One Night Stand With TUAN MUDA

One Night Stand With TUAN MUDA
Gudang Tua


Usai mendengar apa yang di ceritakan Ardy dan selengkapnya oleh Lily, Daven pun kian marah pada papanya. Meski Sagara ini merupakan papanya, ia tidak akan tinggal diam begitu saja mendengar apa yang telah di lakukan pria itu.


Daven sepakat untuk membantu Ardy mencari sang papa, dan ia berniat untuk tidak menceritakan hal ini terlebih dahulu pada mamanya. Sebab ia takut mamanya shock dan sesuatu buruk terjadi. Ia berjanji akan menceritakan semuanya setelah semuanya selesai.


Dan hari ini, kedua pria itu dengan gencar mencari Sagara. Beberapa kali Daven mencoba menghubungi sang papa, pria itu tetap saja tidak mengangkat panggilan teleponnya.


"Bagaimana, Dav, apa papamu mengangkat teleponnya?" tanya Ardy ketika mereka berada di mobil dalam perjalanan pencarian.


"Tidak, Dy. Papaku tidak mengangkat teleponnya juga," jawab Daven.


Ardy menghembuskan napas kasar, ia hampir putus asa, namun ia tidak boleh menyerah sampai di sana.


"Jika aku meminta bantuan polisi, apa kau tidak keberatan?"


Pertanyaan Ardy seketika membuat Daven diam, pria itu masih berat jika ayahnya harus berurusan dengan pihak kepolisian. Namun bagaimanapun juga papanya harus bertanggung jawab atas apa yang telah di lakukan, lantaran itu sudah sangat-sangat keterlaluan.


"Ya sudah, lakukan saja!" ucap Daven dengan nada yang terdengar berat.


Kemudian mereka pergi ke kantor kepolisian dan nenceritakan apa yang terjadi. Pihak polisi pun segera menindak lanjuti kasus tersebut. Mereka bersedia mencari Sagara sampai pria itu di temukan.


"Tuan Daven, apa anda tahu dimana tempat yang seringkali ayah anda datangi?" tanya polisi saat akan berangkat mencari Sagara.


Daven terdiam sejenak, ia mengingat-ingat dimana tempat yang papanya sering datangi.


"Aku tidak tahu, pak. Tapi jika gudang tua itu sepertinya aku pernah dengar, dulu papa seringkali kesana untuk menyimpan barang yang sudah tidak di perlukan."


Jawaban Daven setidaknya bisa membuat Ardy bernapas sedikit lega, dan itu akan memudahkan polisi juga untuk menemukan titik keberadaan Sagara.


"Dimana tempatnya?"


"Sebentar, pak. Saya ingat-ingat dulu," ujar Daven meminta waktu.


Sudah hampir sepuluh menit polisi dan Ardy menunggu Daven mengatakan alamat gudangnya, namun pria itu tak kunjung ingat. Daven sendiri kesal pada dirinya lantaran di situasi genting ini ia melupakan sesuatu terpenting.


"Oh, ya, aku ingat," ujar Daven membuat semua pasang mata tertuju padanya dengan tidak sabar.


"Dimana, tuan?" tanya polisi tersebut.


"Ya, Dav, cepat katakan dimana tempatnya?" Ardy pun tak kalah tak sabarnya.


"Di jalan XX dekat hutan CC, gudang itu cukup jauh dari pemukiman warga."


"Baik, kalau begitu kita kesana sekarang!" ajak polisi itu.


Daven dan Ardy segera naik ke dalam mobilnya, di iringi dua mobil polisi yang berjalan di belakang lantaran Daven yang akan menunjukan jalannya.


🌷🌷🌷


Dua jam menempuh perjalanan, akhirnya Ardy, Daven, dan kelima polisi sampai di tujuan. Mereka sengaja memarkirkan mobilnya seratus meter sebelum sampai di gudang tua tersebut. Agar tidak ada satupun bahwa ada orang yang datang ke tempat tersebut.


"Gudangnya cukup besar, sepertinya ada pintu lain selain pintu depan. Kita harus berpencar dan masuk di setiap pintu, agar siapapun yang berada di sana tidak sampai lolos," saran salah satu polisi yang menjadi kepalanya.


Semua menyetujui saran polisi tersebut, dan dengan langkah yang mengendap-endap yang penuh kehati-hatian, mereka mulai memasuki gudang tua itu.


Begitu masuk, dua orang dengan pakaian preman tengah berbincang, membuat derap langkah Ardy dan Daven terhenti dan bersembunyi di balik tembok.


"Pokonya wanita itu harus segera di temukan, selain kita bisa kena marah bos, kita juga kehilangan mangsa untuk memanjakan kepala bawah," ujar salah satu dari mereka.


"Hahaha ... Benar, bro. Selama wanita itu kabur, gue jadi solo karir nih kalau lagi pengen. Kan lumayan kalau ada dia, meski usianya sudah tidak lagi muda, tapi body-nya, beuhhh ... Memuaskan, lah," sahut temannya.


Kalimat-kalimat yang di ucapkan oleh kedua preman tersebut rasanya menusuk pendengaran dan hati Ardy. Ingin rasanya Ardy menghampiri mereka dan menghajarnya sampai habis. Namun Daven mencegahnya, meminta pria itu tetap tenang meski sebenarnya ia pun terluka, jika ayahnya memiliki anak buah untuk melakukan hal keji itu pada ibu Ardy.


"Kita jangan gegabah, Dy, nanti semuanya bisa berantakan!" bisik Daven di telinga Ardy.


"Tapi mereka keterlaluan, Dav!" sergah Ardy, ia masih tidak terima dengan apa yang di katakan kedua preman itu.


Beberapa di antara mereka turun dari lantai atas, sebab gudang itu memiliki 2 lantai, kemudian mereka menghampiri kedua preman yang tengah berbincang-bincang tadi. Ternyata jumlah mereka cukup banyak, hal tersebut membuat hati Ardy semakin di sayat saat mengingat jika ibunya di lecehkan oleh semua di antara mereka. Baik secara bergilir maupun bersamaan.


"Boss kemana, ya? Kenapa belum bawa makanan kesini?" tanya salah satu dari mereka yang badannya paling besar, serta rambut yang terurai dan bergelombang, wajahnya begitu menyeramkan.


"Tadi mau beli makanan, biar kita punya tenaga untuk cari Anet lagi," jawab temannya yang paling cungkring.


"Baguslah, pokonya kita harus cari Anet sampai ketemu. Lumayan lah gak ada mainan di sini jadi sepi."


"Iya, gue juga kangen main sampai 3 ronde, lemes tapi penuh kenikmatan, hahay."


"Lu cuma 3 ronde, gua 5 ronde sampe Anet pingsan pun gue tetep jalanin, yang penting gue puas."


"Bener-bener nagih banget main sama dia."


"Pokoknya kalau Anet ketemu, kita sepakat untuk main bareng lagi. Lu atasnya, gua bawahnya. Mantap-mantap, bro."


Mendengar semua perbincangan orang-orang itu semakin membuat Ardy geram, pria itu sudah kehabisan batas kesabarannya.


"Wooyyy bangsaaaat ..." teriak Ardy keluar dari persembunyiannya, mau tidak mau Daven pun ikut keluar dan berdiri di samping temannya.


Beberapa preman yang berada di sana seketika menoleh dan berdiri, mereka semua terheran mengapa ada orang lain yang bisa datang gudang tua tempat persembunyian mereka bahkan tanpa di ketahui.


"Siapa, lo?" tanya salah satu dari mereka yang mempunyai badan lebih besar.


Tanpa menjawab pertanyaan dari preman tersebut, Ardy berjalan menghampiri dan melayangkan sebuah pukulan keras pada preman itu.


BUGGH...


Preman itu nyaris terjatuh, namun segera di tangkap oleh teman-temannya. Lantaran tidak terima, ia langsung bangkit dan membalas perbuatan Ardy, namun Ardy dengan cepat menangkis tangan itu dan kembali memberinya tonjokan di perut.


Preman yang lain pun kini ikut menghajar Ardy dan Daven, dan suara perkelahian mereka kini terdengar oleh polisi.


"Semuanya, angkat tangan!" teriak salah satu polisi, menghentikan perkelahian di antara mereka.


Para preman itu terlihat panik sekarang.


Bersambung...