
Ardy menyandarkan tubuhnya di balik pintu seraya memejamkan kedua mata mengarah ke atas. Rasa kebenciannya yang terlalu besar membuat banyak wanita tersakiti dan jadi korban atas dendamnya pada sang ibu. Dan ia berjanji, Jian adalah wanita terakhir yang pernah ia sakiti, dan dengan memperistri Jian merupakan caranya menebus kesalahannya.
Praakk..
Suara benda jatuh membuat Ardy langsung membuka mata, suara tersebut berasal dari kamarnya. Dan kini sorot matanya tertuju pada wanita yang tengah berdiri di dekat pintu kamar dengan wajah panik.
"Jian!" pekiknya.
Jian pasti sudah mendengar semua percakapannya tadi dengan Gea.
Jian segera membereskan benda yang baru saja tidak sengaja ia jatuhkan, begitu mendongak, Ardy sudah berdiri di depannya.
"Tuan .." ucapnya lirih, terdengar nada takut dari bibirnya.
Ardy membantu Jian membereskan benda di meja dekat pintu kamarnya yang masih tampak berantakan. Kemudian merengkuh tubuh wanita tersebut dan membawanya ke tempat tidur.
"Kenapa meninggalkan tempat tidur, Jian? Tubuhmu masih lemas," cecar pria itu.
"Maaf, aku sudah lancang mendengar percakapanmu dengan kekasihmu!" ucap Jian merasa bersalah.
"Tidak, bukan itu Jian. Dia bukan lagi kekasihku, sudah tidak ada hubungan apapun di antara kami."
"Apa aku penyebab hubungan kalian berantakan?" tanya Jian seraya menunduk.
"Tidak, Jian. Jangan pernah mengatakan itu lagi, ya! Kau sama sekali tidak ada hubungannya dengan selesainya hubungan kami. Beristirahatlah, aku sedang panggilkan Dokter untukmu!"
Jian akhirnya menuruti perkataan Ardy. Sepuluh menit kemudian, Dokter yang sempat pria itu panggil datang. Dokter yang di ketahui bernama Evelyn itu langsung memeriksa kondisi Jian. Sebelumnya Ardy sudah meminta Dokter Evelyn untuk merahasiakan dulu kehamilan Jian. Awalnya Dokter Evelyn bertanya-tanya, namun setelah Ardy menjelaskan dengan berbagai akhirnya Dokter itupun menurut.
"Jadi bagaimana kondisi saya, Dok?" tanya Jian lirih.
"Nona baik-baik saja. Hanya saja saya sarankan, nona jangan terlalu banyak memikirkan sesuatu yang membuat nona stress!" tutur Dokter Evelyn.
"Tapi, Dok, akhir-akhir ini saya sering merasa pusing, mual, serta muntah-muntah," keluhnya.
Dokter Evelyn menghela napas panjang seraya menoleh ke arah Ardy sekilas, kemudian melemparkan senyum tipis pada Jian.
"Itu hanya masalah biasa, nona. Jangan terlalu di pikirkan!"
"Baik, Dokter. Terima kasih."
"Ya sudah, ini saya berikan obat agar mualnya berkurang, dan vitamin di minum tiga kali sehari."
"Ya, dok. Terima kasih banyak."
"Sama-sama, nona. Tuan, istrinya harus lebih di jaga, ya. Soalnya dalam kondisi seperti ini, nona lebih rentan," pesan Dokter Evelyn sebelum pergi dari sana.
"Baik, Dokter. Terima kasih."
Setelah mengantar Dokter Evelyn sampai depan Unit, ia kembali ke kamar.
"Tuan, kenapa Dokter Evelyn mengatakan aku ini istrimu?" tanya Jian heran.
"Mungkin karena kita tinggal bersama, jadi beliau mengira jika kita sepasang suami istri," jelas Ardy.
Jian hanya menganggukan kepalanya lemah, alasan Ardy masuk akal juga.
"Aku akan memesakan makanan untukmu, nanti kau minum obatnya, ya!"
"Iya."
π·π·π·
Tiga hari usai Damar melakukan tindak medis oleh tim Dokter Jasson, kondisinya kini sudah lebih membaik. Dokter tersebut mengatakan jika Damar sudah bisa di bawa pulang besok lusa.
Dan kabar baiknya, Dokter Jasson mengatakan jika damar tidak akan lagi mengalami serangan jantung yang berakibat fatal. Jikalau memang mengalami serangan jantung kembali, itu tidak akan lama. Cukup dengan mengontrol deru napas dan meminum obat tertentu, maka jantungnya akan kembali stabil.
"Sesuai janji, saya berterima kasih banyak karena akhirnya suami saya bisa pulih dari penyakit jantungnya yang di derita selama beberapa tahun," ucap Mella pada Ardy.
"Ya, sama-sama," balas Ardy.
"Tidak perlu berlebihan, Jian! Aku hanya melakukan apa yang harus aku lakukan. Dan itu semua aku lakukan dengan tulus, tak perlu imbalan."
"Terima kasih, tuan. Terima kasih banyak!" ucap Jian tanpa henti.
π·π·π·
Dan kini tiba waktunya Damar di bawa pulang. Semua pasang wajah menunjukkan ekpresi bahagia serta haru. Mereka sudah tiba di rumah menggunakan mobil Ardy.
Ardy membantu Damar turun dari mobil, di bantu oleh Jian dan Mella juga. Mereka membawa Damar ke kamar dengan membaringkan pria paruh baya tersebut di atas tempat tidur sederhana.
"Terima kasih banyak atas semuanya, nak Ardy," ucap Damar sembari menatap pria yang kini berdiri di samping ranjang.
"Sama-sama, paman. Jika paman butuh bantuan apapun, saya siap membantu," ucap Ardy dengan lapang dada.
"Itu pasti akan lebih merepotkan nak Ardy."
"Tidak, paman. Jangan sungkan, saya sama sekali tidak pernah merasa di repotkan."
Damar memandang wajah Ardy dengan senyuman yang sulit di artikan. Sepertinya Ardy memang orang baik-baik dan tulus. Maka ia tidak akan berat melepas putrinya dan menitipkannya pada Ardy.
"Mendekatlah, nak!" pinta Damar seraya melentikan jemarinya.
Dengan perasaan canggung, akhirnya Ardy duduk di tepi ranjang menghadap pria yang terbaring di hadapannya.
"Ada apa, paman?" tanya Ardy penasaran.
Suasana cukup hening, Mella dan Jian kini tengah sibuk membersihkan rumah yang beberapa hari ini mereka tinggalkan.
"Apapun yang terjadi, saya titip putri semata wayang yang amat saya cintai itu padamu, nak," ucapan Damar membuat tubuh Ardy seketika menegang.
"Saya yakin, kau pria yang baik dan pantas menjaga, melindungi, serta memberi cinta kasih sebagaimana saya demikian pada Jian," imbuh Damar.
Ardy mengangguk kaku akibat gugup, ia tidak menyangka jika Damar akan mengatakan hal yang tak terduga seperti ini padanya.
"I-iya, p-paman," jawab Ardy terbata.
"Maka menikahlah dengan putriku, saya akan merestuinya!"
Seperti mendapat oasis di tengah gurun, permintaan Damar memberinya angin segar yang mendorong keinginannya selama ini. Tentu saja, ia tidak akan menolak permintaan Damar.
"Aku pasti akan memenuhi permintaan paman, bahkan tanpa di minta. Tapi sebelum itu, ada yang harus aku sampaikan pada paman."
Damar mengernyitkan keningnya. "Apa itu?"
"Setelah paman pulih total, aku pasti akan mengatakan apa yang akan sampaikan."
Rasa penasaran Damar kian membesar. Dalam hati ia bertanya-tanya serta menduga-duga.
Apa yang akan nak Ardy sampaikan? Jadi, ada sesuatu tertentu di balik keinginannya aku pulih total dari penyakit jantungku? Tapi apa? Mudah-mudahan bukan berita buruk.
...Bersambung......
___
...Jangan lupa untuk tetap dukung Novel ini!...
...Kumpulin POIN dan VOTE...
...sebagai dukungan kalian!...
...Dengan cara klik HADIAH dan...
...klik gambar kopi βββatau gambar β€οΈ...
...Tambahkan ke rak favorit, ya. Supaya kalian dapat notifikasi ketika bab selanjutnya publish yaaaπ...
...Follow ig @wind.rahma...