul oleh Dokter yang akan menangani.
Setelah di bawa masuk ke ruangan tersebut, Jian, Mella, dan Ardy di minta untuk menunggu di luar ruangan.
"Sabar, ya, Jian! Ayahmu pasti akan baik-baik saja," ucap Ardy sembari merengkuh bahu Jian.
"Aku takut sekali, tuan. Aku takut sesuatu buruk yang tidak ku inginkan menimpa ayahku. Hiks .. hiks ..." Jian menangis sesenggukan di bahu pria itu.
"Ssttt .. Jangan bicara seperti itu! Jangan takut, aku ada di sini bersamamu," lirihnya.
Jian sudah merasa sedikit lebih tenang, meski hatinya terasa sangat kacau. Namun tiba-tiba saja Mella menarik lengan Jian dari pelukan Ardy cukup kasar sampai berdiri. Ardy sampai terperangah melihatnya.
"Ini semua karenamu, Jian! Kau sendiri yang membuat ayahmu seperti ini," hardik Mella sampai menunjuk-nunjuk wajah Jian penuh amarah.
"Maksud ibu apa, memangnya ayah kenapa bisa seperti ini?" Jian sama sekali tidak paham dengan tuduhan ibu tirinya.
Ardy ikut angkat bicara, ia tidak tega melihat Jian di perlakukan seperti itu oleh Mella.
"Ya, tante, Jian benar. Memangnya ayah Damar kenapa bisa terkena serangan jantung?"
Mella berganti menatap Ardy dengan mata yang menyala merah. "DIAAAM!" sentaknya. "Ini semua karena kalian!" imbuhnya.
Kemudian Mella mencekeram kedua pipi Jian cukup keras, sehingga wanita itu merintih kesakitan.
"Lepaskan, ibu! Sa sakiiit.. " ringis Jian.
"Jangan berlaku kurang ajar, tente!" cecar Ardy ikut geram.
"Kalian yang kurang ajar! Terutama kau, Jian. Kau sudah membohongi ayahmu sendiri selama ini. Ternyata kau memang menjual diri pada bosmu ini 'kan? Kau memberi keperrawananmu pada pria ini demi melunasi kerugian perusahaan. Itu yang membuat ayahmu sampai terkena serangan jantung."
Jian melotot, air matanya berhenti menetes, tubuhnya terasa lemas sekali. Bahkan kedua lulutnya seakan tak sanggup menahan beban tubuhnya. Ia terkulas lemas di lantai setelah Ardy berhasil melepaskan cengkeraman tangan Mella di pipinya.
"Jian, bangunlah!" Ardy berusaha mengangkat tubuh Jian, namun wanita itu seakan enggan untuk bangun.
Tatapan Jian kosong, air matanya kembaki luruh dengan begitu deras. Rasanya semua yang ia lakukan seakan sia-sia. Ketakutan terbesarnya terjadi hari ini. Ayahnya terkena serangan jantung di sebabkan olehnya, namum bukan karena mendengar dirinya di penjara. Melainkan lebih buruk dari yang ia bayangkan sebelumnya. Ayahnya mendengar jika ia telah menyerahkan kehormatannya pada bosnya sendiri.
Tapi, siapa yang memberi tahu hal ini pada ayahnya? Tega sekali.
Bersambung...
___
Tinggalkan jejak dengan cara like, komen, vote, ataupun beri hadiah melalui POIN maupun KOIN.
Karena dukungan kalian sangat berarti untuk saya serta memberi semangat lebih dalam menulis. ๐๐๐
Follow juga Ig @wind.rahma