
"... Selamat siang, pemirsa. Hari ini perusahaan milik pengusaha muda bernama Ardy Tamajaya tengah di hebohkan oleh seorang karyawan wanita yang tiba-tiba saja di seret paksa oleh dua orang pihak kepolisian, dengan tuduhan kasus pengubah data keuangan yang menyebabkan perusahaan mengalami kerugian besar, serta kasus pembunuhan 4 tahun silam. Selengkapnya anda bisa melihat liputannya..."
Suara yang berasal dari sang pembawa acara berita televisi tersebut mengalihkan perhatian seorang wanita bernama Aina yang hendak memasuki kamarnya. Entah kenapa ia penasaran dengan siapa yang pembawa acara berita televisi itu maksud.
Begitu Aina melihat siapa karyawan wanita yang di seret paksa oleh dua pihak kepolisian di televisi, kedua matanya membulat sempurna, mulutnya yang menganga langsung ia tutupi menggunakan kedua telapak tangannya.
"Alana putriku??" ucapnya lirih dengan perasaan yang masih tidak percaya.
Aina menggeleng-gelengkan kepalanya beberapa kali, ia tidak berani melangkah lebih dekat ke arah televisi.
"Tidak, ini tidak mungkin. Putriku pembunuh? Tidak, TIDAAAK..." teriaknya histeris, pandangannya mulai memburam dan menghitam, sampai akhirnya ia terjatuh ke lantai tak sadarkan diri.
🌷🌷🌷
Di kantor polisi.
Pihak kepolisian yang menyeret paksa Alana memasukan wanita itu ke dalam sel jeruji besi usai di buka borgolnya.
"Keluarkan aku dari sini, aku tidak bersalah! Keluarkan aku..!" teriak Alana saat polisi tersebut mulai meninggalkannya.
Sekuat apapun ia mengguncang-guncang sel jeruji besi, dan sekeras apapun ia berteriak, itu tidak akan mengubah apapun. Yang ada, orang yang lebih dulu berada dalam sel yang sama merasa terganggu akan kehadirannya.
"Berhenti berteriak, sialan!" cecar wanita bertubuh besar dengan rambut pirang terurai bergelombang itu pada Alana.
Mendengar ada suara yang berasal dari belakang tubuhnya, Alana pun menoleh.
"Memangnya kenapa, itu hakku?! Dan kau tidak punya hak untuk itu!" balas Alana.
Wanita itu merasa tertantang oleh kalimat yang di ucapkan Alana. Ia berdiri dari duduknya dan melangkah ke hadapan Alana.
"Berani sekali kau!" sentak wanita itu dengan menarik bagian ujung rambut Alana.
"Aaaw ... Lepaskan, ini sakit, aaaaww ..." rintih Alana sembari berusaha melepaskan tangan wanita itu dari rambutnya.
"Hahaha .. Sakitkah? Ini tidak seberapa, aki bisa membuatmu lebih sakit dari ini. Jika kau masih berani denganku, mka aku akan memberi kesakitan itu, paham?! " ancamnya.
Tak lagi berani melawan tahanan lama yang bersamanya, Alana pun menyerah. Ia tidak mau membuang-buang waktu untuk berdebat dengan wanita yang tidak penting. Yang harus ia lakukan saat ini yaitu, bagaimana cara keluar dari sel jeruji besi ini.
"Ya, ya, aku minta maaf! Aku menyerah," ucap Alana.
Wanita itu akhirnya melepaskan rambut Alana cukup kasar, kemudian kembali duduk bersandar ke dinding di belakang bagian pojok.
Seorang polisi yang berbeda kembali mendatangi sel.
"Nona Alana, ada yang ingin bertemu dengan anda," kata polisi tersebut.
"Siapa?" tanya Alana seraya mengernyitkan dahi.
"Ikut saja!"
Polisi tersebut membukakan pintu sel, kemudian memborgol kembali tangan Alana di depan.
Alana mengikuti langkah polisi tersebut seraya memikirkan siapa yang ingin bertemu dengannya.
Apa yang ingin bertemu dengangku itu ayah dan ibu? Tapi darimana mereka tahu? Apa beritaku ini sudah menyebar luas? Ya Tuhan, bagaimana ini. Batinnya.
"Itu yang ingin bertemu denganmu," polisi tersebut menunjuk ke arah seorang pria yang duduk di bangku ruang kunjungan.
"Daven.." ucapnya lirih.
Pria itupun menoleh saat Alana sudah berdiri tidak jauh dari duduknya.
Senyuman di bibir Alana langsung mengembang dengan begitu sempurna, ia tidak menyangka jika Daven akan menemuinya. Dengan cepat ia melangkahkan kaki dan duduk di hadapan pria itu.
"Aku tidak menyangka kau akan datang untuk menemuiku, Dav. Dav, kau pasti membantu mengeluarkanku dari sini, kan? Kau percaya jika aku tidak mungkin melakukan apa yang di tuduhkan polisi untukku kan? Ayolah, Dav, katakan!" tanya Alana dengan berbondong-bondong dan rasa percayanya yang begitu tinggi.
Daven tersenyum miring. "Sabar, ya, Alana. Seorang pembohong sepertimu memang pantas menerima hukuman."
Ucapan Daven barusan seketika merubah ekspresi penuh harapnya menjadi tegang.
"Maksudmu?"
"Tidak ada maksud apapun, aku hanya mengatakan yang sebenarnya," ucap pria itu.
"Dav, jadi kau juga percaya dengan apa yang di tuduhkan polisi padaku, hah? Percayalah, Dav, aku bukan orang yang seperti itu," elaknya.
"Benarkah? Lalu apa untungnya aku percaya padamu?" tanya Daven di akhiri senyuman remeh.
Alana meraih buah tangan Daven yang berada di atas meja meski keadaan tangannya tengah terborgol. Pria itu segera menjauhkan tangannya barusan, ia tak sudi di sentuh oleh wanita seperti Alana.
"Dav, aku mohon, percayalah padaku! Aku yakin aku sedang di jebak. Aku yakin pasti Jian yang melaporkan aku, Dav. Karena dialah yang merugikan perusahaan tuan Ardy, dan sekarang dia malah membalikan fatka dengan menuduhku. Jian sungguh kejam, dia manusia tak berperasaan," Alana berusaha mengiba.
"Berhenti menyalahkan orang lain, Alana! Terutama Jian. Justru Jian adalah korban dari apa yang kau lakukan," ucap Daven tegas.
"Dav-"
"Kau tahu siapa yang melaporkanmu?" pungkasnya.
"Pasti Jian."
"Benar. Jian, keluarganya, Ardy, dan juga aku."
Alana menatap pria di hadapannya dengan tatapan tidak percaya. "Kau?"
"Ya, aku ikut melaporkanmu bersama mereka. Sebab aku yang memiliki bukti kejahatanmu, Alana."
"Bukti? Bukti apa, Dav?"
Kemudian Daven mengeluarkan ponsel dari balik saku jasnya, kemudian memutar pembicaraan Alana dengan Emely di restoran Jepang.
Ketakutan Alana kian bertambah saat mendengar pembicaraannya ternyata di rekam oleh orang lain yang sialnya adalah Daven.
"Bagaimana, apa kau masih ingin menyangkal?" tanya Daven seraya memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku jas.
"Dav, dengarkan aku!" pinta Alana saat Daven hendak beranjak dari duduknya.
"Apa yang harus aku dengarkan dari mulut seorang pembohong? Kebohongan? Cih, selain pembohong kau juga merupakan seorang pembunuh. Dasar wanita hina yang kehilangan akal sehat!" maki Daven kemudian pergi dari hadapan Alana.
"Dav .. Daveeen ..! DAVEEEEN.." teriakan Alana sama sekali tidak di gubris oleh pria yang kini sudah hilang dari pandangannya.
"Aaaarghhh ... Sialan, semua gara-gara Jian. Aaaargghh..!"
Alana memukuli meja menggunakan kedua tangannya yang terborgol. Melihat hal itu, polisi segera membawanya kembali ke dalam sel.
"LEPASKAN AKU, LEPASKAN! AKU HARUS MEMBALAS SEMUA INI PADA JIAN, LEPASKAAAAAN...!!"
...Bersambung......
___
...Jadi gimana nih, hukuman apa yang pantas untuk Alana? Penjara seumur hidup atau hukuman mati? Darah di bayar dengan darah, maka nyawa di bayar dengan nyawa. Begitukah?...
...LIKE,KOMEN,HADIAH POIN KOIN, tambah ke rak FAVORIT yaaaa...
...Bantu SHARE cerita ini ke grup fb atau WA yang suka baca Novel, ya 😊...