
Ardy, Daven dan juga Diana kini pergi ke tempat yang di maksud oleh anak buah Sagara. Dari rekaman cctv yang Daven tunjukan, anak buah papanya itu sangat mengenal kedua preman itu. Preman tersebut merupakan teman lamanya yang baru saja bebas dari penjara usai menjalani hukuman selama kurang lebih 5 tahun.
Di tengah perjalanan, kedua orang tua Jian mengabari jika mereka baru saja mendapat informasi jika putri mereka di culik oleh dua preman. Mereka tahu dari security Apartemen lantaran perasaan mereka tidak enak dan memutuskan pergi ke sana.
Beruntungnya, sakit jantung Damar sudah sembuh total. Jadi pria itu tidak terkena serangan jantung saat mendengar berita penculikan putrinya. Ia pun memutuskan akan menyusul ke tempat dimana Jian berada usai Ardy mengirim alamatnya. Dengan taksi online, mereka pun pergi.
Jarak ke tempat dimana tempat persembunyian para preman yang di maksud anak buahnya Sagara itu lumayan jauh. Sehingga kemungkinan mereka sampai di sana malam.
Kini jam sudah menunjukkan pukul 8 malam. Sama halnya dengan gudang tempat ibunya di sekap, tempat tersebut pun jauh dari kata keramaian. Ardy menghentikan mobilnya saat sudah melihat bangunan kecil yang di tumbuhi banyak ilalang kering di sekitarnya.
"Kau yakin ini tempatnya, Dy?" tanya Daven yang duduk di samping kemudi.
"Mudah-mudahan benar Jian di sini, Dav," jawab pria itu.
"Matikan lampunya!" kata Diana yang duduk di jok belakang berada di tengah-tengah mereka saat melihat seseorang keluar dari dalam bangunan tersebut.
Ardy yang belum sempat mematikan mesin serta lampu mobilnya pun dengan cepat mematikannya. Mereka sedikit menunduk seraya memandang ke arah seseorang tadi dengan jarak kurang lebih 15 meter.
"Sepertinya orang itu di tugaskan jaga di luar," ujar Diana menerka-nerka.
"Itu artinya Jian memang berada di sana," kata Daven menyimpulkan.
Saat mereka hendak diam-diam turun dari mobil, sebuah mobil baru saja datang ke sana. Beruntung Ardy menghentikan mobilnya di antara ilalang yang sedikit tebal, sehingga keberadaannya tidak terlihat oleh seseorang yang berada di balik mobil tersebut.
Seseorang turun dari mobil tersebut. Meskipun memakai pakaian serba hitam yang sedikit longgar serta memakai penutup wajah, mereka bisa memastikan jika orang itu merupakan seorang wanita. Terlihat jelas dari postur tubuhnya.
Dan begitu wanita itu turun, mobilnya pergi. Mungkin dia menggunakan jasa taksi online.
"Kira-kira dia siapa, ya?" pikir Daven, sebab mereka tidak dapat mengenali wanita itu. Selain memakai penutup wajah, jarak di antara mereka cukup lumayan.
"Benar-benar gila jika itu beneran dia." Daven sampai tidak habis pikir.
"Lalu kita harus menunggu sampai kapan di sini? Jika wanita itu dalang di balik penculikan Jian, kita gak bisa tinggal diam. Kita harus bergerak cepat," usul Diana.
"Kau benar, sayang. Dy, apa kau punya rencana?"
Ardy diam sejenak untuk berpikir, kemudian menganggukan kepalanya.
"Ya, aku punya."
"Rencana apa?" tanya Daven penasaran.
Kemudian Ardy mengatakan rencananya. Daven dan Diana mengangguk paham.
Dengan penuh kehati-hatian, mereka turun dari mobil. Daven berjalan sedikit menjauh di antara mereka, kemudian pria itu mengambil batu berukuran kepalan tangan dan melemparkannya ke sembarang arah. Hal tersebut menarik perhatian si penjaga.
"Wooyyy... Siapa, lo?" teriaknya, kemudian menghampiri sumber suara.
Sementara penjaga tersebut pergi, Ardy dan Diana mulai berjalan mendekat ke arah bangunan tersebut. Tapi sayangnya, pintu itu di kunci. Sehingga membuat Ardy sedikit kebingungan.
"Coba pakai jepit rambutku, orang bilang ini bisa untuk membuka pintu yang terkunci." Diana memberikan benda kecil hitam yang ia pakai untuk menjepit poninya.
Ardy pun mencoba hal tersebut, tapi gagal. Tak ingin menyerah sampai di sana, Ardy terus akan terus mencobanya sebelum si penjaga itu kembali.
Bersambung...