One Night Stand With TUAN MUDA

One Night Stand With TUAN MUDA
Setetes Darah Segar


"Damaaar.." teriak Doddy saat ayah Jian hendak memasuki mobil Ardy yang terparkir di halaman kantor polisi.


Pria paruh baya itu menoleh pada pria yang kini tengah melangkah ke arahnya. Begitu mereka sudah berdiri berhadapan, Doddy langsung merangkul tubuh Damar cukup erat.


"Saya minta maaf atas semua yang di lakukan putriku, Dam! Saya juga tidak pernah tahu jika putriku yang melakukannya. Saya minta maaf!" ucap Doddy dalam pelukan Damar.


Kedekatan di antara mereka memang sudah seperti saudara.


Damar melepaskan pelukannya, lalu menepuk bahu sebelah kiri milik Doddy.


"Kami sedang berusaha ikhlas untuk ini, Dy. Biarlah, semua sudah di gariskan oleh Allah, kami tidak bisa berbuat apapun lagi selain itu," ucap Damar dengan hati yang lapang, meski masih terasa sulit menerima kenyataan ini.


"Saya tahu ini berat untukmu, Dam. Begitupun denganku. Amina benar-benar wanita yang sungguh mulia, saya saja yang temannya begitu kehilangan dia. Apalagi kau suaminya, dan putrimu ini. Nak, maafkan Alana, ya!" ucapnya pada Jian.


Jian mengangguk kaku. "Tidak apa, paman. Semua sudah terjadi, ibu sudah tenang di alam sana."


"Ya sudah, kalau begitu, saya permisi duluan, Dy. Lain waktu jika di beri kesempatan kita ketemu lagi," pamit Damar.


"Ya, Dam. Hati-hati!"


Damar, Jian, dan Ardy memasuki mobil. Tidak berapa lama mobil tersebut sudah melesat dan hilang dari pandangan pria yang merasakan rasa bersalah yang amat sangat.


🌷🌷🌷


Keesokan harinya.


Pagi-pagi sekali Jian sudah tampak rapi dengan stelan formal yang beberapa minggu ini tidak ia pakai. Ia keluar kamar usai penampilannya benar-benar rapi dengan membawa tas kecil di tengannya.


"Mau berangkat kerja, nak?" tanya Damar yang tengah duduk di kursi ruang tamu.


"Ya, ayah, aku segan jika berlama-lama harus cuti," jawab wanita itu.


"Di jemput nak Ardy?" tanya pria itu lagi.


Jian menggeleng. "Tidak. Aku berangkat naik taksi online, aku tidak ingin selalu merepotkannya. Dia sudah sangat banyak membantu kita."


"Ya sudah, sarapan dulu, ibumu sudah membuatkan nasi goreng tadi!" suruh Damar, namun Jian menolak.


"Ini sudah terlalu siang, ayah. Aku berangkat langsung saja, ya. Assalamu'alaikum," pamit Jian seraya mencium punggung tangan sang ayah.


"Walaikum salam, nak, hati-hati!"


"Ya, ayah."


Jian pun pergi bersama taksi online yang kebetulan sudah sampai saat ia keluar dari rumahnya.


Sampai di kantor, banyak sekali awak media yang ingin bertemu dengan Ardy untuk mewawancarai kasus Alana. Namun pria itu tak kunjung keluar dari ruangannya lantaran malas harus tampil di depan kamera. Selain itu, akan banyak pertanyaan lainnya yang pastinya mereka lontarkan.


"Kau masuk kerja, Jian?" tanya seseorang dari belakang tubuh Jian, membuat wanita itu sedikit terlonjak.


"I-iya, nona Alice," jawab Jian sedikit gugup.


"Padahal tuan Ardy memintaku untuk meng-handle yang menjadi pekerjaanmu. Tuan juga memintaku untuk menaikkan jabatan salah satu staf untuk menggantikan posisimu," jelas Alice.


Jian membulatkan mata menatap lekat wanita dengan tubuh tinggi semampai di hadapannya.


"Sungguh, tuan Ardy bicara seperti itu padamu?"


Alice mengganggukan kepalnya.


"Jadi aku di pecat dari perusahaan ini?" tanya Jian untuk memastikan.


"Entah, tuan tidak mengatakan itu padaku."


Jian diam sejenak, jika Ardy sudah mencari pengganti untuk menggantikan posisi kerjanya, itu sudah pasti ia di pecat.


"Aku ingin bertemu dengan tuan Ardy untuk memastikannya, apa bisa?"


"Bisa, mari aku antar!"


Kemudian Jian berjalan di belakang Alice melewati para awak media yang memaksa ingin masuk juga.


"Tuan," panggil Jian lirih, namun sukses membuat Ardy yang berdiri menghadap tembok terlonjak.


"Jian!" pekiknya, kemudian ia melangkah menghampiri wanita tersebut. "Kenapa kau masuk kerja?" tanyanya kemudian.


"Jadi aku beneran di pecat?" tanya wanita itu dengan tatapan sendu.


"Maksumu?"


"Alice mengatakan jika kau sedang mencari pengganti posisiku, itu artinya kau memecatku," ujar Jian seraya menundukkan kepalanya.


Ardy menangkup kedua pipi Jian dengan mendongakannya.


"Bukan seperti itu, Jian."


"Lalu apa? Jelaskan, aku tidak mengerti!"


Ardy tersenyum kecil menatap wajah imut Jian, sudah lama ia tidak menatap wajah Jian seperti ini.


"Duduk dulu, aku akan menjelaskan padamu," ajak Ardy.


"Baiklah!" jawab Jian menurut.


Mereka pun duduk di sofa panjang yang ada di ruangan tersebut.


"Di luar masih ada awak media?" tanya Ardy sebelum menjelaskan apa yang menjadi pertanyaan Jian.


"Banyak."


Pria itu terlihat menghembuskan napas panjang, kemudian merogoh benda pipih di saku jas hitamnya.


"Apa aku juga tidak boleh masuk kesini?" tanya Jian membuat Ardy seketika menoleh.


"Hanya kau, Jiaaan.."


"Kenapa hanya aku?" tanya Jian polos.


"Sebab aku hanya ingin kau."


"Sungguh?"


"Ya."


Jian terdiam sambil menunduk malu, saat Ardy menatapnya lekat dengan senyum yang menghiasi bibir indahnya.


"Kau masih ingin dengar penjelasan mengapa aku mengganti posisi kerjamu?" tanya Ardy mengalihkan pembicaraan.


"Ya, tentu saja," jawab Jian cepat.


Ardy mengubah posisi duduknya miring menghadap Jian. Dan sedikit bergeser agar jarak duduk mereka lebih rapat.


"Aku ingin kau berhenti bekerja saja, tapi bukan berarti aku memecatmu. Sebab sebentar lagi kau akan menjadi istriku, Jian."


Kalimat Ardy membuat Jian tercengang, ia meneguk salivanya dengan susah payah.


"I-istrimu? Ap-apa m-maksudmu?" tanyanya terbata.


Ardy tersenyum melihat ekspresi kaget Jian. Ia memegang buah tangan Jian dan tangan satunya lagi memegang pipi kiri wanita itu.


Mungkin ini saatnya aku mengatakan pada Jian, jika dia tengah mengandung anakku. Ucap Ardy dalam hati.


"Memangnya kau tidak mau menjadi istriku?" pertanyaannya sukses membuat pipi Jian merona seperti tomat.


"Bukan i-itu, tuan-"


"Lalu apa?" tanya Ardy dengan mendekatkan wajahnya ke wajah Jian, sehingga Jian dapat merasakan aroma mint dan hawa hangat yang keluar dari napas Ardy.


"K-kenapa kau ingin aku menjadi istrimu?" ujar Jian bertanya balik.


Pertanyaan yang tepat untuk mengatakan semua ini pada Jian. Ardy menggeser pinggul dan mendudukan dalam pangkuannya.


"Ah, tuaan.." desah Jian saat pria itu memeluknya erat-erat, sementara Ardy begitu menikmatinya.


"Jian, dengarkan aku! Kau ingin tahu mengapa aku menginginkamu menjadi istriku?" tanya Ardy lirih tepat di telinga Jian, menyalurkan sensasi geli yang mengumpul di dalam perutnya.


Jian sedikit bereaksi saat merasakan sensasi geli tersebut, ia bahkan tidak mau diam dan terus bergerak-gerak dalam pelukan erat Ardy. Sehingga hal tersebut menciptakan gesekan-gesekan kecil ke area milik Ardy.


"Ya, kenapa?" tanya Jian penasaran.


Sambil menahan sesuatu yang sudah mengeras dari balik boxernya, Ardy menhirup dalam-dalam aroma tengkuk Jian dan membisikan sesuatu di sana.


"Sebab, saat ini kau meng-"


BRAAAKK..


Suara pintu ruangannya yang tiba-tiba di buka dengan kasar menghentikan kalimat Ardy.


"Baby.." wanita yang berdiri di ambang pintu itu memekik saat melihat Ardy tengah memeluk mesra wanita selain dirinya.


"DASAR WANITA PENGGODA SIALAN!" makinya.


Wanita yang tak lain merupakan Gea itu dengan cepat melangkah dan menarik lengan Jian dari pangkuan Ardy cukup kasar. Sehingga tubuh Jian terutama bagian perutnya mengenai pojok meja kerja Ardy cukup keras.


"Aaww.." rintih Jian seraya memegangi perutnya yang memberi rasa sakit teramat dahsyat.


"Jian," lirih Ardy kemudian menangkap tubuh Jian yang mulai terkulai jatuh ke lantai.


"Jian, kau tidak apa-apa?" tanya Ardy memastikan dengan penuh rasa khawatir.


"Sakit, tuan.. Sakiit.." rintih Jian, matanya meneteskan air mata.


Ardy melayangkan sorot mata penuh kemarahan pada Gea.


"PERGI DARI SINI! Jika sampai sesuatu buruk terjadi padanya, aku pastikan kau akan mendekam di penjara," usir serta ancam pria itu.


Tak ingin menjadi pusat perhatian di kantor pria itu, Gea pun pergi dengan membawa amarah yang membakar hatinya.


Perhatian Ardy kini teralih kembali pada Jian, dan ia terkejut saat melihat setetes darah segar mengalir di kaki wanita itu.


"Jian, kau-" Ardy benar-benar di kungkung oleh rasa cemas dan panik saat ini.


Dengan sigap ia membopong tubuh Jian, dan membawa wanita itu keluar dari ruangannya dengan langkah tergesa-gesa.


Begitu keluar ruangan, yang pertama kali ia dapati adalah sekretarisnya. Beruntung awak media sudah tidak ada lagi di sana.


"Tuan, apa yang terjadi pada Jian?" tanya Alice ikut panik.


"Aku harus segera membawanya ke Rumah Sakit," jawab Ardy dengan napas tersengal.


"Maafkan aku tidak bisa menahan wanita tadi, itu pasti ulahnya," sesal Alice, namun Ardy tidak menggubris.


Pria itu sudah berlalu membawa Jian dan kini menjadi pusat perhatian para karyawan kantornya.


...Bersambung......


___


...LIKE,KOMEN,HADIAH POIN KOIN, tambah ke rak FAVORIT yaaaa...


...Bantu SHARE cerita ini ke grup fb atau WA yang suka baca Novel, ya 😊...