One Night Stand With TUAN MUDA

One Night Stand With TUAN MUDA
Tamparan


Mella melangkah masuk kemar dengan perasaan takut sekaligus panik. Jadi apa yang Jian bicarakan tadi bersama suaminya, sehingga Jian mengatakannya sebagai pembohong.


"Ma..," panggil Damar lirih, namun cukup membuat Mella terlonjak kaget dan tegang.


"I-iya, a-ayah. Ada apa?" ujarnya gugup, kemudian mempercepat langkahnya dan duduk di tepi ranjang samping suaminya.


Mella berusaha bersikap tenang, meski itu sulit.


"Mama darimana?"


"Mm .. mama .." wanita itu langsung menyusun kalimat untuk memberi alasan pada suaminya. "Mama tadi ke minimarket sebentar. Memangnya kenapa, yah?"


Damar diam sejenak, lalu menghela napas panjang. "Ma."


"Hem?"


"Ayah boleh tanya sesuatu sama mama?"


Raut wajah Mella kembali menegang, tapi ia berusaha untuk tetap biasa saja. "Bo-boleh, ayah tanya apa? Tanyakan saja!"


"Tapi mama harus jawab jujur!"


"Ya."


"Jadi, siapa yang sudah membayar semua biaya rumah sakitku itu, ma?"


Kedua mata Mella membulat sempurna, sudah ia duga, suaminya pasti akan menanyakan hal tersebut. Ia bingung harus memberi jawaban apa.


Ini semua gara-gara Jian. Jika saja dia tidak membahas hal ini, aku tidak akan setegang ini di depan suamiku. Batinnya.


"Mm ... Kenapa ayah menanyakan hal itu?" Mella balik bertanya.


"Jian mengatakan jika nak Ardy lah yang sudah membayar biaya Rumah Sakitku. Itu artinya, bukan kau, ma," terang Damar.


Mella menelan salivanya susah payah. Wajahnya teihat tenang, bibirnya berusaha tersenyum, pikirannya dengan gencar menyusun kalimat, dan hatinya menegang.


"Jangan mau tertipu dengan perkataannya untuk kesekian kalinya! Dia sudah membongimu berkali-kali," ucap Mella.


Damar diam seketika. Jian memang sudah membohonginya, tapi masa iya Jian berbohong lagi.


"Tapi Jian putriku, ma. Dia tidak akan tega membohongiku."


"Kenapa tidak tega? Bohong membuatmu sampai terbaring lemah di Rumah Sakitpun ia lakukan," kata Mella lagi.


Damar jadi bingung. Siapa sebenarnya yang jujur dan siapa yang berbohong di sini.


"Ok, ma. Jika mama yang membayar semua biaya Rumah Sakitnya, lantas itu uang darimana?"


Mella merasa terpojok oleh pertanyaan yang di lontarkan suaminya barusan. Ia harus menjawab apa.


"Mm .. Aku-"


"Aku tahu kau bohong, ma. Kau tidak mungkin memiliki uang sebanyak itu untuk membayar biaya Rumah Sakit," ucap Damar.


"Ayah-"


"Berhentilah berbohong! Aku tidak suka itu," pungkasnya.


"Dengarkan aku, ayah! Bukan begitu, aku-"


"Keluarlah, aku sedang ingin beristirahat dengan tenang tanpa seorang pembohong!" pinta Damar lagi-lagi tak memberi kesempatan Mella untuk bicara.


Wanita itu keluar kamar dengan perasaan marah pada Jian. Jian telah membuat kepercayan Damar padanya hilang seketika. Mella harus memberi pelajaran pada wanita itu.


🌷🌷🌷


Keesokan harinya.


Waktu sudah menunjukkan pukul 6 pagi. Jian masih kelihatan bingung, satu sisi ia harus bekerja, sementara di sisi lain ayahnya memintanya untuk berhenti bekerja di perusahaan Ardy.


Sampai akhirnya, suara ponsel yang berdering mengeluarkan notifikasi pesan masuk ke dalam ponselnya. Dengan cepat ia menyambar ponsel tersebut yang tidak jauh dari jangkauan tangannya.


Jian, aku jemput sekarang, ya!


Jian menggenggam ponsel erat-erat usai membaca pesan teks yang di kirim oleh Ardy. Ia ragu mengetikkan balasan pada pria itu.


Sepuluh detik setelah mengirim balasan, kini ponselnya mengeluarkan panggilan masuk yang berasal dari pria itu. Jian langsung menggeser ikon berwarna hijau guna menjawab panggilan tersebut.


"Aku tidak akan membiarkanmu berhenti bekerja, aku harus bicara pada ayahmu sekarang juga!" seru pria itu dari sebrang sana. Jian sampai menjauhkan sedikit ponsel dari daun telinganya.


"Tapi, tuan-"


"Tidak usah takut! Aku akan meluruskan semuanya, Jian. Ya, aku memang salah. Sangat. Tapi dengan berhenti bekerja di perusahaanku bukanlah cara pintas."


"Aku sudah berjanji untuk memenuhi permintaannya, tuan."


"Aku akan tetap bicara dengan ayahmu, Jian," ucap Ardy kekeh.


"Tunggu aku, Jian. Aku kesana sekarang!"


"Jang-"


TUT.. TUT.. TUT..


Sambungan telpon terputus.


Jian panik sekarang, bagaimana jika pria itu tetap nekad datang ke rumahnya.


"Bagaimana ini?" ucapnya panik.


🌷🌷🌷


Damar mengambil beberapa obat pil yang harus ia makan. Namun saat melihat gelasnya kosong, ia memutuskan untuk mengambilnya ke dapur sendiri. Lantaran ia masih tidak mau bicara dulu dengan istrinya.


Saat membuka pintu kamar, ia di kejutkan oleh suara keributan yang berasal dari luar rumahnya.


"Pergi dari sini, dan jangan pernah menginjakkan kaki di rumah saya!"


Teriakan tersebut membuat Damar penasaran, ia kemudian mengurungkan niatnya mengambil air minum dan memutuskan pergi ke sumber keributan.


"PERGIII ..!" usir Mella pada Ardy.


"Saya harus bicara dengan ayah Damar, tante, saya akan tetap di sini!" ujar pria itu kekeh.


"Apa yang ingin kau bicarakan dengan saya?" suara berat yang berasal dari Damar membuat perhatian Mella, Jian dan Ardy teralih.


Mella melangkah mendekat ke arah suaminya. "Ini, yah, orang ini masih berani menampakkan diri di hadapan kita setelah apa yang sudah dia perbuat."


"Ayah, aku hanya-"


"Berhenti memanggil saya dengan sebutan itu! Saya bukan ayahmu," potong Damar.


Ardy diam mendengar ucapan pria itu barusan. Rasanya ada sedikit sakit di hatinya.


"Baik, paman. Saya mohon, beri kesempatan saya untuk bicara denganmu," pinta Ardy seraya memohon.


"Tidak ada yang perlu di bicarakan lagi!" ujar Damar pelan namun tegas.


Jian sangat takut sekali melihat Ardy kini berhadapan dengan ayahnya.


"Tapi, paman. Saya harus jelaskan mengapa aku melakukan itu pada Jian," seru Ardy.


Plaakk!


Sebuah tamparan keras mendarat mulus di pipi kiri Ardy. Jian begitu takut melihat hal tersebut, sementara Mella tersenyum puas.


Sudut bibir Ardy meneteskan darah segar akibat tamparan Damar. Namun ia tidak marah, sebab ia pantas menerima hal tersebut.


"Ayah, kenapa kau melakukan itu pada tuan Ardy?" seru Jian, matanya mulai meneteskan air mata.


Semua pasang mata kini tertuju padanya. Dan di antara ketiga orang di hadapan Jian, hanya Damar lah yang menatapnya dengan sorot mata kecewa.


"Kau ingin membela pria brengsek ini di depan ayah, nak?" tanya Damar lirih.


Jian menggeleng lemah. "Bukan seperti itu, ayah. Tolong beri kesempatan tuan Ardy untuk menjeleskan semuanya padamu!" pintanya kemudian.


"Nak, kau ini korban, sayang. Apa yang sedang ayah lakukan sekarang itu adalah membelamu, melindungimu. Dia sudah melecehkanmu, nak. Buka mata dan hatimu, dia bukan pria baik-baik, nak. Ayah merasa gagal menjadi sosok ayah yang tidak bisa menjaga putrinya," ucap Damar menciptakan haru biru.


"Tidak, ayah. Ayah berhasil menjadi sosok ayah, hanya saja aku yang gagal menjadi putrimu. Aku bahkan tidak bisa menjaga diriku sendiri."


Keharuan di antara mereka seketika kembali berubah menjadi ketegangan.


"Sudahlah, tidak usah drama, Jian. Ayah, kita bahkan tidak tahu, apa Jian hanya melakukannya dengan Ardy atau dia memang sudah menjajahkan tubuhnya di klub bersama pria-pria kaya lainnya," ucap Mella mengompor-ngompori.


"Jaga bicaramu, ma! Aku percaya dengan putriku, dia tidak akan melakukan hal itu."


Mella langsung di buat bungkam.


"Dan kau, pergi dari rumah saya! Jangan pernah menampakkan batang hidungmu lagi, dan jangan pernah mendekati putriku lagi! Mulai hari ini, putriku resign di perusahaanmu. Untuk semua kerugiannya, saya yang akan membayarnya beserta biaya Rumah Sakit saya. Tapi saya minta waktu untuk melunasi itu semua. Pergi dari sini!" usir Damar.


"Tapi, paman-"


Baru saja Ardy akan memprotes, tapi Danar sudah menarik Mella dan Jian masuk ke dalam rumah kemudian menutup pintu tersebut cukup kencang.


Ardy hanya bisa menghela napas panjang. Ia tidak akan menyerah sampai di sini. Ia harus mendapatkan maaf dari Damar. Harus.


Bersambung...


___


Dukung Novel ini atuh, agar akunya semangat nulis. Cukup tinggalin jejak LIKE, KOMEN, VOTE, terus Hadiah kalo punya POIN atau KOIN.


Tambahin juga ke RAK FAVORIT yaaaa.