One Night Stand With TUAN MUDA

One Night Stand With TUAN MUDA
Siapakah Wanita Itu?


...Selamat hari SENIN, saatnya memberi VOTE!...


...🌷🌷🌷Happy Reading🌷🌷🌷...


Hari ini Ardy dan Jian pergi ke rumah Damar. Ardy berniat untuk memberi kunci ruko pada orang tua Jian. Sebab tempo hari orang suruhan Ardy berhasil membeli sebuah ruko berisi usaha furniture, yang jaraknya kebetulan tidak jauh dari tempat kediaman Damar. Hanya membutuhkan 3 kilo meter saja dari rumah pria paruh baya itu.


"Terima kasih banyak, nak Ardy. Ayah tidak tahu harus membalas kebaikan nak Ardy dengan cara seperti apa," ucap Damar merasa terharu.


"Sama-sama, ayah. Tidak perlu berlebihan seperti itu. Lagipula saya kan sudah janji akan memberi ayah sebuah usaha, agar ayah tidak lagi harus bekerja berat di luaran sana," balas Ardy.


"Yakin tidak ada maksud lain? Atau, kau meminta keuntungan dari hasil usaha kami nanti?" seru Mella, membuat pasang mata kini tertuju padanya.


"Itu hanya pikiran burukmu saja, tante," jawab Ardy dengan berani, sebab semakin kesini wanita itu serasa menjengkelkan.


Mella membelalakan matanya ke sembarang arah. Niatnya menjatuhkan Ardy di hadapan suaminya justru berbanding terbalik.


Suara dering panggilan masuk dari ponsel milik Ardy terdengar nyaring sekali, pria itu segera mengambil benda pipih tersebut dari saku jas abu-abu yang saat ini di kenakannya.


Tertera nama Alice di layar ponselnya, tanpa menunggu lama lagi, Ardy pun segera menggeser ikon berwarna hijau di sana.


"Halo, Lice. Ada apa?"


"Halo, tuan. Saya ingin mengingatkan jika hari ini ada meeting dengan perusahaan PT. Koloni Bahtera pukul 9 pagi," ucap Alice dari sebrang sana.


"Baik, terima kasih. Saya ke kantor sekarang."


Ardy pun mematikan saluran teleponnya. Mengingat ini sudah hampir pukul delapan, ia langsung berpamitan pada kedua orang tua Jian.


"Ayah, tante, aku pamit ke kantor sekarang. Jian, kau mau ikut denganku atau di sini dulu?"


"Aku ikut tapi aku mau turun di Supermarket, banyak bahan masakan yang harus aku beli," kata wanita itu.


"Tapi nanti kau sendirian, Jian." Ardy tampak sedikit khawatir.


"Tidak apa-apa, aku bisa jaga diri." Jian berusaha meyakinkan suaminya.


"Sungguh?"


"Ya."


"Ya sudah kalau begitu. Ayah, tante, aku pergi," pamit Ardy lagi seraya beranjak dari kursi, mencium punggung tangan Damar dan Mella secara bergantian.


"Ayah, ibu, aku pergi dulu. Assalamu'alaikum," pamit Jian usai bersalaman.


"Walaikum salam, hati-hati, nak!"


"Ya, ayah."


Ardy dan Jian pun memasuki mobil dan tidak sampai 10 detik, mobil tersebut sudah keluar dari pelataran rumah Damar.


🌷🌷🌷


Ardy menurunkan istrinya di depan sebuah Supermarket seperti permintaan Jian tadi.


"Nanti kalau sudah selesai belanja, telepon aku. Nanti aku akan meminta orang suruhanku untuk menjemputmu," pinta Ardy sebelum mengemudikan mobilnya.


"Tidak usah, aku bisa naik taksi online," tolak Jian.


"Tapi aku tidak akan tenang jika kau berkeliaran sendiri dalam keadaan hamil, Jian."


"Tidak usah khawatir, tidak akan terjadi apapun!" tegas Jian.


"Iya, hati-hati!" Jian melambaikan tangannya sampai mobil tersebut hilang dari pandangannya.


Jian pun masuk ke dalam Supermarket. Di dalam, ia memilih bahan masakan seperti bahan ia akan membuat sup, ada brokoli, jagung, ayam, ikan, dan sayuran lainnya.


Setelah selesai memilih bahan masakan apa saja yang ia beli, Jian segera membayarnya ke kasir. Sebelumnya Ardy sudah membekalinya kartu kredit, supaya Jian bisa membeli bahan masakan dalam jumlah banyak.


Sekitar 30 menit berada di dalam Supermarket, Jian pun keluar dari sana dengan menenteng 2 kantong plastik hitam berukuran besar. Ia sedikit kewalahan membawanya. Sambil menunggu taksi online yang sudah ia pesan datang, Jian duduk sejenak di bangku besi yang tersedia di sana.


Seketika saja perhatian Jian teralih pada sosok wanita yang sedang mengumpat di belakang bangku besi yang tengah ia duduki. Wanita itu tampak ketakutan sekali, entah apa yang membuatnya ketakutan seperti itu.


Lantaran penasaran, ia pun bertanya pada wanita itu.


"Maaf, ibu siapa?" pertanyaan Jian membuat wanita yang semula menunduk itu kini mendongakkan kepalanya.


"Tolong saya, nak. Tolong.." ucap wanita itu dengan bibir pucat yang tampak gemetar. Bajunya tampak robek-robek juga ada bercak darah di sana.


Jian di buat sedikit waspada, lantaran suaminya sudah mewanti-wanti untuk tetap menjaga diri. Sebab kejahatan bisa datang kapan saja dan dari siapa saja. Dan penampilan bisa saja menipu.


"Ibu siapa? Dan ibu kenapa?" tanya Jian lagi untuk memastikan.


"Tolong ... saya mohon .. Tolong saya ..!"


Lagi-lagi ucapan minta tolong yang keluar dari mulut wanita paruh baya itu. Jian ingin mengabaikan wanita tersebut saat taksi online nya sudah sampai, namun ia orang yang tidak tegaan. Bahkan ketika ia akan melangkah menuju mobil, wanita itu menarik kakinya dan bersimpuh di sana. Ia menjadi pusat perhatian beberapa orang yang berlalu lalang di sekitar Supermarket.


"Tega banget, sih, ibunya sampe sujud kayak gitu di biarkan begitu saja. Dasar anak durhaka!" cibir salah seorang gadis remaja yang berjalan bersama rombongan temannya, gadis itu melayangkan tatapan sinis pada Jian.


Tak ingin menjadi cibiran banyak orang, akhirnya Jian membangunkan wanita tersebut usai menunda 2 kantong plastik di tangannya di atas tanah.


"Ikut aku, bu," ajak Jian dengan cepat di angguki wanita yang tidak di ketahui identitasnya itu.


Wanita tersebut menoleh ke kanan dan ke kiri, serta ke belakang. Memastikan tidak ada orang yang membuatnya sampai ketakutan seperti ini.


"Ayo, bu," Jian mengajak wanita itu untuk segera naik ke dalam mobil.


Wanita itu pun naik ke dalam mobil, sementara Jian harus memasukkan barang bawaannya dulu ke dalam mobil tersebut.


Di dalam perjalanan, ketakutan wanita di sampingnya itu tak kunjung mereda. Wanita itu terus menengok ke ke semua arah melalui kaca jendela. Itu membuat Jian terheran-heran.


"Bu, ibu kenapa? Kenapa ibu terlihat begitu ketakutan?"


Tidak ada jawaban yang keluar dari mulut wanita itu.


"Ibu tinggal dimana? Biar saya antar," tanya Jian lagi.


Lagi-lagi tidak ada jawaban, wanita itu tetap diam tak bergeming. Akhirnya Jian memilih diam saja. Percuma juga, sebanyak apapun ia bertanya, wanita itu tak kunjung memberinya jawaban.


Bersambung...


___


...Jangan lupa POIN nya beri ke aku, yah, dengan cara klik BERI HADIAH di bawah cover. Atau jika punya KOIN jangan sungkan-sungkan untuk di SODAKOHKAN agar rezekinya tambah banyak....


...TAMBAHKAN KE RAK FAVORIT YAAA❤...


...Bantu SHARE cerita ini ke grup fb atau WA yang suka baca Novel, ya 😊...


...Follow Ig: @wind.rahma...