
Sampai di Rumah Sakit, Jian segera di bawa ke ruang bersalin. Kata Dokter, Jian sedang mengalami tahapan pembukaan yang ke sembilan. Dan pada tahapan pembukaan ke sepuluh, maka bayi akan secepatnya keluar.
"Sayang.. Kau pasti kuat," ucap Ardy sembari memegang erat tangan istrinya.
Keringat dingin sudah bercucuran di kening serta tubuh Jian. Wajahnya kian memucat dan tubuhnya semakin melemas. Ardy benar-benar cemas sekarang.
Kemudian Dokter meminta kedua suster yang mendampingi untuk memasang infus pada Jian. Serta memberi segelas teh manis lantaran tensi darahnya kurang.
Setelah tensinya normal dan sudah memasuki pembukaan terakhir, Dokter meminta Jian untuk mulai mengejan.
"Pelan-pelan dulu saja, nona. Tarik napas, keluarkan dari mulut. Tarik napas lagi, lalu dorong bayinya agar keluar."
Jian mengikuti instruksi Dokter, perutnya sangat sakit sekali. Antara sakit dan mulas yang begitu dahsyat.
"Eeemmmm..." Jian mulai mengejan, dan itu rasanya sakit sekali.
"Semangat, sayang.. Kau pasti bisa," ujar Ardy menyemangati, Jian pun mengangguk lemah lalu mencoba mengejan untuk yang kedua kalinya.
"Eeeemmmmmmm...."
"Ya, terus, nona. Dorong lagi, kepala bayinya sudah mulai terlihat," kata Dokter.
Mendengar hal itu, setidaknya menambah sedikit saja kekuatan Jian. Ia pun sudah tidak sabar bertemu dengan sang buah hati.
"Eeeeemmmm..." Jian berusaha mengejan dengan ke kuatan yang masih ia miliki, kepala bayi pun sudah keluar.
"Bagus, nona. Ayo, dorong sekali lagi maka bayinya sudah bisa keluar."
Jian merasa benar-benar lelah sekarang. Ia mencoba mengejan lagi tapi sudah tidak kuat. Ardy juga Dokter memberi semangat untuknya, tapi tetap saja rasanya ia sudah tidak sanggup.
"S-sakiiit.. Ak.. aku s-sudah tidak kuat la-lagi, sayang..." rintig Jian dengan suaranya yang paras. Air matanya mulai berdesakan keluar lantaran menahan sakit yang begitu tajam menghujam di sekujur tubuh.
"Jian, sayang.. Aku yakin, kau pasti bisa, sayang. Sebentar lagi kau akan menjadi ibu. Sebentar lagi aku akan menjadi ayah. Sebentar lagi anak kita akan lahir ke dunia. Sayang.. Aku tahu, kau wanita yang kuat. Kau pasti bisa, kau pasti bisa."
Jian menatap suaminya yang sedari tadi setia mendampinginya. Bayang-bayang wajah si kecil yang nantinya akan melengkapi kebahagiaan mereka mulai terlintas. Hal tersebut membuat rasa semangat Jian mulai muncul.
"Ayo, nona. Dorong sekali lagi, ya. Atur napas dulu, tarik napas, keluarkan. Ulang sampai beberapa kali. Kumpulkan tenaga yang banyak sebisa mungkin ejankan, ya!"
Jian mengangguk paham. Ia kembali mengikuti apa yang di instruksikan Dokter. Menarik napas panjang, lalu di keluarkan perlahan melalui mulut. Dan sekarang ia mulai mengumpulkan tenaga untuk ejanan yang terakhir. Semoga bisa.
"Eeeeeemmmmmmm........." Jian mengejan dengan sekuat tenaga yang tersisa.
Sampai akhirnya ia mendengar suara tangis yang memudarkan rasa sakitnya seketika.
"Alhamdulillaah.. Bayinya lahir dengan selamat dan sehat," ucap Dokter.
Ardy tak henti-hentinya mengucap syukur serta menghujani pangkal kepala Jian dengan kecupan.
"Kau wanita yang kuat, sayang. Kau ibu yang hebat," puji Ardy. "Terima kasih sudah menjadi wanita terhebat dalam hidupku. Terima kasih, Jian. Terima kasih istriku."
Bersambung...
...Nantikan bab selanjutnya dan jangan lupa untuk berikan dukungan kalian. Like, komen, vote, dan hadiah, yaaaaa. Tambahkan ke rak favorit juga agar tidak sampai ketinggalan bab lanjutannya....
...Follow juga IG: @wind.rahma...