
Ardy memasukkan tubuh Jian ke dalam mobil bagian jok depan dengan penuh kehatia-hatian.
"Sabar, ya, Jian! Aku akan segera membawamu ke Rumah Sakit, bertahanlah!" ucap Ardy dengan napas sedikit memburu.
Pria itu memasangkan sabuk pengaman ke tubuh Jian, lalu menutup pintu dan mengitari mobilnya guna ikut masuk ke bagian jok kemudi.
"Sakit, tuan.." rintih Jian.
Keringat dingin mulai berkeluaran, dan wajahnya tampak putih pucat sekarang, seakan darah terserap habis oeh tenaganya. Hal tersebut menambah kecemasan Ardy menjadi lebih panik.
Ardy segera melajukan mobilnya menuju Rumah Sakit terdekat.
Semoga Jian dan calon anakku baik-baik saja, selamatkan calon anakku, Tuhan! Ucapnya dalam hati.
Dalam waktu kurun 30 menit, Ardy berhasil membawa Jian sampai di Rumah. Wanita itu segera bawa ke Ruang UGD untuk segera di beri penanganan.
"Dok, lakukan yang terbaik untuk Jian!" pinta Ardy sebelum seorang Dokter wanita yang ikut bersama para perawat mendorong brangkar pasien itu masuk ke ruang UGD.
"Baik, tuan. Anda tunggu di luar ruangan saja, ya!" pesan sang Dokter.
Ardy kemudian mengusap wajahnya sedikit kasar. Ia benar-benar takut jika sesuatu buruk terjadi pada Jian, terlebih calon buah hatinya.
Selang beberapa menit, orang tua Jian datang ke sana, setelah sebelumnya Ardy sempat memberi kabar. Sebab jika ia tidak memberi tahu pada mereka, ia bisa di salahkan nantinya.
"Nak Ardy, apa yang terjadi pada Jian? Bagaimana kondisinya sekarang?" tanya Damar memburu.
"Jian sedang di tangani Dokter di dalam, paman. Perutnya tadi terbentur pada meja saat di kantor," jelas Ardy.
"Kenapa bisa terjadi seperti itu, nak? Ya Allah, cobaan apalagi ini," keluh Damar, ia merasa cobaan pada keluarganya terasa datang bertubi-tubi.
Ardy terdiam sejenak, ia masih ragu apakah ia harus menjelaskan situasi yang sebenarnya pada ayah Jian? Sebab ia masih tidak yakin jika ayah Jian akan semudah itu menerima bahwa putrinya tengah mengandung anaknya.
"Paman, bisa saya bicara sebentar? Tapi tidak di sini," ujar Ardy seraya melirik Mella yang berdiri di samping Damar sekilas.
"Memangnya kenapa kalau di sini? Apa saya tidak boleh mendengarnya?" sindir Mella.
Damar menoleh pada istrinya.
"Bukan begitu, tante. Saya hanya ingin bicara berdua saja dengan paman Damar. Apa saya bisa meminjam suami tante sebentar?"
Mella membelalakan kedua matanya malas, padahal ia sangat penasaran dengan apa yang akan Ardy bicarakan dengan suaminya. Pasti itu rahasia penting.
"Ayo, paman!" ajak Ardy di angguki oleh pria paruh baya itu.
Ardy mengajak Damar bicara di sebuah lobi Rumah Sakit, sebab tempat tersebut cukup sepi dan ia bisa bicara serius dengan ayah Jian.
"Ada apa, nak Ardy? Apa yang sebenarnya ingin nak Ardy katakan, sampai istri saya tidak boleh mendengarnya?" tanya Damar dengan tak sabar.
Ardy mengehela napas cukup panjang, pikirannya mulai menyusun kata pembicaraan.
"Mm, begini paman. Tadi saat di kantor, Jian menemuiku di ruang kerja. Jian ingin menanyakan perihal posisi kerjanya. Sebab sekretaris saya mengatakan pada Jian, jika dia tengah mencari staf lain untuk menggantikan posisi Jian," jelas Ardy, Damar diam mendengarkan.
"Jian mengira jika saya memecatnya, maka dari itu Jian membutuhkan penjelasanku. Dan saat kami tengah berdua di ruang kerja saya, mantan kekasih saya tiba-tiba datang dan masuk begitu saja. Dia mengamuk dan Jian menjadi sasaran amukannya. Akhirnya bagian perut Jian terbentur ke ujung meja daaan.." Ardy menggantung kalimatnya.
"Dan apa, nak Ardy?" tanya Damar dengan rasa penasaran yang menggebu.
"Setetes darah keluar mengalir dari bagian V Jian. Jian mengalami pendarahan," sambungnya.
Ardy mengangguk lemah. "Ya, paman. Sebenarnya.. maafkan aku. Sebelumnya aku meminta maaf yang sebesar-sebesarnya, karena sebenarnya Jian.. Jian tengah hamil mengandung anakku, cucu paman."
Penjelasan Ardy lagi-lagi membuat Damar shock, namun pria itu berusaha menstabilkan detak jantungnya.
"Jian hamil?" tanya Damar dengan suara yang terdengar serak, menahan sesak.
"Ya, paman," jawab Ardy membenarkan.
"Ya Allah, astaghfirullaahaladziim. Apa lagi ini, Yaa Allah."
"Maafkan saya, paman. Jika paman marah padaku, paman bisa menampar atau memukul saya lagi," ujar Ardy pasrah.
Damar menengadahkan wajahnya ke atas, berusaha menahan air mata yang sebentar lagi akan menembus benteng pertahanan pelupuk matanya.
"Sejak kapan, nak? Sejak kapan nak Ardy menyembunyikan hal sebesar ini? Dan, apa Jian juga tahu kehamilannya?"
Ardy menggeleng. "Tidak paman, Jian belum tahu. Saya juga tahu belum lama, saat itu kondisinya tidak memungkinkan untuk saya mengatakan hal ini. Mengingat kondisi paman dan masalah Alana, saya memutuskan untuk menyembunyikan ini lebih dulu. Dan ketika saya akan mengatakannya pada Jian tadi di kantor, justru kejadian ini mendahului."
Damar mengatur deru napasnya dengan menghela napas panjang dan menghembuskannya berulang kali.
"Saya berharap Jian dan calon bayinya baik-baik saja, sebab setelah ini saya akan langsung menikahinya," ucap Ardy mantap.
Damar terdiam mendengar ucapan pria yang jauh lebih muda di hadapannya. Rasanya ia ingin marah pada sosok pria muda itu, tapi sepertinya ini bukan waktunya ia membedah emosi. Ini sudah menjadi bagian yang sudah ia perkiraan, dan ia harus siap menerima apapun yang terjadi. Yang terpenting, ayah dari calon bayi Jian siap bertanggung jawab akan perbuatannya. Sebab bagaimanapun juga, bayi yang tengah di kandung oleh putrinya merupakan calon cucunya juga.
🌷🌷🌷
Ardy, Damar, serta Mella menunggu kabar dari Dokter di depan ruang UGD sambil berdo'a dalam hati masing-masing. Mella melirik wajah Ardy dan suaminya secara bergantian yang tampak saling diam usai membicarakan sesuatu yang sampai saat ini membuatnya penasaran.
Aaah, kenapa aku di hantui rasa penasaran seperti ini, sih? Aku menyesal tadi tidak membuntuti mereka untuk menguping pembicaraan rahasinya. Gerutu Mella dalam hati.
Tidak berapa lama, seorang Dokter wanita yang menangani Jian keluar dari ruangan tersebut. Ketiganya langsung bangkit begitu untuk mendengar apa yang akan Dokter itu sampaikan.
"Bagaimana kondisi Jian, Dok? Apa Jian baik-baik saja?" tanya Ardy dengan tidak sabar.
"Apa tuan suaminya?" tanya Dokter tersebut pada Ardy.
Sorot mata Damar dan Mella langsung tertuju pada pria itu. Dengan cepat Ardy menganggukan kepalanya.
"Ya, Dok, saya suaminya," jawabnya.
"Begini, tuan. Benturan keras yang terjadi pada nona Jian menimbulkan pendarahan yang di alami istri anda cukup banyak. Meski demikian, mengalami pendarahan tidak selalu di artikan keguguran," jelas Dokter tersebut.
Mella langsung paham akan situasi yang terjadi, ucapan Dokter barusan secara tidak langsung mengobati rasa penasarannya akan apa yang sebenarnya Ardy bicarakan pada suaminya.
"Ketika mengalami perdarahan, jangan langsung panik apalagi putus asa dan menganggap bahwa hal tersebut adalah darah keguguran, sebab perdarahan di masa kehamilan juga bisa disebabkan oleh beberapa hal lain. Di trimester pertama kehamilan, munculnya darah dari V mungkin bisa disebabkan oleh hubungan sks, infeksi saluran kemih, perubahan hormon, hingga tertanamnya embrio di dinding rahim atau yang disebut juga pendarahan implantasi. Begitu pun halnya dengan perdarahan yang terjadi di trimester kedua atau ketiga. Perdarahan di trimester ini juga bisa disebabkan oleh hal yang sama seperti di trimester awal. Hanya saja di trimester lanjut, ada beberapa faktor lain yang mungkin menyebabkan munculnya darah dari V yang dicurigai sebagai keguguran, seperti plasenta previa dan persalinan prematur," jelas Dokter panjang lebar."
"Jadi maksud Dokter, Jian dan calon bayinya baik-baik saja?" tanya Ardy memastikan.
"Kurang lebih seperti itu, tuan," jawab sang Dokter.
"Alhamdulillaah.." ucap Ardy dan Damar secara bersamaan mengucap syukur.
Bersambung...
___