
Hari ini Ardy mengantar sang ibu ke makam ayahnya. Ibu Ardy yang bernama Lily itu menangis menumpahkan air matanya di pusara sang suami. Setelah merasa puas menangis, Ardy mengajak ibunya untuk segera pulang.
"Bu, apa ibu tahu siapa orang yang sudah melecehkan dan menyekap ibu selama ini?" tanya Ardy saat mereka dalam perjalanan.
"Ibu tidak tahu, nak. Tapi ibu tahu wajah orang itu," jawab Lily, matanya mulai berkaca-kaca karena tidak sanggup harus mengingat wajah orang itu.
"Memangnya kenapa dia sampai melakukan hal kurang ajar itu pada ibu? Maaf jika aku menanyakan hal yang membuat ibu sedih," ucap Ardy saat melihat setetes air mata sudah terjatuh di sebelah pipi ibunya.
Lily menggeleng. "Ibu juga tidak tahu, nak. Padahal selama ini ibu tidak pernah menyakiti orang lain."
Lily menyeka air matanya menggunakan kerudung hitam yang di kenakannya.
"Saat itu ibu baru saja pulang dari salon, habis potong rambut. Awalnya ibu mengajak ayahmu untuk menemani, tapi beliau tidak mau. Usai dari salon, tiba-tiba dua orang pria menyeramkan datang menghadang kemudian membius ibu. Mereka membawa ibu ke gudang tua itu. Saat ibu sadar, pakaian ibu sudah terbuka tanpa menyisakan sehelai benangpun. Dan satu orang pria keluar, lalu dia ... " Lily tak kuasa menceritakan apa yang terjadi pada dirinya.
"Lalu dia melakukan itu pada ibu dengan sangat kasar dan kejam. Ibu merasa hina sekali pada saat itu, apalagi ketika dia sudah selesai melakukannya, beberapa pria lainnya datang dan semua melakukan hal yang sama pada ibu secara bergilir, bahkan secara bersamaan," sambungnya.
Gejolak amarah dalam tubuh Ardy kian memanas, pria itu bersumpah akan membalas apa yang dia perbuat pada ibunya.
"Aku akan membalaskan semua ini padanya, bu. Itu pasti."
🌷🌷🌷
Sementara Ardy dan ibunya pergi ziarah, Jian di Unit Apartemen sendirian. Entah kenapa ia ingin sekali ke balkon lantai tersebut untuk mencari angin segar sambil menunggu suami dan ibu mertuanya pulang. Namun saat ia sampai di balkon, ada seorang pria yang tengah berdiri di sana juga.
"Hai, Dav," sapa Jian kemudian berdiri di samping pria tersebut.
Daven pun menoleh. "Jian."
"Sedang apa di sini?" tanya Jian kemudian.
"Tidak apa-apa, aku memang sering berdiri di sini. Kau kenapa ke sini?" jawab dan tanya balik pria itu.
"Mm ... Aku hanya ingin mencari angin segar, sambil menunggu Ardy dan ibu Lily pulang."
Daven mengernyitkan keningnya. "Bibi Lily ibunya Ardy?" tanyanya memastikan.
Jian pun mengangguk membenarkan. "Ya, ibu mertuaku."
"Dia sudah kembali? Lalu, bagaimana dengan Ardy? Bukankah Ardy begitu membenci ibunya, kenapa dia bisa pergi bersama?" tanya Daven penasaran.
"Ceritanya panjang. Jadi semua ada kesalah pahaman antara Ardy dan ibunya."
"Salah paham bagaiamana?"
"Sebenarnya ibu Lily itu tidak pernah mengkhianati ayah Ardy. Dia hanya korban pelecehan dan selama ini ibu Lily di sekap oleh orang itu," jelas Jian.
"Astaghfirullaah ... Kau serius, Jian?"
"Iya."
"Kasihan sekali. Siapa orang yang tega melakukan hal kejam itu pada bibi Lily?" tanya Daven pada dirinya sendiri.
"Lalu Ardy percaya dengan semua cerita ibunya?"
"Ya, dia percaya. Dan sekarang mereka sedang pergi ke tempat dimana suaminya di makamkan."
"Lalu itu ceritanya bagaimana, bibi Lily bisa keluar dari sekapan orang itu dan bertemu dengan Ardy?" tanya Daven lagi, rasa penasarannya kian bertambah besar.
"Aku tidak tahu bagaimana ibu Lily bisa keluar dari orang yang menyekapnya. Tapi yang pasti, kemarin aku bertemu dengan ibu Lily di depan Supermarket secara tidak sengaja," terang Jian.
"Kau?"
"Ya. Awalnya aku juga tidak tahu jika wanita yang ku temui dalam keadaan ketakutan itu ibu dari suamiku. Dia terus meminta tolong sampai akhirnya aku memutuskan untuk membawanya ke sini, dan saat Ardy pulang dari kantor mereka pun bertemu," sambung Jian.
Daven mengangguk-anggukan kepalanya paham. Ternyata di dunia ini tidak ada yang kebetulan. Semua sudah di tentukan oleh Sang Yang Maha Kuasa. Mungkin apa yang terjadi selama ini di hidup Jian dan Ardy adalah cara Tuhan mempertemukan Ardy dengan ibunya kembali.
"Oh, ya, ngomong-ngomong bibi Lily sudah tahu jika kalian sudah menikah, dan kau istrinya Ardy?" tanya Ardy lagi setelah kesenyapan menyelinap di antara mereka.
"Sudah, tadi malam kami sudah menceritakannya. Dan ibu Lily juga sudah tahu jika aku sedang hamil, maka dari itu beliau melarangku untuk ikut ke tempat pemakaman," jawab Jian.
"Memangnya usia kandunganmu sudah berapa bulan?"
"Oh."
Daven menatap perut Jian yang sudah terlihat sedikit menonjol. Lalu berpindah ke wajah wanita yang sedang memandang lurus ke depan dari samping. Rambutnya yang bergerak-gerak oleh angin membuat Jian tampak cantik sekali.
"Jian.." panggil Daven lirih.
"Hm?" Jian pun menoleh.
"Apa aku boleh tanya sesuatu?" nada bicara Daven terdengar sedikit ragu.
"Tentang apa?"
"Tentang kehamilanmu itu. Bagaimana perasaanmu ketika mengetahui kau hamil anak Ardy?"
"Tentu saja aku terkejut," jawab Jian polos, padahal itu bukan jawaban yang Daven harapkan.
"Maksudku, senang, bahagia, sedih atau justru kau marah?"
Jian diam seraya berpikir. Ia bingung harus mengekspresikannya dengan perasaan apa selain terkejut.
"Mmm ... Ya perasaanku terkejut, karena aku harus hamil di luar suatu hubungan sakral. Tapi untuk marah sepertinya tidak. Dan sekarang, setelah ada hubungan yang sah di antara aku dan Ardy, aku bahagia. Sebab sebentar lagi kita akan memiliki buah hati," ungkap Jian di sertai senyum yang menghiasi bibir indahnya.
"Lalu kenapa kau marah saat aku menciummu? Padahal itupun hanya ciuman singkat," pertanyaan Daven seketika memudarkan senyum di bibir Jian, wanita itu langsung merasa canggung.
"Kau bertanya apa, Dav?" ujar Jian berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Tolong jawab, Jian!" pinta Daven seraya menatap wanita yang sudah berstatus sebagai istri temannya itu dengan serius.
Karena sudah tidak nyaman berada di sana, Jian memutuskan untuk pergi kembali ke Unitnya. Namun pria itu segera mencegah Jian dengan menarik pergelangan wanita tersebut.
"Dav, lepaskan! Aku harus kembali ke Unit, sebentar lagi suamiku datang," pinta Jian.
"Jika tidak ada kejadian itu bersama Ardy, mungkin yang saat ini menjadi suamimu itu bukan dia, tapi aku," ucap Daven semakin membuat Jian takut jika sewaktu-waktu Ardy datang.
"Lepaskan aku, Dav!"
"Tidak, Jian. Tolong jawab pertanyaan aku yang tadi, baru aku akan melepaskanmu," ujar pria itu seraya memegang kedua lengan Jian, sehingga merek kini berdiri berhadapan.
"Aku sudah memberi jawaban padamu, Dav. Jika aku segan pada Alana. Hanya itu."
"Yakin hanya itu? Aku rasa bukan itu, Jian. Katakan yang sebenarnya, aku butuh pengakuanmu agar aku tidak di hantui rasa penasaranku!" pinta Daven sedikit memaksa.
"Dav-"
"Aku yakin saat itu kau memiliki perasaan untukku, benarkan?"
"Dav-"
"Tolong jujur, Jian!"
Jian pun terdiam, lalu menghirup napas banyak-banyak. Pandangan mata mereka tampak serius dan saling bertemu.
"Ok, aku akan mengatakannya padamu. Tapi tolong lepaskan aku dulu!"
"Tidak bisa, katakan baru aku lepaskan!" ujar pria itu kekeh.
"Baiklah, aku akan mengatakannya. Tapi berjanjilah untuk tidak menggangguku setelah ini!"
"Ya, aku berjanji," ucap Daven.
Keadaan cukup hening di sana, hanya ada suara semilir angin yang meniup dan menghempas ke tubuh mereka berdua.
"Saat itu aku menganggapmu sebagai teman, Dav. Seperti apa yang kau katakan, saat semua orang memperlakukanku dengan buruk, hanya kau yang memperlakukan aku dengan baik. Jujur, kala itu aku memang merasa nyaman berada di dekatmu. Tapi aku tidak bisa mengubah kenyaman itu menjadi kata yang lebih, sebab posisinya saat itu temanku menyukaimu. Dan aku tidak ingin menikung perasaan orang lain. Sampai akhirnya kau melakukan sesuatu padaku, yang membuat aku justru semakin merasa bersalah pada Alana. Dan aku harap, kau pun merasakan hal yang sama dengan apa yang saat itu aku rasakan. Yaitu merasa bersalah karena masih menyimpan perasaan pada istri temanmu sendiri," ucap Jian dengan tegas.
Daven bungkam seketika. Apa yang di katakan Jian sangatlah benar. Tapi, untuk menghilangkan perasaan pada wanita yang sudah membuatnya berharap lebih itu bukanlah hal yang mudah. Namun dengan mendengar ungkapan perasaan Jian barusan membuat Daven tersadar, jika ia harus berhenti mengharapkan perasaan pada wanita yang sudah menjadi milik orang lain.
Suara mobil Ardy dari bawah gedung Apartemen terdengar sampai tempat dimana mereka berdiri saat ini. Jian segera melepaskan tangannya dari genggaman tangan Daven untuk segera kembali ke Unitnya. Ia tidak mau menciptakan kesalahpahaman yang nantinya menimbulkan suatu masalah.
Bersambung...