
Daven sedikit panik saat melihat teman dan istrinya masih kesusahan membuka pintu, sementara si penjaga sudah mulai kembali. Ardy bisa saja mendobrak pintu tersebut, hanya saja ia tidak ingin kehadirannya di ketahui dan justru akan lebih membahayakan Jian.
Dengan cepat Daven mengikuti si penjaga namun masih dengan hati-hati. Ia mengambil sebuah kayu berukuran lengan tangan dan diam-diam layangkan pada pundak si penjaga. Sehingga penjaga tersebut jatuh tersungkur ke tanah. Setelah di pastikan tak sadarkan diri, Daven mulai meraba saku celana jeans milik si penjara guna mencari kunci pintu masuk ke bangunan itu.
Daven mengambil sesuatu dari saku celana tersebut kemudian segera menghampiri Ardy dan Diana usai mendapatkan apa yang ia cari.
"Menyingkirlah, aku sudah dapatkan kuncinya," ujar Daven memberi kelegaan di hati Ardy dan juga Diana.
Tidak membutuhkan waktu lama, pintu tersebut pun terbuka. Mereka bertiga langsung masuk menelusuri ruangan gelap guna mencari keberadaan Jian. Mereka melangkah dengan mengendap-endap, takut jika sewaktu-waktu ada preman lain yang menjaga di dalam. Dan benar saja, ada satu preman yang menjaga di depan sebuah ruangan. Sepertinya ruangan itu tempat dimana Jian berada.
Ardy, Daven, juga Diana kembali menyusun rencana, tapi mereka urungkan saat penjaga di depan ruangan tersebut pergi. Sepertinya dia akan pergi ke toilet, terlihat dari gerak-gerik tangannya yang berjalan sambil bersiap membuka resleting celana yang di kenakannya.
Sementara Daven mengikuti penjaga ruangan tersebut, Ardy dan Diana bergerak cepat memasuki ruangan itu. Beruntungnya kunci pintu ruangan tersebut menggantung di paku yang ada di sebelah pintu. Ardy bisa langsung masuk ke dalam ruangan tersebut tanpa harus mencari dimana letak kuncinya.
Saat pintu di buka secara perlahan, ia di suguhkan oleh sebilah pisau yang di layangkan ke udara. Dan ketika kedua bola matanya tertuju pada wanita hamil yang di ikat di sebuah kursi, ia langsung lari dengan perasaan yang tidak karuan.
"Selamat tinggal wanita sialan..."
Wanita itu melayangkan pisaunya di udara, di iringi oleh senyum seringai menyambut kebahagiaan. Jian tak sanggup lagi untuk menangis, yang hanya bisa ia lakukan saat ini berdoa sambil menutup mata, berharap ada seseorang yang akan menyelamatkannya.
Jian membuka kedua bola matanya saat mendengar seseorang yang akan mencoba membunuhnya itu berteriak.
Suamiku? Batin Jian dengan penuh syukur.
Ardy berhasil mencegah aksi gila yang di lakukan wanita yang nyaris membahayakan istrinya. Merasa ada dirinya yang berada dalam bahaya saat ini, ia segera memakai kembali tudung kepala beserta maskernya. Kemudian mencoba melarikan diri.
Sementara Ardy mengejar si pelaku, Diana membantu melepaskan ikatan tali di tangan dan kaki Jian. Juga lakban yang menutup mulutnya. Diana membantu Jian bangun, sebab tubuh Jian sudah sangat lemas sekali.
"Berhentiiiiiii...!!" teriak Ardy meminta wanita itu agar menghentikan langkah, beruntungnya ada Daven yang menghadang wanita tersebut usai berhasil menghajar preman yang tadi ke toilet.
"Mau kemana?" tanya Daven seraya mengembangkan senyum seringai pada wanita itu.
Wanita tersebut menggelengkan kepalanya merasa takut. Tidak boleh ada yang bisa menangkapnya. Ia harus bisa kabur dari mereka. Kedua matanya mulai mencari celah, dan di sisi sebelah kanan Daven sepertinya celah yang baik untuk ia lolos dari sana. Maka dari itu ia mulai kembali melangkahkan kaki, dan...
Bersambung...