One Night Stand With TUAN MUDA

One Night Stand With TUAN MUDA
Plat XXX


Ardy berjalan dengan langkah tergesa menuju Unitnya, usai di kabari jika ibunya mengalami ketakutan perasaannya sangat khawatir.


Ardy membuka pintu Unitnya dan mendapati ibunya tengah menangis, di temani oleh Jian di sampingnya yang berusaha menenangkan wanita itu sejak tadi.


"Ibu, kau baik-baik saja?" tanya Ardy langsung menghambur ke dalam pelukan ibunya.


Tangis Lily kian menjadi, Ardy pun berusaha menenangkan sang ibu dengan berbagai cara.


"Ibu tenang, ya. Ibu tidak usah takut, ada aku dan Jian di sini."


"Iya, bu. Ibu tidak usah takut lagi, ya. Ada kami di sisimu yang akan selalu menjaga, " sahut Jian.


"Tapi dia tadi di sini, nak ... Ibu takut sekali.." ujar Lily di iringi isak tangis.


Ardy pun menghela dan menghembuskan napas cukup panjang. Ia jadi penasaran siapa sebenarnya orang itu.


"Aku akan segera mencari orang itu dan memberi hukuman setimpal padanya. Ibu tetap di sini bersama Jian, ya. Jangan kemana-mana!" pinta pria itu dengan sangat.


"Kau mau kemana, nak? Di sini saja, temani ibu." Lily mencekerem lengan jas yang di kenakan putranya, ia takut jika orang itu akan kembali ke Apartemen itu.


"Ada Jian, bu. Aku harus pergi dulu agar pelakunya cepat di tangkap. Oke?!"


Ardy berusaha meyakinkan ibunya jika tidak akan ada orang itu lagi ke sana. Ia meminta Jian untuk mengunci Unit saat dirinya pergi nanti.


"Jangan pernah membukakan pintu untuk siapapun, jika ada sesuatu yang mencurigakan cepat hubungi aku!" pinta Ardy pada Jian sebelum kemudian ia pergi dari sana. Jian pun mengangguk paham.


🌷🌷🌷


Sementara di ruko tempat Damar usaha furniture. Mella tengah duduk di sofa dengan sebelah kaki yang sengaja di tumpangkan ke atas kaki yang satunya lagi. Wanita itu tengah menggibas-gibaskan lembaran uang seratus ribuan ke wajahnya.


"Ternyata usaha furniture itu untungnya lumayan juga, ya. Tahu begini, dari dulu saja kita usaha begini, yah," ujar Mella pada suaminya yang duduk di sampingnya.


"Segala sesuatu itu harus di syukuri, ma. Apa yang menimpa pada keluarga kita ada hikmah di baliknya," tutur Damar.


"Iya, ayah, iyaaa."


"Oh, ya, ma. Jian bilang, katanya ibu nak Ardy sudah kembali. Bagaimana jika kita ke Apartemen mereka untuk bersilaturahmi?" ajak Damar pada istrinya.


Apa yang di katakan Mella ada benarnya juga, jika Damar tidak tahu alamat Apartemen yang di tempati Jian.


"Nanti ayah minta alamatnya ke Jian, ma. Terus kita kesana naik taksi online saja, bagaimana?"


"Mama bilang gak usah ya gak usah, yah. Kalau misalkan nanti kita nyasar, bisa-bisa kita rugi bayar taksi online-nya, ayah!" tolak Mella dengan alasan yang membodohi suaminya, mana ada naik taksi online nyasar jika kita sudah memberikan alamat yang benar.


"Ya sudah, kalau begitu nanti ayah minta Jian, nak Ardy dan ibunya untuk datang ke rumah kita saja. Mama nanti masak yang banyak ya untuk menyambut besan kita!" pinta Damar.


Mella menghembuskan napas sedikit kasar dengan memutar kedua bola matanya malas. Susah payah ia membohongi suaminya karena malas jika harus datang ke Apartemen Jian, sekarang alasannya justru membuatnya lebih repot nantinya.


🌷🌷🌷


Sementara di kantor kepolisian.


Ardy tengah bicara dengan salah satu polisi yang ada di sana untuk menanyakan siapa pemilik mobil dengan nomor plat yang ada di dalam foto yang di kirim oleh istrinya.


"Jadi siapa pemilik mobil tersebut, pak?" tanya Ardy dengan tidak sabar.


"Tunggu sebentar, ya!" pinta polisi tersebut yang masih fokus menatap layar komputer.


Ardy pun menunggu polisi tersebut bicara dengan rasa penasaran yang kian membesar.


"Sudah ketemu, pak," ucap polisi tersebut.


"Siapa, pak?" tanya Ardy memburu.


"Plat mobil dengan nomer XXX ini milik seorang pria bernama Sagara."


"SAGARA??" tanya Ardy memastikan pendengarannya itu tidak salah.


"Betul, pak," kata polisi mengangguk membenarkan.


Sagara? Bukankah itu... Batin Ardy masih tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.


Bersambung...