One Night Stand With TUAN MUDA

One Night Stand With TUAN MUDA
Sebuah Penyesalan


Setelah satu bulan lamanya Sagara berada di balik sel jeruji besi. Kini Daven baru mau menjenguk pria yang menyandang sebagai papa kandungannya itu, di temani oleh Diana.


Kedua mata Sagara tampak berkaca-kaca, dan air matanya pun kini luruh melewati batas pertahanan pelupuk matanya. Daven baru mengatakan apa saja yang terjadi selama papanya berada di penjara, termasuk kematian mamanya.


"Papa benar-benar menyesal dengan apa yang papa lakukan selama ini," sesal pria itu di antara isak tangisnya.


"Penyesalan papa tidak ada gunanya. Semua sudah terjadi, mama juga tidak akan pernah bisa kembali," sergah Daven.


Sagara sadar, jika apa yang ia lakukan itu sudah sangat-sangat keterlaluan. Dia bukan hanya membuat Lilyaneth menderita, tapi orang-orang di sekitarnya. Termasuk istri dan anak semata wayangnya.


"Papa yang aku kenal itu orang baik, lantas apa yang menjadikan papa layaknya iblis?" tanya Daven kemudian, Diana yang mendengar pertanyaan pria di sampingnya menatap tidak percaya.


Sagara menyeka air mata di pipinya, menghela napas panjang mengambil bnyak-banyak oksigen.


"Sakit hati papa terhadap Anet yang membuat papa seperti ini," jawab pria itu menciptakan kerutan di kening Daven.


"Karena apa?"


"Dulu, Anet itu primadona di sekolah kami. Sementara papa bukan siapa-siapa. Papa naksir sama dia, karena yang papa tahu Anet itu gadis yang sangat baik. Tapi kebaikannya membuat dia tidak ingin dekat dengan pria manapun, termasuk papa. Sampai akhirnya, papa mendengar jika Anet berpacaran dengan ayah temanmu itu. Papa sakit hati, dan rasa sakit papa berubah menjadi dendam yang pada akhirnya menjadi bumerang dan membakar diri papa sendiri. Gejolak api yang ada di dalam diri papa semakin menyala. Papa penasaran dengan Anet, sebagus apa tubuhnya sampai dia jual mahal. Dan akhirnya papa menculik dia dan menyekapnya di gudang. Sampai di sana papa belum puas, papa meminta bantuan para preman yang papa bayar agar sakit hati papa itu impas," jelas Sagara.


Daven sengaja meghela napas, menahan amarahnya. Beruntung di sana ada Diana juga, setidaknya itu bisa sedikit saja meredamkan amarahnya. Karena sebelumnya gadis itu sudah mewanti-wanti agar Daven tetap bersikap tenang, apapun yang nantinya akan ia dengar.


Usai menemui papanya, Daven pun memutuskan untuk pulang. Semenjak kepergian sang mama, pria itu memutuskan untuk berhenti tinggal di Apartemen dan memilih tinggal di rumah saja.


Diana, wanita itu masih menemani Daven di sofa ruang tamu.


"Kamu harus bisa menerima kenyataan ini, meski pahit," tutur Diana menenangkan.


"Tapi itu tidak mudah, Diana."


"Setidaknya kamu harus berusaha."


Daven menatap datar gadis yang duduk di sofa single. Selama ada Diana, dia bisa sedikit lebih tenang. Meski belum sepenuhnya bisa menerima keadaan.


"Terima kasih, Diana!" ucap Daven.


"Untuk apa?" tanya Diana bingung, ia merasa tidak melakukan apapun.


"Karena kau selalu bisa membuat hatiku tenang dan damai."


Diana terkekeh mendengar kalimat yang keluar dari mulut pria itu.


"Kenapa kau malah tertawa?" nada bicara Daven masih terdengar datar.


"Kata-katamu terdengar aneh. Aku geli dengarnya," ujar Diana masih tertawa.


Daven sedikit mencondongkan tubuhnya, menatap teman masa kecilnya itu cukup lekat.


Perlahan tawa Diana memudar ketika ia melihat tatapan Daven yang tidak biasa.


"Iya, sama-sama," ucap Diana kemudian.


"Terima kasih juga sudah menemaniku ke kantor polisi tadi. Kau mau pulang sekarang? Aku antar." tawar pria itu.


Diana melirik jam tangan berukuran kecil yang melingkar di pergelangan mungilnya, padahal di depannya ada jam dinding besar yang menempel di dinding.


"Nanti saja, deh. Kasihan, kamu sendiri," jawabnya.


Daven tersenyum tipis. "Kalau begitu bagaimana kalau kita makan? Kau pasti lapar kan?" usul pria itu dan mendapat anggukan dari Diana.


"Kau bisa masak?" tanya Daven sebelum beranjak.


"Jago."


"Ayam, dong."


"Kok, ayam?" tanya Diana terheran.


"Ayam jago," ujar Daven sambil beranjak dari sana, sementara Diana terkekeh mendengar candaan temannya yang terdengar garing. Kemudian berjalan mengekori Daven menuju dapur.


"Yah... Di kulkas cuma ada telur sama kecap," keluh Daven saat membuka lemari es, ia sadar selama tidak ada mamanya ia tidak pernah membeli bahan masakan karena tidak memasak.


"Tapi nasi punya, kan?"


"Gak juga, aku suka makan di luar," jawab pria itu.


"Ya terus ngapain ngajak aku makan kalau gak ada nasi?"


Daven memamerkan sederet giginya yang rapi pada Diana.


"Maaf, tapi kan kau bisa masak. Masak yang ada aja, ini telur." Daven menunjuk semua telur yang masih penuh di pintu kulkas yang baru ke ambil beberapa biji saja.


"Masak sebanyak itu?"


"Iya, lah. Aku tahu kau kan makannya banyak. Kalo masak dua biji aja gak usah yang ini, punyaku saja," godanya.


"Kalau yang itu gak usah di masak, aku lahap mentah-mentah aja," balas Diana di sertai tawa geli.


"Kau yang makan, aku yang nikmat, dong? "


"Hahaha ... Dasar!" ejek Diana, keduanya tertawa seperti tidak memiliki beban.


Bersambung...