One Night Stand With TUAN MUDA

One Night Stand With TUAN MUDA
Perkara Gagang Sapu


Damar dan Ardy menghentikan percakapannya pada saat Jian memasuki kamar.


"Ayah, aku buatkan bubur untukmu," ujar wanita yang kini duduk di tepi ranjang sang ayah, sementara Ardy kini bangkit berdiri.


"Ayah tidak lapar, nak," kata Damar.


"Tapi ayah harus makan, ayah kan harus minum obat agar ayah cepat pulih."


Tanpa ada kata penolakan lagi, Damar membuka mulutnya ketika Jian sudah menyendok bubur tersebut.


"Ayah harus sembuh, ayah harus sehat, aku tidak mau ayah sakit, aku juga mau ayah berhenti bekerja saja!" pinta Jian masih sambil menyuapi sang ayah.


"Memangnya paman kerja apa?" tanya Ardy penasaran.


"Buruh biasa saja, nak Ardy," jawab Damar.


Ardy mengangguk-anggukan kepalanya beberapa kali. Melihat pria yang sudah ia anggap seperti ayahnya sendiri itu membuatnya tidak tega jika pria itu tetap bekerja dalam keadaan tubuh yang kurang sehat.


"Jian benar, paman. Sebaiknya paman berhenti kerja saja!" ujar Ardy menyetujui permintaan Jian.


"Saya ini tulang punggung keluarga, nak Ardy, jika saya tidak bekerja, maka siapa yang akan menafkahi keluarga? Apalagi selama ini saya sakit-sakitan dan harus berobat jalan, perlu banyak uang untuk membeli obat dan kebutuhan yang lainnya," beber Damar.


"Tapi sekarang paman sudah pulih, paman tidak perlu berobat jalan lagi. Saya akan membuatkan usaha untuk paman, agar paman tidak lagi harus bekerja yang membuat paman lelah."


"Tidak usah, nak Ardy! Nak Ardy sudah banyak membantu, terima kasih banyak," tolak pria itu.


"Aku akan tetap membuatkanmu usaha di dekat rumah, paman," ujar Ardy kekeh.


Damar hanya bisa menghela napas panjang, ia tidak tahu harus membalas kebaikan Ardy seperti apa. Pria itu benar-benar banyak membantu keluarganya. Termasuk menyembuhkan penyakitnya.


"Ini obatnya, ayah," Jian memberikan beberapa butir obat pada ayahnya usai bubur di dalam mangkuk itu habis.


Damar pun meminum beberapa butir obat tersebut sekaligus, kemudian menerima segelas air putih yang di berikan oleh putrinya.


Jian dan Ardy pun kini keluar dari kamar, membiarkan Damar beristirahat total. Sementara Mella tidak ada di sana, entah kemana perginya wanita itu.


🌷🌷🌷


Di sebuah cafe.


"Aku sudah tidak punya uang lagi, berhenti memerasku!" ujar wanita dengan wajah tertutup, rupanya ia tengah marah pada lawan bicaranya.


"Saya tidak mau tahu, berikan uangnya!" kata wanita yang di ketahui ternyata Mella dengan paksa.


"Sudah ku katakan, aku tidak punya uang!" sentak wanita tersebut.


"Kau berani membentakku, hah? DASAR MANUSIA TIDAK BERGUNA!" maki Mella kemudian pergi dari sana.


Dari balik penutup wajah wanita yang di temui Mella, tampak jelas air mata berlinang cukup deras di sana. Wanita itu menenggelamkan wajah di atas meja, menahan isak tangis di sana.


Usai memaki wanita yang baru saja ia temui, ada penyesalan dalam diri Mella. Kini ia tengah dalam perjalanan pulang naik taksi online.


Sebenarnya Mella juga terpaksa meminta uang pada wanita itu. Uangnya ia selalu gunakan untuk pengobatan suminya, yakni Damar. Sebab uang hasil dari kerja buruh Damar hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-sehari saja.


Selama ini Damar hanya tahu obat yang setiap hari di konsumsi itu hasil dari kerja keraanya, padahal Mella membeli obat tersebut dari hasil uang yang ia minta wanita yang seriang ia temui secara diam-diam. Sebab obat jantung itu lumayan mahal, dan Damar juga harus check up rutin. Itu membutuhkan biaya yang cukup menguras dompet.


Ketahuilah, bahwa Mella juga memiliki sisi sifat yang baik. Hanya saja kita selalu menilai seseorang dalam satu sudut pandang saja. Tanpa mau menilai orang dari sudut pandang yang berbeda.


🌷🌷🌷


Beberapa hari kemudian, Damar sudah tampak sehat. Mungkin ini saatnya Ardy dan Jian menceritakan semuanya pada pria paruh baya itu.


Sebelum itu, mereka juga menyempatkan diri untuk membeli resep obat yang di berikan Dokter Jasson jika sewaktu-waktu Damar mengalami serangan jantung kembali. Mereka juga kembali melibatkan Daven dalam hal ini. Beruntungnya Daven mau.


"Selamat pagi, tante."


"Selamat pagi, bibi," ucap keduanya secara bersamaan.


Kedua mata Mella seketika membulat sempurna, saat ia mendapati pria yang berdiri di samping Ardy.


"KAU-"


"Tenang dulu, tante!" ujar Ardy saat Mella tampak marah pada Daven. "Dia temanku, kami datang ke sini untuk bertemu paman Damar," sambung Ardy.


"Ya, bibi, namaku Daven."


Daven mengulurkan tangan memperkenalkan diri pada Mella, sebab sebelumnya ia tidak menyebutkan nama saat pertama kali datang ke rumah itu.


Bukannya menjabat tangan Daven, Mella justru menepis tangan itu dengan sangat kasar. Ardy dan Daven kaget di buatnya.


"Sudah saya ingatkan, JANGAN PERNAH MENGINJAKKAN KAKI DI RUMAH INI! Kau mau membuat suamiku jantungan lagi, HAH??" hardik Mella dengan emosi yang meluap-luap.


Mendengar teriakan dari luar rumahnya membuat Damar dan Jian ikut kaget. Karena penasaran, mereka memutuskan pergi ke sumber teriakan tersebut.


"Tante, tenang dulu! Kami datang ke sini dengan baik-baik," lerai Ardy, ia tidak menyangka jika ibu sambung Jian semarah ini pada Daven.


"Ya, bibi. Beri aku kesempatan untuk bertemu paman Damar, aku mohon!" pinta Daven dengan amat sangat.


Bukannya luluh, Mella justru malah mengusir paksa Daven dengan cara kasar. Ia meraih gagang sapu yang tidak jauh dari jangkauan tangannya, lalu ia gunakan untuk memukuli tubuh Daven. Dasar emak-emak.


"Hentikan, tante, hentikan!" pinta Ardy berusaha melindungi tubuh Daven dari serangan gagang sapu.


"Aawww.." teriak Ardy saat kepalanya yang akhirnya jadi sasaran si gagang sapu, pria itu meringis kesakitan.


"Ada apa ini?" Suara Damar dari dalam rumah menghentikan keributan yang terjadi.


Semuanya menoleh pada pria paruh baya yang baru saja keluar bersama Jian.


"Tuan Ardy, Daven," lirih Jian begitu melihat mereka tengah membungkukan badan guna menghindari serangan Mella.


"Kau kan-" kata Damar menunjuk Daven sembari mengingat-ingat siapa pria di hadapannya itu.


Daven pun kini menegakkan tubuhnya, begitupun dengan Ardy.


"Dia penyebab serangan jantung ayah kambuh!" seru Mella.


Mendengar Mella mengatakan hal tersebut, Jian segera mengatakan hal agar ayahnya tidak sampai terpancing emosi.


"Dia teman tuan Ardy, ayah, temanku juga. Namanya Daven."


Semua pasang mata kini tertuju pada Jian, termasuk pembaca.


"Temanmu?" tanya Damar memastikan, Jian pun mengangguk membenarkan.


"Ya, paman. Namaku Daven. Sebelumnya aku minta maaf yang sebesar-sebesarnya karena sudah membuat kesalahan yang teramat fatal. Aku sungguh menyesal," ucap Daven benar-benar menyesali perbuatannya tempo hari.


Awalnya Damar juga akan memarahi Daven, lantaran pria itu yang sudah membuat hatinya bagai di sayat ketika mendengar Jian terenggut kehormatannya sampai ia terkena serangan jantung. Tapi mendengar Jian mengatakan itu temannya, seketika menetralisir emosinya.


"Ya sudah, masuk, kita bicara di dalam!" ajak Damar, kemudian kembali masuk ke dalam rumahnya.


Ardy dan Daven menghela napas lega mendengarnya. Sementara Mella tidak terima mendengar hal tersebut. Ia membanting gagang sapu saat semua orang sudah masuk ke dalam rumah melewatinya begitu saja. Dan yang membuat emosinya kian bertambah, gagang sapu yang ia banting tidak sengaja mengenai kakinya.


"Sialan ..!" umpatnya sembari menaikkan sebelah kakinya yang kesakitan.


...Bersambung......