
Daven tak henti-hentinya memandangi layar ponsel, ia sudah tidak sabar menunggu balasan chat dari Jian. Dan sedetik kemudian ponselnya mengeluarkan suara notifikasi pesan masuk.
Aku sedang mengambil cuti untuk pulang ke rumah.
Perasaan Daven kini lebih tenang setelah mendapat balasan chat dari wanita itu. Ternyata Jian tidak sedang sakit, melainkan sedang mengambil cuti untuk pulang ke rumahnya. Ia pun kini memutuskan turun dari lantai delapan menuju lantai Unitnya.
Keesokan harinya.
Jian sudah tampak rapi dengan stelan modis yang Daven belikan tempo hari di mall. Ia terkejut mendapati Ardy sedang tidur di ruang makan. Lalu ia berjalan menghampiri pria tersebut.
"Tuan ..." panggilnya lirih.
Ardy pun terbangun, matanya yang masih setengah terpejam kini langsung melebar ketika melihat stelan pakaian yang di kenakan Jian. Ia memandang wanita di hadapannya benar-benar berubah seratus delapan puluh derajat dari sebelumnya. Tanpa ia sadari, sudut kanannya terangkat membentuk sebuah senyuman.
"Tuan ..." Lambaian tangan Jian menghancurkan pikiran Ardy yang sudah mulai tersusun rapi.
Ardy kembali memasang wajah dinginnya. "Buatkan aku bubur seperti kemarin!" pintanya.
"Hah?"
"Buatkan aku bubur seperti kemarin! Apa kau tidak mendengarnya?"
"I-iya, aku mendengarnya, tuan. Tapi ini sudah waktunya aku berangkat kerja dan bukankah kau tidak suka bubur?"
Ardy sedikit salting di buatnya, ia benar-benar menyesal sudah mengatakan tidak suka bubur kemarin. Sebab bubur itu cukup enak ternyata, atau mungkin karena buatan Jian yang membuat makanan tidak enak sekalipun jadi enak di tangannya.
"Mm, ya. Iya aku memang tidak menyukainya, tapi mulai hari ini aku sangat menyukai bubur. Jadi cepat buatkan sekarang juga, dan jangan lupa ayamnya yang banyak!"
Jian menghela bapas pasrah, percuma juga jika ia membantah perintah Ardy. Pria itu pasti akan memberinya ancaman yang membuatnya lelah mendengar.
"Ya sudah. Aku buatkan."
Senyum di bibir pria itu mengembang dengan sempurna. Layaknya anak kecil yang merengek meminta di belikan mainan baru, dan sang ibu membelikannya. Seperti itulah kiranya ekspresi bahagia yang di tunjukkan oleh Ardy.
Ardy memperhatikan Jian ketika memasak bubur. Sorot matanya mengikuti kemanapun Jian bergerak. Ternyata wanita itu pandai sekali memasak. Meskipun semur jengkol yang dia masak menciptakan bau mulut, tapi ia tidak bisa menyangkal jika masakan itu sangatlah nikmat.
Jadi, buat kalian semua yang gak suka jengkol. Mulai sekarang, cobalah! Pasti akan ketagihan pula.
Jian melirik arloji berukuran kecil yang melingkar di pergelangan tangan mungilnya. Dia sudah hampir terlambat, meskipun sang bos berada di hadapannya, namun ia tidak mau terlambat apalagi sampai menyia-nyiakan pekerjaannya. Ia menyambar tas kecil di meja lalu beranjak dari sana.
"Mau kemana?" Ardy menarik lengan Jian, mencegah wanita tersebut yang hendak pergi.
"Aku harus segera pergi ke kantor, tuan. Sebentar lagi aku akan terlambat."
Ardy tersenyum melihat kepanikan yang muncul di wajah Jian. "Kau begitu mematuhi peraturan bosmu di kantor. Aku harap kau pun mematuhi peraturan bosmu di Apartemennya."
Jian mengernyit. "Maksudmu?"
Ardy menarik kursi di hadapannya. "Duduklah! Tidak perlu masuk kantor untuk satu hari ini lagi. Temani aku!" pintanya kemudian.
"Tapi aku harus-"
"Aku tidak suka di bantah. Duduklah!" Ardy merengkuh bahu Jian kemudian menjatuhkan tubuh tersebut ke kursi yang ada di hadapannya. Ia sama sekali tidak memberi kesempatan wanita itu untuk melayangkan protes.
Untuk kesekian kalinya Jian harus pasrah. Ingin rasanya ia menamplokan bubur panas itu pada wajah Ardy. Tapi sayangnya ia tak memiliki keberanian untuk melakukan hal itu. Bisa-bisa, pria itu memberi hukuman yang lebih berat lagi.
Sementara Ardy menyantap bubur tersebut dengan mulut tidak karuan. Seperti ikan yang di taruh di daratan. Sebab bubur yang masih mengepul itu ia sendok ke mulut dan cuuuuut .... itu panasnya. Terus Ardy beralih ke minum lalu meneguknya sampai habis. Dan ternyata setelah minum, panasnya hilang. Terus kata Jian:
"Eh, tuan. Pelan-pelan dong makannya, aku belum kebagian, nih!"
Duk duk.
Bersambung...
___
Hayooooo ... Siapa nih yang baca kalimat terakhir kayak iklan odoooool. 😂😂😂
Silahkan angkat kaki, siapa aja😅
Jangan lupa like, komen, vote, dan beri aku hadiah, yaaaa! Karena dukungan kalian sangat berarti dan menambah semangatku dalam menulis.
Follow juga Instagram @wind.rahma