One Night Stand With TUAN MUDA

One Night Stand With TUAN MUDA
Penangkapan Alana


Ardy dan Daven membantu membaringkan tubuh Damar di atas tempat tidur. Melihat kondisi pria itu seperti ini membuat Ardy dan juga Daven lebih baik menghentikan pembahasannya mengenai hukuman yang harus Alana terima. Namun pria paruh baya tersebut menghentikan langkah kedua pria yang hendak pergi dari kamarnya.


"Tunggu nak Ardy, nak Daven!" Ardy serta Daven menoleh pada suara serak nan berat berasal dari Damar.


"Ya, paman, ada apa?" jawab Ardy, kemudian mereka kembali ke tepi ranjang bersama Jian dan Mella yang berada di sana.


"Biarkan mereka pergi, ayah! Kedatangan mereka hanya mengusik ketenangan keluarga kita," seru Mella masih emosi.


Semua pasang mata tertuju pada wanita menyebalkan itu, saat Damar kembali mengucapkan kalimat yang membuat Mella akhirnya bungkam.


"Kau diam saja, ma! Lebih baik mama keluar jika terus memperburuk keadaan!" usir Damar.


Mella akhirnya diam seraya membelalakan kedua matanya malas. Lagi-lagi suaminya lebih mementingkan kehadiran orang lain daripada dirinya yang istrinya.


"Nak Ardy, nak Daven, lalu apa alasan kalian tetap membiarkan wanita pembunuh istriku?" tanya Damar masih dengan menahan tangis.


"Saya, Jian, dan Daven membuat rencana untuk menyelidiki lwbih jauh mengenai kehidupan Alana paman. Tentang apakah, maaf, ibu Jian seperti yang di katakan Alana atau ada kesalahpahaman di antara hubungan ibu Jian dan kedua orang tua Alana," terang Ardy.


"Ya, paman. Kebetulan Alana itu tertarik padaku, kemudian Ardy memintaku untuk mendekatinya guna masuk ke dalam kehidupannya. Dan ternyata benar, setelah aku bertemu dengan keluarganya, aku banyak bertanya mengenai hubungan bibi Amina dengan orang tua Alana, ternyata bibi Amina merupakan teman baik ayah Alana yang bernama Doddy," tambah Daven.


"Doddy?" tanya Damar terkejut.


"Betul, paman. Apa paman juga mengenali beliau?" jawab dan tanya balik Daven.


"Tentu saja. Dia memang teman baik ibu Jian sejak mereka duduk di bangku sekolah. Dulu hubungan kami dengan beliau cukup baik. Jadi, Alana itu putri Doddy?"


"Ya, paman. Alana mengira jika kehadiran bibi Amina itu perusak hubungam kedua orang tuanya. Maka dari itu dia nekad membun-"


"Cukup, cukup!" pinta Damar lirih, hatinya terasa perih mendengar istrinya meninggal dengan cara di bunuh secara tragis.


Jadi pembunuh Amina itu putri dari Doddy? Ya Allah, aku tidak menyangka. Batin Damar.


Pria itu kini di kungkung dalam perasaan yang teramat bingung. Satu sisi pembunuh istrinya harus di hukum seberat-seberatnya. Tapi ia juga merasa berat, jika harus menghukum putri teman dari istrinya sendiri yang teramat baik.


Dapat Jian lihat, jika ayahnya tengah di landa kebingungan saat ini. Ia mungkin bukan ahli psikolog yang bisa membaca pikiran dari raut wajah seseorang, tapi ia yakin jika ayahnya tengah merasakan hal tersebut.


"Alana harus di hukum seberat-beratnya, ayah! Tidak adil jika ia di biarkan hidup tenang setelah apa yang sudah ia perbuat. Jika ia berani berbuat, maka ia harus siap menanggung konsekuensinya," tutur Jian berusaha bijaksana.


"Benar, paman. Setelah ini saya dan Daven akan pergi ke kantor kepolisian untuk menyerahkan kasus ini beserta buktinya," sahut Ardy.


Damar terdiam sejenak. Apakah kedua orang tua Alana akan menerima kenyataan jika putrinya mendapatkan hukuman atas perbuatannya? Doddy merupakan orang baik, mudah-mudahan ia siap menerima kenyataan tersebut.


Damar menganggukan kepalanya lemah.


"Lakukan saja, nak Ardy, nak Daven! Lakukan apapun yang memberi keadilan untuk keluarga kami!" ucap Damar mantap.


"Baik, paman," ucap Ardy dan Daven secara bersamaan.


"Hati-hati, tuan, Dav!" kata Jian sebelum mereka berdua pergi.


"Terima kasih, Jian."


Setelah keduanya pergi, Jian menatap sayu ayahnya. Mereka saling berpelukan kemudian menumpahkan tangis di sana. Dunia memberi mereka kenyataan yang begitu kejam, tapi mereka tetap bersyukur karena akhirnya Tuhan membongkar kebenarannya.


Apa hari ini kalian sudah beryukur juga? Ucapkan hamdalah sebanyak 3 kali dengan tulus dan ikhlas.


🌷🌷🌷


Hari ini jam makan siang di perusahaan tempat Alana bekerja sudah tiba. Wanita tersebut mengajak teman yang kini menjadi bestie nya untuk makan siang di tempat biasa, yakni restoran Jepang.


Kini mereka tengah berjalan bersama menuju lift.


"Lihat kan, sampai detik ini si Jian belum juga masuk kantor. Mungkin dia masih asik di cumbu oleh tuan Ardy."


"Hahaha .. Benar juga kau, Alana. Tuan Ardy pun akhir-akhir ini tidak pernah masuk kantor. Kasihan Alice, dia yang selalu menggantikan rapat pentingnya," sahut Emely, bestie nya.


Keduanya terus berbincang membahas soal Jian, di selingi oleh tawa ejekan yang ia tujukan untuk wanita yang di maksud. Lalu langkah mereka berhenti di depan lift yang masih tertutup. Sampai akhirnya pintu lift pun terbuka, menampakkan dua orang pria bertubuh besar dan tinggi dengan seragam coklat dan topi di kepalanya.


"Dengan nona Alana?" tanya salah satu dari mereka.


Alana benar-benar terkejut saat salah satu polisi menanyakan identitasnya.


"I-iya, benar. Ada apa, pak?" tanya Alana gugup sekaligus takut.


Polisi yang berdiri di samping yang satunya lagi segera melangkahkan kaki dan mengaitkan tangan Alana ke belakang dengan borgol. Mendapat perlakuan barusan Alana langsung panik, begitupun dengan Emely yang langsung melangkah menjauh.


"Apa-apaan ini? Kenapa anda memborgol saya, pak?" tanya Alana ketakutan, ia berusaha memberontak, namun tenaganya tentunya kalah oleh borgol yang mengikat lengannya cukup erat.


Semua karyawan yang awalnya berlalu lalang kini bergerombol, mereka sangat penasaran akan apa yang terjadi.


"Nona kami tangkap atas kasus pembunuhan bernama Amina sekitar 4 tahun lalu, serta kasus pengubahan data keuangan yang merugikan perusahaan milik tuan Ardy Tamajaya," jelas polisi yang berdiri di hadapannya.


Semua orang yang bergerombol di sana membungkam mulutnya yang menganga masing-masing, lantaran tidak percaya dengan apa yang di lakukan oleh wanita yang tengah di ringkus polisi tersebut.


Sorot mata Alana seketika mengarah pada Emely dengan tajam. Emely yang juga tidak tahu apa-apa langsung ketakutan.


"KAU YANG MELAKUKAN INI PADAKU, EMELY??" tanya Alana dengan amarah, wajahnya kini merah padam.


"Tidak, Alana! Aku tidak pernah melakukan apapun padamu," bantah Emely.


"Dasar pengkhianat! Aku menyesal menjadikanmu teman curhatku. Awas saja, Emely, aku tidak akan tinggal diam jika sesuatu terjadi padaku!" ancaman Alana sungguh membuat Emely ketakutan.


"Percayalah, Alana! Aku tidak pernah mengatakan rahasiamu pada siapapun," teriak Emely saat Alana sudah di seret paksa oleh pihak kepolisian.


Alana melewati segerombolan orang-orang di kantor yang tengah bisik-bisik membicarakannya dengan tatapan sinis yang mereka layangkan. Sambil sesekali ia memberontak agar borgolnya di lepaskan meski itu berakhir sia-sia.


Hal tersebut pun tidak terlepas dari beberapa orang yang merekam kejadian Alana. Sampai akhirnya berita tersebut menyebar luas dan tidak lama terdengar oleh awak media.


...Bersambung......


___


...Bantu SHARE cerita ini ke grup fb atau WA yang suka baca Novel, ya 😊...