One Night Stand With TUAN MUDA

One Night Stand With TUAN MUDA
Mengakhiri Hubungan


...Selamat hari SENIN, saatnya memberi VOTE😊...


🌷🌷🌷


Sudah hampir setengah jam Alana berdiri di depan gedung Apartemen guna menunggu kedatangan Daven. Namun pria itu tidak kunjung menampakkan diri. Sudah beberapa kali ia mencoba menghubungi nomer pria tersebut, tapi hasilnya tetap sama yaitu tidak aktif.


Saat Alana berniat untuk memasuki Apartemen tempat dimana Daven tinggal, meski ia tidak tahu pria itu tinggal di lantai berapa, ia melihat sebuah mobil yang tidak asing memasuki parkiran Apartemen. Dan begitu orang dari dalam mobil tersebut turun, ia menyebikan bibir merasa jijik.


"Cih, dasar wanita ******. Pantas saja seluruh orang di kantor membicarakannya, rupanya ia benar-benar tengah dekat dengan tuan Ardy. Paras pas-pasan saja sosoan dekatin pria sana-sini, termasuk pria pujaanku," makinya lirih.


Orang yang baru saja turun dari mobil tersebut membopong Jian menuju Unitnya. Dan ketika ia sampai di Unit, Ardy membaringkan tubuh Jian di atas tempat tidur kamarnya.


"Kenapa kau membawaku ke kamarku, tuan?" tanya Jian dengan tubuh terjaga, ada rasa takut jika pria di hadapannya akan berbuat yang tidak senonoh lagi padanya.


"Tidak usah takut, aku tidak akan berbuat yang macam-macam, Jian. Nanti aku akan panggilkan Dokter untukmu," ujar Ardy.


"Tidak usah, aku tidak apa-apa!"


"Aku akan tetap memanggil Dokter, tidak usah membantah!"


Ardy beranjak dari sana untuk menghubungi Dokter spesialis kandungan yang bisa di panggil. Kemudian ia kembali ke kamar usai membuatkan teh manis untuk Jian.


"Minumlah!"


Ardy membanru Jian untuk bangun dengan menegukkan teh manis tersebut pada mulut Jian. Tiba-tiba saja Jian menyemburkan tehnya.


"Hoeks .. hoeks ..."


"Kau kenapa? Mual lagi? Aku bantu ke kamar mandi, ya?!" ujar pria itu panik.


Jian menggeleng dengan cepat.


"Lalu kenapa kau memuntahkan tehnya?" Ardy sedikit heran.


"Itu minuman apa? Ramuankah?"


Pertanyaan Jian membuat Ardy mengernyit. "Ramuan apa? Ini teh manis, Jian."


"Coba kau minum!"


Ardy memperhatikan gelas berisi teh manis yang ia buat, ia memang tidak pandai membuat minuman. Tapi demi Jian ia rela membuat minuman tersebut.


Kemudian pria itu meneguk sedikit minuman di tangannya. Sedetik kemudian ia menjulurkan lidah.


"Kenapa asin, ya?" tanyanya pada diri sendiri, pantas saja Jian sampai memuntahkan minumannya dan mengatakan jika itu ramuan. Rasanya memang aneh.


"Kau memakai garam membuatnya?" tanya Jian membangunkan Ardy dari segala pemikirannya.


Ardy menggeleng. "Entahlah, aku bahkan bingung membedakan mana garam dan mana gula," ujarnya.


Jian menepuk jidatnya perlahan. Sebodoh itukan pria pada apapun yang ada di dapur, padahal jelas-jelas di setiap wadah ada tulisannya.


"Mungkin kau tidak membaca tulisannya lebih dulu."


Ardy mengangkat kedua bahunya. Ia memang tidak tahu akan hal itu. Jian menggeleng kepalanya seraya tersenyum, dalam sejarah hidupnya baru kali ini teh manis berganti nama jadi teh asin. Haha, dasar.


Suara pintu Unitnya terdengar di ketuk oleh seseorang, Ardy berpikir jika itu adalah Dokter kandungan yang ia panggil tadi. Ia bergegas keluar dari kamar guna membukakan pintu.


"Selamat so-" kalimatnya terhenti saat melihat wajah siapa yang datang mengetuk pintu Unitnya.


"Sore, baby." orang tersebut tersenyum lebar pada pria yang kini ekspresi wajahnya berubah seketika.


Ardy segera menjauhkan wajahnya saat orang tersebut hendak mencium pipinya.


"Pergilah!" usir Ardy masih terdengar pelan.


"By, kenapa kau mengusirku? Kau tidak merindukanku, sayang?" Gea bertanya-tanya akan perubahan sikap kekasihnya.


"Aku sama sekali tidak menginginkan kehadiranmu lagi."


Gea semakin bingung, sebenarnya apa yang membuat sikap kekasihnya itu berubah seratus delapan puluh derajat. Apa kecurigaannya selama ini benar, jika pria itu sudah memiliki wanita lain? Apa kotak makan yang ia temukan di mobil pria itu benar-benar milik wanita baru Ardy?


"Why, by? Aku ini masih kekasihmu, sayang. Kenapa kau berubah? Siapa yang sudah merubah sikapmu jadi seperti ini padaku, by? Akhir-akhir ini kau menghilang. Jangankan untuk menghubungiku, aku hubungi saja susah. Bahkan aku sering mendatangi kantormu, kau tidak ada. Kau kemana saja, sayang?" Gea memberi Ardy pertanyaan yang berbondong.


Ardy memalingkan wajahnya, malas untuk menatap wanita yang penuh drama seperti Gea.


"Kau yang kemana? Ke klub malam bersama pria tua yang jauh lebih kaya, bukan? Kau bersenang-senang dengannya? Kau mengkhianatiku!" sentak Ardy membuat tubuh Gea terlonjak kaget.


Dari dalam kamar, Jian mendengar teriakan Ardy, ia langsung panik dengan apa yang terjadi. Jian memutuskan untuk melihat keluar, tapi begitu dari ambang pintu ia melihat dengan siapa Ardy berbicara, ia memilih untuk diam dan mendengar apa yang mereka bicarakan saja. Takutnya kehadirannya akan semakin memperkeruh keadaan.


Jadi tuan Ardy masih berhubungan dengan kekasihnya itu? Dan sekarang mereka bertengkar, apa semua ini gara-gara aku? Batin Jian.


"Apa maksudmu bicara sepeti itu, by? Aku sama sekali tidak pernah mengkhianatimu," elak Gea.


Ardy tersenyum miring. "Selain pengkhianat, ternyata kau juga seorang pembohong. Hebat sekali, ya."


"Tega sekali bicara seperti itu padaku, by. Aku pikir kau yang jauh lebih hebat. Kau mengatakan aku seorang pengkhianat? Lalu bagaimana denganmu, hah? Selama ini aku tahu, kau sering tidur dengan wanita lain selama masih berhubungan denganku. Bahkan aku tidak tahu berapa banyak wanita yang kau jamah, dan sekarang kau bicara seolah-olah kau setia padaku. Kau yang terhebat, Ardy!" Gea bertepuk tangan, berusha tersenyum sambil menahan tangis.


Ardy terdiam mendengar ucapan Gea. Ya, benar. Benar sekali. Bahkan selama ia masih berstatus pacar Gea, ia berhubungan dengan wanita lain sampai wanita itu hamil, dia Jian.


"Aku sadar, aku memang bukan pria baik-baik. Maka dari itu pergilah, temukan pria yang terbaik untukmu! Aku rasa hubungan di antara kita cukup sampai di sini."


Usai memutuskan hubungannya, Ardy segera menutup pintu Unitnya. Ia sama sekali tidak menggubris panggilan Gea dari luar.


"Ardy, buka pintunya, sayang! Aku tidak ingin hubungan kita selesai. Ardy, kumohon, ARDYYY...!!"


Ardy menyandarkan tubuhnya di balik pintu seraya memejamkan kedua mata mengarah ke atas. Rasa kebenciannya yang terlalu besar membuat banyak wanita tersakiti dan jadi korban atas dendamnya pada sang ibu. Dan ia berjanji, Jian adalah wanita terakhir yang pernah ia sakiti, dan dengan memperistri Jian merupakan caranya menebus kesalahannya.


Praakk..


Suara benda jatuh membuat Ardy langsung membuka mata, suara tersebut berasal dari kamarnya. Dan kini sorot matanya tertuju pada wanita yang tengah berdiri di dekat pintu kamar dengan wajah panik.


"Jian!" pekiknya.


Jian pasti sudah mendengar semua percakapannya tadi dengan Gea.


...Bersambung......


___


...Jangan lupa untuk tetap dukung Novel ini!...


...Kumpulin POIN dan VOTE...


...sebagai dukungan kalian!...


...Dengan cara klik HADIAH dan...


...klik gambar kopi ☕☕☕atau gambar ❤️...


...Tambahkan ke rak favorit, ya. Supaya kalian dapat notifikasi ketika bab selanjutnya publish😊...


...Follow ig @wind.rahma...