
Usai menata piring yang baru saja di cuci oleh menantunya, pandangan mata wanita itu kini tertuju pada tempat sampah yang sudah penuh. Ia berinisiatif untuk membuang sampahnya ke lantai bawah yang ada di samping gedung Apartemen.
"Ibu mau kemana?" tanya Jian saat mertunya hendak keluar dari Unit.
"Mau buang sampah sebentar, nak," jawab Lily sambil memperlihatkan wadah sampah di tangannya.
"Biar aku saja, ibu tunggu di sini," usul Jian.
"Sudah, tidak apa-apa. Biar ibu saja," ujar wanita itu kekeh dan berlalu dari sana.
Lantaran takut terjadi sesuatu, Jian memutuskan untuk mengikuti wanita tersebut.
Sampai di lantai bawah, Lily bergegas pergi menuju tong sampah besar yang tidak jauh dari sana. Begitu selesai membuang sampah tersebut, ia pun kembali. Namun langkahnya tiba-tiba saja terhenti, saat sorot matanya tertuju pada seorang pria yang baru saja turun dari mobil dan masuk ke dalam Apartemen.
Wajah Lily pun berubah panik, ketakutannya kian menjadi. Ia berjongkok sambil menutupi wajahnya menggunakan tong sampah, sebisa mungkin ia membungkam mulutnya agar tidak teriak.
Sebuah tangan tiba-tiba menyentuh bahu sebelah kanan Lily, membuat kedua mata wanita tersebut yang semula terpejam kini terbuka begitu lebar.
"Jangan sentuh saya, saya mohon! Jangan sentuh saya..!" teriak Lily di iringi isak tangis.
"Ini aku Jian, bu. Ibu kenapa?" tanya Jian cemas.
Tangis Lily pun berhenti, kemudian ia mendongakan wajah. Dan benar, itu adalah menantunya. Secepat kilat wanita itu menghambur ke dalam pelukan Jian dengan penuh ketakutan, Jian terheran melihatnya.
"Ada apa, bu. Apa terjadi sesuatu buruk?"
Lily melepaskan pelukannya, ia menatap wajah Jian sambil memegangi kedua bahu menantunya dengan erat.
"Dia ada di sini, dia ada di sini. Tolong ibu, nak. Tolong ibu!" ucap Lily dengan ketakutan.
"Dia siapa, bu?" tanya paham tidak paham.
Jian cukup khawatir dengan kondisi ibu mertuanya. Apa ibu mertuanya ini sedang halusinasi? Pikir Jian.
"Itu, itu orangnya," tunjuk Lily ketika pria itu muncul dari kejauhan.
Jian segera menarik ibu mertuanya ke dekat tong sampah besar dan mengumpat di balik tong tersebut. Sekarang ia paham apa yang di maksud oleh ibu Lily, dengan cepat ia mengeluarkan ponsel dari saku baju.
Jian berniat untuk mengambil foto wajah pria itu, tapi pria itu keburu masuk ke dalam mobilnya. Akhirnya Jian mengambil foto mobil tersebut dan mengirimkan foto tersebut langsung kepada suaminya.
Mobil tersebut pun pergi dari sana, dan Jian segera menenangkan Lily.
"Orang itu sudah pergi, bu. Ayo kita masuk, lain kali ibu jangan pergi-pergi sendiri, ya!" pesan Jian di angguki oleh ibu mertuanya.
"Iya, nak. Maafkan ibu..!" sesal Lily.
Sementara di perjalanan pulang, perhatian pria yang semula fokus pada jalanan kini teralih pada benda pipih yang ada di balik saku jasnya. Pria itu langsung merogoh ponsel tersebut dan yang mendapat notifikasi pesan masuk.
Kenapa Jian mengirimiku foto mobil? Batin Ardy saat membuka pesan whatsapp dari istrinya.
Klung...
Satu pesan lagi berupa teks yang berasal dari orang yang sama pun masuk.
Sayang, tadi ibu ketakutan saat melihat ada pria yang datang ke Apartemen. Aku tidak berhasil mengambil foto wajahnya, tapi setidaknya kita bisa mencari tahu orang itu melalui plat mobilnya.
Usai membaca pesan tersebut rahang Ardy terlihat mengeras, ia kembali emosi. Mungkin dia adalah orang yang sudah melakukan kejahatan keji pada ibunya. Tapi kenapa pria itu bisa ke Apartemen yang sama dengannya. Memangnya siapa dia?
Bersambung...