One Night Stand With TUAN MUDA

One Night Stand With TUAN MUDA
Cincau


Berita rencana pernikahan serta kehamilan Jian sudah terdengar sampai di telinga Daven. Pria itu benar-benar putus asa sekarang, kesempatan untuk memiliki wanita yang ia inginkan lenyap seketika. Saat ia pikir masih ada sepercik harapan untuk mendapatkannya, justru semua itu sirna begitu saja.


Jenny, wanita yang merupakan ibu dari Daven lagi-lagi harus melihat wajah murung putranya. Ia memutuskan masuk ke dalam kamar putranya saat melewati kamar Daven dengan pintu yang setengah terbuka.


"Kenapa lagi, Dav?" tanya Jenny, sang ibu.


Pertanyaan serta sentuhan tangan Jenny di pundaknya membuat Daven tersadar dari segala lamunannya.


"Ma.." ucapnya lirih, di iringi senyuman yang Jenny pun tahu itu sebuah senyum palsu untuk menutupi kesedihannya.


"Jian lagi?" tanya Jenny mencoba menebak apa yang tengah ada dalam pikiran putranya.


Daven diam seraya menundukan kepalanya. Meski bukan pakar psikolog, ibunya itu selalu bisa menebak apa yang sedang ia pikirkan tepat sasaran tanpa melenceng.


Jenny menghirup napas panjang, lalu menghembuskannya secara perlahan.


"Masih banyak wanita yang lebih baik dari dia, sayang. Jian wanita baik, tapi bisa saja Tuhan justru sedang mempersiapkan jodoh yang jauh lebih baik untukmu," tutut Jenny bijaksana.


"Tapi, ma-"


"Apa mama perlu carikan wanita untukmu?" tawar wanita itu.


"Tidak, tidak perlu. Aku bisa mencari wanita sendiri," tolak Daven dengan cepat.


Jenny pun mengembangkan senyum.


"Nah, begitu. Lupakan Jian, ikhlaskan dia. Kau bisa mencari yang lainnya, bukan?"


Daven mengangguk lemah. "Ya."


"Ya sudah, kalau begitu, tidurlah! Good night."


"Ya, mama. Night too," balas Daven.


Jenny pun keluar dari kamar Daven. Setelah menutup pintu kamar tersebut, Jenny berdiri sebentar di depan pintu kamar Daven.


Kasihan Daven, sebelumnya dia tidak pernah semurung ini soal wanita. Sepertinya Jian terlalu spesial dalam hidupnya. Ucap Jenny dalam hati.


Saat hendak melangkahkan kaki dari tempat berdirinya saat ini, tiba-tiba saja suara seseorang dari balkon yang tidak jauh dari sana menarik perhatiannya.


"Siapa yang sedang mengobrol, ya?" gumamnya.


Karena penasaran, akhirnya Jenny memutuskan untuk mengeceknya ke balkon.


"Jangan sampai Anet lolos, kalau sampai itu terjadi, aku yang akan menghajar kalian!" ancam pria pada seseorang di balik telponnya.


"Pa.." suara Jenny membuat pria bertubuh tinggi besar itu membalikan tubuhnya, pria itu tampak sedikit panik.


"Ma, sejak kapan kau berdiri di sini?" tanya pria itu seraya menghampiri Jenny.


"Papa bicara sama siapa? Dan siapa itu Anet?" Jenny balik bertanya.


"Mm.." pria yang merupakan suami Jenny, sekaligus papa Daven itu kini di buat gelagapan, entah apa yang tengah ia sembunyikan pada istrinya. "Oh, itu.. Anet itu orang yang sudah membawa kabur uang perusahaan, ma. Maka dari itu papa meminta kaki tangan papa untuk mengawasi gerak-geriknya," jelas pria itu.


Jenny merasa ragu dengan jawaban sang suami, tapi ia berusaha menutupi keraguannya dengan pura-pura percaya saja.


"Kenapa tidak di bawa ke jalur hukum saja, bukankah itu termasuk kriminal?" saran Jenny.


"Itu dia, ma. Aku belum menemukan bukti yang akurat untuk menjebloskannya ke dalam penjara. Maka dari itu dia harus di awasi agar tidak kabur," jelas pria itu lagi.


"Oh, ya sudah kalau begitu kita tidur, yuk! Ini sudah terlalu malam."


"Iya, ma. Ayo," pria tersebut merengkuh kedua bahunya istrinya membawa masuk ke dalam rumah seraya melayangkan senyum agar Jenny tidak mencurigai apalagi sampai berpikir macam-macam.


🌷🌷🌷


Keesokan paginya. Ardy bangun lebih awal, sebab hari ini ia harus pergi bersama Jian untuk memilih gaun pengantin yang akan mereka pakai di hari pernikahan.


Sampai di tempat tujuan, Ardy di sambut hangat oleh Revita, seorang Designer terkenal sekaligus kenalannya.


"Selamat pagi, Dy. Ini calon istrimu?" sapa Revita begitu Ardy datang, sebelumnya mereka pun sudah membuat janji.


"Pagi. Ya, ini calon istriku, namanya Jian. Jian, ini Revita, yang akan mendesign gaun pernikannya," Ardy mengenalkan kedua wanita di sampingnya.


"Revita."


"Jian."


Mereka berjabat tangan dengan menyebutkan nama masing-masing.


"Oh, ya, ayo masuk, aku akan menunjukan beberapa design gaun pengantin yang sudah aku buatkan. Dan sudah banyak gaun pengantin yang sudah jadi juga," ajak wanita itu di angguki oleh Ardy dan Jian.


Keduanya mengikuti langkah Revita dari belakang, sampai akhirnya mereka sampai di ruangan yang terdapat banyak sekali gaun pengantin. Jian menatap takjub ruang di sekelilingnya, sorot matanya berpindah menatap kagum wanita dengan postur tubuh tinggi semampai di hadapannya.


"Bagaimana, Jian, apa kau tertarik dengan hasil design-ku?" tanya Revita.


"Sangat," jawab Jian tidak bisa berkata-kata saking kagumnya.


"Ya sudah, sekarang kau bisa melihat gambar gaun yang akan aku rancang. Ini," Revita kemudian memberikan sebuah buku besar berisi gambar design nya.


Satu persatu Jian lihat, dan semuanya bagus-bagus sekali. Hasilnya juga tidak ada yang gagal. Ia benar-benar kagum pada Revita, wanita yang usianya masih terbilang sangat muda itu memiliki kemampuan yang patut di acungi jempol.


🌷🌷🌷


Usai memilih jenis dan gaya gaun pengantin yang akan di rancang selama satu minggu ke depan, Ardy dan Jian pun memutuskan untuk pulang.


Di tengah perjalanan, tiba-tiba saja Jian merasa lapar. Sebab tadi pagi ia melewatkan sarapannya. Ardy yang melihat Jian memegangi perut usai terdengar bunyi keroncongan berinisiatif membawa wanita itu ke sebuah restoran.


"Kalau lapar bilang, Jian. Tidak usah segan!"


Jian menoleh pada pria di sampingnya, kemudian tersenyum malu.


Karena cuaca siang ini terbilang terik, Jian jadi membayangkan minuman dingin yang manis-manis. Sepertinya itu akan menyegarkan dan mengobati dahaganya.


"Tuan.." panggil Jian lirih dan nyaris tak terdengar.


"Hm?" jawab Ardy masih sambil fokus menyetir.


"Apa aku boleh meminta sesuatu?" tanya Jian sedikit ragu.


"Apa? Katakan saja!"


"Mm.." sebenarnya Jian segan untuk meminta apapun pada Ardy, takut merepotkan juga. "Aku menginginkan cincau," pintanya.


Ardy menoleh pada Jian seraya mengernyitkan kedua alis.


"Cincau? Apa itu?"


"Kau tidak tahu?"


Ardy menggeleng. "Tidak, apa itu?"


"Sejenis minuman segar. Aku menginginkannya sekarang. Kau kan ayah calon anak yang sedang aku kandung, banyak yang bilang jika ibu calon anaknya menginginkan sesuatu harus di turuti. Kalau tidak, anaknya nanti bica ngences. Kau mau anak kita terlahir ngences?"


Dengan cepat Ardy menggelenglan kepalanya. "Tidak, tidak mau. Tapi aku tidak tahu apa itu cincau, Jian."


"Kau bisa mencarinya di penulusuran, tuan!"


Ardy melirik ke arah wanita yang duduk di sampingnya. Jian terlihat begitu menginginkan minuman segar bernama cincau itu. Satu sisi ia tidak mau jika anaknya nanti terlahir ngences, tapi di sisi lain ia tidak tahu minuman tersebut. Masa iya harus cari di google dulu? Haduh.


Bersambung...


___