One Night Stand With TUAN MUDA

One Night Stand With TUAN MUDA
Isi Paper Bag


Meski tengah hamil muda, itu tak membuat Jian merasa mual saat mencium bau masakan. Sebab ia harus memasak untuk menyambut kepulangan sang suami dari kantor.


"Mmm.. suamiku pasti menyukainya," ujar Jian sembari menghirup aroma masakannya yang harum semerbak.


Kemudian ia lanjut menghidangkan beberapa menu masakan ke atas meja makan. Sambil menunggu Ardy pulang dari kantor, Jian mengajak calon buah hatinya itu mengobrol.


"Sehat-sehat di rahim ibu ya, nak. Sebentar lagi ayahmu pulang, sayang," ucapnya sambil mengelus perut yang kini mulai membuncit, usia kehamilannya saat ini sudah menginjak ke 10 minggu.


Suara notifikasi pesan masuk ke dalam ponselnya mengalihkan perhatian dari perut buncitnya, segera Jian raih ponsel yang tergeletak di atas meja makan di dekatnya.


Hari ini aku pulang terlambat, sayang. Jika kau lapar, makanlah lebih dulu. Tidak perlu menungguku!


Sebuah pesan yang di kirim oleh Ardy membuat Jian tampak kecewa, ia pikir suaminya sudah berada di jalan sekarang. Tapi ia harus tetap berpikir positif, mungkin pria itu ada urusan mendadak atau yang lainnya masalah kantor.


Meski Ardy menyuruhnya untuk makan lebih dulu, Jian akan tetap menunggu sampai suaminya pulang.


Waktu sudah menunjukkan hampir pukul 9 malam. Masakan yang tadi masih mengepul panas itu kini sudah dingin, Ardy belum pulang juga. Mulut Jian sudah tidak lagi terhitung menguap sejak tadi, matanya terasa berat akibat mengantuk.


"Assalamu'alaikum, sayang.." suara salam dari depan membuat rasa kantuk Jian seketika hilang, ia buru-buru bangkit dan beranjak dari duduknya dan menghampiri ke sumber suara.


"Walaikum salam.." jawab Jian sembari melangkahkan kaki menuju ruang tengah.


Senyuman yang mengembang dari bibir pria yang sejak tadi ia tunggu akhirnya datang juga. Jian mencium punggung tangan Ardy, sementara Ardy memberi ciuman singkat di puncak kepala Jian.


"Maaf aku pulang terlambat, sayang! Kau belum tidur?" ucap dan tanya Ardy.


"Tidak apa-apa, aku akan tetap menunggumu dan tidur bersama."


"Kau sudah makan?"


Jian menggeleng. "Belum."


"Kenapa? Aku kan sudah bilang, makanlah lebih dulu. Jangan menungguku, kau pasti sudah lapar kan?"


"Aku tidak ingin membiarkanmu nantinya makan sendiri, maka dari itu aku memutuskan untuk menunggumu saja."


Ada raut rasa bersalah yang terpancar di wajah Ardy. Namun seketika ia ingat dengan paper bag yang di tenteng di sebelah tangannya.


"Oh, ya, sayang. Aku terlambat pulang karena aku membelikan ini untukmu." Ardy memberikan 3 paper bag berukuran pada Jian.


"Apa itu?" tanya Jian menerima paper bag tersebut kemudian.


"Kita duduk dulu, lalu kau boleh membukanya," ajak Ardy seraya merengkuh bahu Jian, lalu duduk di sofa yang tidak jauh dari tempat berdirinya saat ini.


"Seharusnya kau tidak perlu membelikan apapun untukku. Aku kan tidak memintanya," ujar Jian masih saja merasa segan, padahal Ardy sudah menjadi suaminya.


"Tidak apa-apa, Jian. Hari ini aku mendapat rezeki lebih, dan apa salahnya aku membelanjai istriku sendiri," ucapan Ardy mengukir senyuman di kedua sudut bibir istrinya.


Tanpa menunggu lebih lama lagi, Jian pun membuka isi ketiga paper bag tersebut. Dan ia sedikit terkejut saat melihat apa isi di dalamnya.


"Kau membelikan ini untukku? Sungguh?" tanya Jian dengan tawa kecil yang menghiasi bibirnya.


Ardy menganggukan kepalanya.


Satu persatu Jian mengeluarkan isi dari dalam paper bag tersebut. Ia tidak menyangka jika Ardy akan membelikan pakaian dalam untuknya. Baik pakaian dalam yang atas maupun yang bawah.


"Kau begitu memperhatikanku?"


"Tentu saja. Dan ini," Ardy mengambil paper bag yang belum di buka oleh istrinya. "Aku juga belikan baju ibu hamil, sebab mulai hari ini kau tidak boleh memakai baju ketat apalagi celana. Aku tidak mau calon bayiku tumbuh tidak nyaman di dalam perutmu," tambah pria itu.


Jian sudah tampak berkaca-kaca, ia tidak menyangka akan mendapatkan suami seperti Ardy. Pria itu tampak romantis sekali, meski pada awal ia mengenalnya, Ardy merupakan pria yang cukup mengerikan untuknya.


"Terima kasih, sayang. Aku mencintaimu, sangat," ucap Jian sambil memeluk tubuh suaminya, ia menenggelemkan wajahnya di dada bidang milik Ardy dan menangis haru di sana.


Ini merupakan pengakuan serta pernyataan cinta yang pertama kali Jian berikan untuk Ardy. Dan itu terdengar begitu indah. Keduanya kini nerasakan kebahagiaan membuncah yang menjalar ke dalam hati masing-masing.


"Aku lebih mencintaimu, Jian sayang," balas Ardy dengan menghujani ciuman di pangkal kepala istrinya tiada henti.


Ardy sangat bersyukur sekali bisa menemukan wanita yang bisa merubah hidupnya. Meski awal pertemuan mereka bisa di bilang buruk, namun siapa sangka, keburukan itu memberi hikmah dan membawanya ke dalam kebaikan serta kebahagiaan yang tak terkira.


Jian bukan hanya membuatnya jatuh cinta, tapi mampu menghilangkan perasaan dendam pada setiap wanita yang selama ini menjadi korban atas kebenciannya pada sang ibu. Perlahan, ia juga akan berusaha menghilangkan kebencian pada ibunya, dan jika Tuhan memberinya kesempatan untuk bertemu, ia akan meminta penjelasan atas apa yang terjadi sebenarnya.


"Ayo, makan. Kau pasti sudah sangat lapar!" ajak Ardy pada wanita yang masih betah dalam pelukannya.


Jian pun mendongakkan kepalanya kemudian mengangguk.


Mereka berdua pergi menuju meja makan, dan Ardy terkagum pada istrinya yang masih bisa memasak sebanyak itu meski dalam keadaan tengah mengandung.


"Ini kau sendiri yang masak, sayang?"


Jian menggeleng. "Berdua."


Ardy mengernyitkan keningnya. "Berdua? Dengan siapa? Daven?"


Alih-alih takut saat melihat kemarahan mulai muncul di wajah suaminya, Jian justru tersenyum. Hal itu semakin membuat Ardy bertanya-tanya.


"Kok Daven, sih? Kau lupa, aku kan tengah berbadan dua." Jian meraih buah tangan Ardy lalu menempelkannya di perutnya.


"Aku masak berdua dengan anakku, anakmu, anak kita, sayang."


Kemarahan yang baru saja muncul di wajah Ardy seketika lenyap di gantikan oleh senyuman hangat.


"Maaf aku sudah berbicara yang tidak-tidak sayang!" ucap pria itu.


"Tidak apa-apa."


Ardy berdiri menekuk lututnya, mencoba mensejajarkan posisi kepalanya dengan perut Jian. Ia menangkup kedua sisi perut Jian, lalu memberikan ciuman hangat dan dalam cukup lama di sana.


"Baik-baik di perut ibu, anak ayah," ucap Ardy lalu memberi ciuman lagi di sana, namun kali ini singkat.


Bersambung...


___


...LIKE,KOMEN,HADIAH POIN KOIN, tambah ke rak FAVORIT yaaaa...


...Bantu SHARE cerita ini ke grup fb atau WA yang suka baca Novel, ya 😊...