One Night Stand With TUAN MUDA

One Night Stand With TUAN MUDA
Terungkap (Part 2)


Ini sudah waktunya jam makan siang. Jian segera menyusul langkah seseorang yang berada 5 meter di depannya.


"Alana!" panggilnya setengah berteriak, menghentikan langkah wanita itu.


Alana menoleh sekilas, alih-alih menunggu temannya, ia justru semakin mempercepat langkah. Jian terheran mendapati sikap wanita itu tidak seperti biasanya. Ia mencoba mengejar langkah yang sudah tertinggal jauh.


Jian berlari kecil saat keluar dari lift, ia berdiri di depan Alana yang memalingkan wajah.


"Alana, kau kenapa? Apa aku sudah melakukan kesalahan padamu?"


Wanita itu sama sekali tidak menanggapi pertanyaan Jian, untuk menatap wajahnya saja rasanya enggan.


"Alana, katakan! Kenapa kau bersikap seperti ini?" tanya Jian lagi, sembari menghadang Alana yang hendak melanjutkan langkahnya.


Kini wanita itu mulai mau menatap Jian, namun dengan tatapan sinis.


"Sejak kapan kau mengenal tuan Daven?" cecar wanita itu.


Jian terbelalak, apa Alana sudah mengetahui jika dirinya sudah mengenal pria itu.


"Mmm ... Kau tahu-"


"Ya, aku tahu," pungkasnya. "Bahkn aku melihatmu pulabg bersama tuan Daven sore itu. Dan aku rasa kau akrab sekali dengannya," imbuhnya.


"Tidak, Alana. Itu sama sekali tidak seperti yang kau pikirkan. Kau ingat bahwa aku pernah mengatakan akan mendekatkanmu dengan tuan Daven?"


"Ya."


"Saat itu aku nyaris di tabrak olehnya, dan aku akan memanfaatkan perkenalan kami untuk mendekatkanmu dengannya."


"Benarkah?" tanya Alana menyelidik.


"Ya, Alana. Bahkan aku ingin memberi tahumu jika tuan Daven masih lajang. Itu kesempatan yang bagus untukmu untuk mendekatinya!"


Alana tersenyum menyeringai. "Mulai saat ini tidak usah membantuku lagi! Sebab hal itu tidak akan pernah menjadikan aku dekat dengannya, melainkan lebih mendekatkan dirimu sendiri. Menyingkirlah!"


Alana mendorong tubuh Jian lumayan kasar, kemudian melipir dari sana. Sementara Jian masih tidak habis pikir dengan sikap kasar yang di tunjukkan wanita itu padanya.


Sakit sekali rasanya, satu-satunya teman yng perduli padanya kini pun memperlakukannya dengan tidak baik. Setitik kristal yang mengumpul di pelupuk matanya kini lolos dari benteng pertahanan, membasahai kedua pipi.


🌷🌷🌷


Jian tampak senang sekali saat ini, meskipun hatinya masih sedih memikirkan sikap Alana. Sebab, ada angkutan umum yang beroperasi mengarah ke Apartemennya. Walaupun ia harus berhenti sejauh 1 km sebelum tiba di gedung Apartemen.


Dan begitu sampai di Unit, Jian langsung menuju pantry untuk memasak bahan masakan yng sempat ia beli di pasar tradisional tadi.


"Jiaaaan .... !!"


Lagi-lagi Jian mendapati bosnya yang teriak-teriak memanggil namaya ketika baru saja pulang.


"Iya, tuan. Ada apa?" sambil menghampiri pria tersebut.


Pria itu berdiri di hadapannya dengan memasang ekspresi menakutka. Jian sampai menunduk lantaran tak berani menatap wajah tersebut.


"Apa kau sudah gila, hah?"


Jian mendongakan wajahnya kemudian mengernyit. "Maksudmu? Aku masih waras, tuan," jawabnya, membuat Ardy berdecak kesal.


"Bukan itu maksudku!"


"Lantas?"


"Kenapa kau berhubungan dengan orang yang ada di Apartemen ini? Bagaimana jika dia sampai mengetahui kita tinggal bersama? Kau gila!" cecarnya.


Jian diam sejenak, mencoba mencerna perkataan pria itu. "Maksudmu Daven, temanmu?"


Ardy memelotot. "Kau tahu dia temanku?"


Wanita itu menganghuk polos. "Ya, dia yang mengatakannya."


"Lantas kenapa kau malah berhubungan dengannya? Apa dia kekasihmu? Bagaimana bisa kau mengenalnya dan bagaimana jika dia tahu kita tinggal bersama?"


"Kau tenang saja, tuan! Daven hanya temanku. Kita kenal secara kebetulan. Dan dia hanya tahu jika aku berada di Unit lantai delapan," jawab Jian dengan begitu tenang.


Berbeda halnya dengan Ardy, pria itu mana bisa tenang jika Jian terus berhubungan dengan dengan Daven. Dia tahu temannya itu seperti apa, dan rasa takut akan wanita itu sampai di miliki temannya pun mulai menghantui pikirannya.


Bersambung...


___


Author Note:


Visual Cast Jian akan segera rilis, jangan lupa untuk segera follow instagram @wind.rahma


Biar gak ketinggalan. Visual Daven juga pasti aku up di sana.


Jika aplikasinya sudah stabil, nanti aku pasti bakal up visualnya di sini juga. Terima kasih.


Jangan lupa like, komen, vote, dan beri aku hadiah, yaaaa! Karena dukungan kalian sangat berarti dan menambah semangatku dalam menulis.