
Waktu sudah menunjukkan pukul 7 malam. Sedangkan Ardy belum juga pulang ke Apartemen. Mungkn pria itu terjebak macet atau memang tidak akan pulang.
Jian menunggu pria itu sudah hampir 1 jam lamanya. Dan begitu pintu Unitnya terbuka, ia segera bangkit dari duduknya.
"Tuan, akhirnya kau pulang juha," serunya dengan menghampiri pria tersebut.
Ardy sedikit terheran di buatnya. Bahkn ia sampai lupa menutup pintu Unitnya kembali. "Ada apa?"
"Mmm ... Aku, aku harus pulang ke rumah besok. Ayh memintaku pulang," jelas Jian.
"Untuk apa?"
"Ada yang ingin ayah bicarakan padaku."
Ardy diam sejenak seraya memandangi wanita di hadapannya. "Bilng saja kau sibuk, kau tidak boleh pulang!" ucap Ardy tegas, kemudian melipir dari sana.
"Aku akan tetap pulang," seru Jian, menghentikan langkah Ardy yang sudah sampai di depan pintu kamarnya.
Pria itu menoleh, kemudian berjalan kembali menghampiri Jian.
"Kau ingin membantahku, hah?" sentakan Ardy berhasil membuat tubuh Jian terlonjak. Namun, ia tidak boleh lemah, ia harus berani menghadapi pria tersebut.
"Ya. Karena aku rasa, aku sudah lelah demgan semua ini, tuan. Kau selalu saja mengatur hidupku, bahkan untuk bertemu dengan ayahku sendiri saja aku tidak di perbolehkan."
Ardy mulai tersulut api emosi. Bisa-bisanya Jian bicara seberani itu padanya. "Kau mau aku penjarakan atas kerugian yang kau ciptakan di perusahaanku?"
Lagi, lagi, dan lagi untuk kesekian kalinya. Ancaman selalu saja di jadikam senjata oleh pria itu agar Jian patuh padanya.
"Silahkan! Aku sudah tidak takut dengan ancamanmu. Penjarakan saja aku! Mungkin itu cara agar aku bisa terlepas dari keegoisanmu," seru Jian, wanita itu tak kuasa menahan bulir bening yang sudah mulai terjatuh.
Jian menumpahkan semua yang selama ini ia pendam dalam-dalam. Lantaran ia sudah tidak tahan lagi dengan sikap egois bosnya.
Dan lihatlah reaksi Ardy sekarang, sorot mata penuh emosi itu kini berubah menjadi tatapan sendu.
"Ayahmu memiliki riwayat jantung?" tanyanya sedikit ragu.
Jian mengangguk lemah, ia menunduk lantaran air matanya terus saja mengalir.
Ardy menghela napas panjang, entah apa yanh sedang ia pikirkan sekarang. Tali yang jelas, mendengar ayah Jian memiliki riwayat penyakit jantung mengingatkannya pada sosok alm. ayahnya.
"Aku akan mengantarmu pulang besok," ucap Ardy lirih, nyaris tak terdengar.
Jian mendongakkan wajahnya menatap Ardy lekat-lekat, ia masih tidak percaya pria itu tiba-tiba memberinya izin semudah itu.
"Pergi ke kamarmu, dan kemasi barang-barangmu!" pintnya dengan nada bicara yang terdengar lembut.
Sebelum Jian masuk ke kamarnya, pria itu membantu menghapus air mata di kedua pipi wanita tersebut. Jian pun merasa di buat bingunh oleh sikap Ardy yang berubah-ubah. Kadang kasar, kadang kasar banget, juga bisa selembut sutera.
Seseorang yang berdiri di depan pintu Unit mereka, mengepalkan kedua tangan. Sepertinya dia mendengar seluruh pembicaraan antara Ardy dan Jian sejak awal.
Bersambung...
___
Jangan lupa like, komen, vote, dan beri aku hadiah, yaaaa! Karena dukungan kalian sangat berarti dan menambah semangatku dalam menulis.