One Night Stand With TUAN MUDA

One Night Stand With TUAN MUDA
Perlakuan Baik


"Daven ... " panggil Jian lirih.


"Hem?"


"Apa kemarin kau juga menungguku di depan resto?"


Pertanyaan Jian membuat Daven berpikir, bagaimana dia bisa tahu? Namun ia hanya menanggapi pertanyaan Jian dengan senyuman. Menatap lekat-lekat wanita yang sedang duduk setia menemaninya di tengah kemacetan jalanan ibu kota.


"Harusnya kau tidak perlu melakukan itu, Da. Dan mulai besok, aku tidak ingin merepotkanmu lagi!" imbuhnya.


"Aku tidak pernah merasa di repotkan, Jian."


"Tapi-, Aaaww.."


Daven menyubit kedua pipi gemoy milik Jian dengan gemas. Menghentikan ucapan Jian yang hendak melayangkan protes.


"Kenap kau menyibit pipiku?" protes Jian seraya menusap pipinya yang kini sedikit memerah.


"Kau menggemaskan, Jian. Jangan memprotes apapun lagi, jika tidak, aku akan menyubit pipimu lagi! Mau?"


Dengan cepat Jian menggeleng, pria itu tertawa di buatnya. Melihat ekspresi wajah Jian saat ini membuag Daven tidak tahan untuk tidak mencium bibir mungil itu. Beruntung jalanan mulai normal, jadi kejadian itu tidak akan terjadi.


"Daven, kita mau kemana?" seru Jian, ketika pria itu membelokan arah yang berlawanan dengan arah menuju Apartemen.


🌷🌷🌷


"Baby, kapan kita akan menikah?" suara seseorang yang tengah merajuk itu merupakan suara Gea. Dia sedang bersama Ardy di kamar Unit Apartemen pria itu.


"Sabar, ya, baby! Aku pasti akan menikahimu tahun ini," ujar Ardy menciptakan senyum yang terukir di wajah cantik seorang Gea.


"Thanks, baby! I love you."


"Love you too, sayang," balas Ardy seraya mencium bibir Gea.


Hal tersebut berlanjuy pada saat Gea mulai membuka kancing kemeja putih yang di kenakan Ardy satu persatu. Dan itu akan mereka lakukan di setiap pertemuan tanpa sedikitpun terlewatkan.


Sementara di sebuah basement mall tempat Daven kini memarkirkan mobil sportnya. Jian masih terheran mengapa pria itu membawanya ke sana. Style pakaian yang mereka kenakan membuat wanita itu sangat tidak percaya diri untuk masuk apalagi jalan berdampingan dengan Daven.


"Kenapa kau membawaku kemari?" tanya Jian masih mematung di samping body mobil.


"Di sini kau bisa menilih pakaian yang jau suka, Jian."


"Tapi, Dav-"


"Tenang saja! aku yang akan membayar semuanya. Kau pilih saja berapapun yang kau mau. Ayo!" Daven menarik lengan wanita yang hendak melayangkan protes lagi padanya.


Di dalam mall. Jian tak hentinya-hentinya menatap takjub apapun yang ada di sekelilingnya. Dia bahkan tak ingat, kapan terakhir kali menginjakkan kaki di tempat seperti ini. Tanpa ia sadari, pria yang berjalan di sampingnya mengulas senyum melihat ekspresi wajah takjubnya. Dan saat pandangan mereka bertemu, lagi-lagi Jian menunduk tak berani menatap Daven sedalan itu.


"Jangan menatapku seperti itu!" ucap Jian lirih dan nyaris tak terdengar.


"Memangnya kenapa?"


"Ak-aku malu," ujarnya seeaya menutuli wajah merona menggunakan kedua telapak tangan.


"Lihat!" Daven menunjuk gaun yang tidak jauh dari tempat mereka berdiri. "Menurutku itu sangat bagus. Sepertinya itu akan cocok di tubuhmu. Kau mau coba?"


Jian memandang arag gaun yang di tunjuk oleh Daven. Gaun tersebut memang sangat cantik. Namun sayangnya, itu terlalu mewah baginya.


"Tapi itu pasti mahal," keluhnya.


Daven tertawa kecil. "Tidak apa-apa, Jian. Kau coba ya?!"


Jian pun mengangguk ragu. Kemudian Daven meminta seorang pegawai mall untuk mengantar Jian ke ruang ganti. Pegawai itupun dengan senang hati mengantar wanita tersebut.


Tidak berapa lama, Jian keluar dengan gaun yang barusan. Daven memandanganya sampai tidak mengedipkan mata. Ia tidak menyangka jika Jian akan secantik dan seseksi ini jika memakai pakaian wanita berkelas pada umumnya.


Senyum yang mengembang di bibir Jian menambah pesona kecantikannya. Daven sungguh di buat luluh dan ia tidak bisa menjamin jika dirinya tidak akan jatuh hati pada Jian.


"Bagaimana, Dav, baguskah?" pertanyaan Jian membuyarkan pikiran Daven.


"Iya. Kau cantik sekali, Jian," pujinya.


Jian tersenyum ala kadarnya. Sebab ia cukup sadar jika ia tidak secantik yang di katakan Daven, mungkin pria itu yang terlalu berlebihan.


Usai memborong banyak pakaian sepatu dan yang lainnya, keduanya kembali ke basement tempat tadi ia memakirkan mobilnya. Lagipula, ini sudah terlalu malam untuk Jian.


"Terima kasih banyak untuk semuanya, Daven. Aku benar-benar masih tidak mengerti, mengapa kau sebaik ini padaku?" Jian menatap haru pria yang sedang menata barang belanjaannya ke dalam bagasi mobil.


Daven menutup pintu bagasinya usai memasukan semua barang. Kemudian berjalan beberapa langkah dan berhenti tepat di hadapan Jian. Ia mengulas senyum manis pada Jian.


"Aku hanya berusaha memperlakukanmu dengan baik, di saat semua orang memperlakukanmu dengan buruk, Jian."


Hati Jian tersentuh oleh kata-kata Daven barusan. Entah kenapa ia seperti merasakan sesuatu yang tidak biasanya. Jantungnya berdebar, tubuhnya seakan kaku, dan darahnya seolah berhenti mengalir.


"Ayo, pulang! Ini sudah terlalu malam," ajak Daven seakan mengembalikan kenormalan tubuh Jian.


Bersambung...


___


Jadi kalian TIM mana, nih? TIM JiVen atau TIM JiAr?


Jangan lupa juga untuk:


👍Tinggalkan Like


📝Komentar


❤Masukan rak buku favorit


📦Beri Hadiah


Jangan lupa untuk follow akun media sosialku:


IG: wind.rahma