One Night Stand With TUAN MUDA

One Night Stand With TUAN MUDA
Pengkhianat


Usai kejadian itu, Daven memutuskan tinggal di rumah orang tuanya. Jenny, merupakan ibu dari pria itu berjalan menghampiri, kemudian duduk di sofa ruang tamu di samping putranya.


"Dav, kau ada masalah apa, sayang?" tanya wanita tersebut.


Daven menoleh kemudian tersenyum. "Tidak ada, ma," jawabnya bohong.


Jenny menghela napas. Ia tahu betul bagaimana putranya. "Jangan bohongi mama, Dav! Beberapa hari terakhir ini kau terlihat murung. Dan, tumben kau pulang ke rumah. Ada masalah apa, cerita pada mama?! Siapa tahu, mama bisa bantu," bujuk wanita itu.


Akhirnya pria itu luluh dan menceritakan apa masalahnya.


"Ya, ma. Jadi aku mencintai wanita yang bernama Jian, aku dengannya sudah sangat dekat. Tapi, Jian menghindar dengan alasan dia segan pada temannya yang naksir padaku. Dan ternyata, Jian juga dekat dengan Ardy bahkan mereka tinggal satu Unit," jelas Daven.


Jenny mengernyit. "Wanita yang kau suka tinggal bersama Ardy, temanmu itu?"


Daven mengangguk. "Ya, ma."


"Itu artinya dia bukan wanita baik-baik, Dav," cetus Jenny.


"Tidak, ma. Bukan seperti itu. Justru Jian adalah wanita yang sangat baik dan lembut. Hanya saja, dia di manfaatkan oleh Ardy," terangnya.


Jenny semakin bingung. "Di manfaatkan bagaimana?"


Daven menghela napas panjang. "Jadi, Jian itu bekerja di perusahaan Ardy. Dan Jian melakukan kesalahan yang membuat kerugian besar. Lalu Ardy meminta Jian tidur dengannya sekaligus tinggal bersamanya. Begitu, ma."


Jenny diam sejenak, mencoba mencerna perkataan putranya. "Ya sama saja, Dav. Jika Jian menerima permintaan Ardy untuk tidur, itu artinya dia memang bukan wanita yang baik."


Daven berdecak, ibunya tidak juga mengerti maksudnya. "Jian melakukan itu karena Ardy mengancamnya akan penjara. Dan Jian tidak mau ayahnya serangan jantung gara-gara mendengar berita kasus penjaranya," jelas Daven lagi.


Jenny mengangguk-anggukan kepalanya. "Lantas, apa yang membuatmu sampai murung seperti ini, Dav?"


"Itu dia, ma. Setelah aku mengetahui hal itu, aku tidak rela jika Jian, wanita yang aku cintai itu di perlakukan seperti itu oleh Ardy. Aku menceritakan semua ini pada orang tua Jian, dan ..."


"Dan apa, Dav?" tanya Jenny penasaran.


"Dan ayah Jian shock kemudian serangan jantung sampai masuk Rumah Sakit," ucapnya lemah.


Jenny menutup mulutnya yang menganga. "Lalu?"


"Ardy marah karena aku sudah menceritakan rahasianya sampai membuat ayah Jian seperti itu. Dan Ardy akan menceritakan pada Jian bahwa akulah yang membuat ayahnya masuk Rumah Sakit. Aku takut Jian akan membenciku, ma. Aku tidak mau Jian menjauhiku selamanya. Aku mencintainya, ma. Sungguh," terangnya.


Sekarang Jenny paham akan maksud putrnya. Ternyata masalahnya begitu berat.


"Tidak usah takut, sayang! Jika Jian adalah wanita baik seperti yang kau maksud, dia tidak akan membencimu. Dia pasti akan memaafkanmu. Yang penting, kau jangan menyerah untuk mendapat maaf darinya," tutur Jenny seraya mengusap-usap bahu Daven.


Daven menatap manik mata ibunya lekat. Ia seperti mendapat kekuatan baru sekarang. Ya, ia harus semangat untuk mendapatkan maaf dari Jian. Sebab semuanya butuh perjuangan. Ia tidak boleh menyerah begitu saja dengan tenggelam dalam keterpurukan.


🌷🌷🌷


Sekitar pukul 8 malam. Ardy menghentikan mobilnya di sebuah klub. Tempat itu merupakan tempat melepas masalah meski sejenak. Ia selalu pergi ke tempat itu jika sedang ada masalah.


Di dalam klub, Ardy meminum alkohol banyak. Beberapa wanita berpakaian seksi mengerubungi dan bergelayut manja di tubuhnya. Bahkan merayunya untuk melakukan adegan panas, namun Ardy menolak meski dalam keadaan mabuk.


Pandangan matanya kini tertuju pada wanita yang baru saja masuk ke tempat tersebut. Wanita itu tampak menggandeng seorang pria yang berusia jauh lebih tua dengan tubuh dan gendut.


Kedua mata Ardy seketika menyala merah menahan amarah. Ketika ia dapat melihat jelas siapa wanita tersebut meski keadaan ruangan cukup gelap dan hanya lampu disko kerlap-kerlip yang menerangi.


Ardy bangkit dari duduknya, menepis tangan-tangan wanita yang sejak tadi nakal memainkan tubuhnya agar tergoda. Kemudian berjalan menghampiri wanita yang hendak memasuki ruang kamar yang ada di dalam klub tersebut.


"DASAR BRENGSEK!!"


Tiba-tiba saja melayangkan pukulan pada pria tua nan gendut yang di gandeng oleh wanita itu. Pria itu sampai jatuh tersungkur.


"Oh my god," teriak wanita itu ketakutan, saat pria yang akan masuk ke kamar bersamanya tiba-tiba saja di pukul oleh seseorang.


Keadaan klub seketika berubah menegangkan. Semua pasang mata tertuju pada Ardy dan kedua orang itu.


Begitu wanita tersebut melihat wajah pelaku, dia sangat terkejut.


"Ba-baby..?" ucapnya gugup.


Pria bertubuh gendut itu bangkit kemudian membalas pukulan Ardy.


"Sialan, kau," hardik pria itu seraya melayangkan pukulan pukulannya.


Namun dengan cepat Ardy menangkis dan mengunci tangan pria itu ke belakang. Pria itu sampai meminta ampun akibat kesakitan.


"Pergi dari sini, dia wanitaku!" ucap Ardy lirih tepat di telinganya.


Pria itu mengangguk paham, kemudian pergi dari tempat tersebut. Keadaan kembali tenang saat pertengkaran di antara mereka sudah selesai. Seorang pemilik klub itupun meminta Ardy untuk tidak membuat keributan lagi di sana.


Kini Ardy menatap tajam wanita yang ternyata adalah Gea. Wanita itu ketakutab sekarang.


Tanpa mengatakan satu patah kata, Ardy menarik lengan Gea ke dalam kamar di sana dengan kasar. Kemudian ia membanting tubuh Gea ke atas ranjang.


Pria itu kemudian melepas dasi yang masih terpasang di lehernya meski sudah sangat berantakan. Dasi itu ia gunakan untuk mengikat lengan Gea ke kepala ranjang yang terbuat dari kayu.


Ardy menatap Gea dengan seringai yang menakutkan. Pria itu kini sedang di bawah kendali lantaran mabuk berat.


"Baby, lepaskan aku!" pinta Gea saat Ardy mengikat tangannya. Ia ketakutan sekali melihat Ardy yang seperti sekarang ini.


"Kau mengkhianatiku! Kau bilang kau pergi ke luar negeri, tapi ternyata kau bersenang-senang dengan pria-pria kaya tua itu," ucapnya dengan napas yang tidak beraturan.


Gea menggeleng keras. "Tidak, by. Aku bisa jelaskan semuanya padamu."


"Kau pikir aku akan percaya padamu, PENGHIANAT?!"


Gea mulai meneteskan air mata. Betapa mengerikannya Ardy sekarang. Dia berubah seperti monster, meski ia tahu bahwa Ardy tengah mabuk.


Ardy menatap Gea dengan tatapan yang penuh gairah. Biasnya, ia akan senang jika akan melakukan hal manja itu dengan Ardy, tapi sekarang kebalikannya.


"Bermain untuk yang terakhir kalinya, sayang!" ucapnya terdengar mengerikan.


Ardy menciumi bibir Gea sangat kasar, turun ke leher kemudian ke bagian dada. Pria itu juga memelintir dan menggigit puutingnya cukup keras. Sehingga membuatnya memekik kesakitan.


"Ardy, jangan lakukan itu, ku mohon!" Gea berderai air mata.


Ardy sama sekali tidak memperdulikan ucapan Gea. Dia terus melakukan aksinya sampai merobek gaun cantik yang di pakai wanita yang berada di bawah tubuhnya.


"Mari bersenang-senang, baby!" ucap Ardy setelah setengah tubuh Gea terbuka.


Bersambung...


___


Spam Like, Komen, vote, sama hadiahnya yaaa


Tambahkan juga ke list favorit.