
Jian memasuki ruang kerja Ardy setelah sebelumnya ia di hubungi oleh Alice. Ia mendapati Ardy tengah duduk di sofa, dan langsung bangkit berdiri begitu Jian datang.
"Selamat pagi, tuan," sapa Jian dengan sopan, layaknya karyawan dan pada atasannya.
"Pagi, Jian. Kemarilah, duduk!" balas pria itu lalu meminta Jian untuk duduk di sampingnya.
"Baik, tuan," jawab Jian menurut.
Kemudian Jian berjalan ke arah sofa dan duduk di samping pria tersebut dengan jarak satu meter. Melihat hal tersebut, Ardy menggeser posisi duduknya agar jarak mereka berdekatan.
"Jian," panggilnya lirih.
Wanita yang semula menunduk itu kini mendongak. "I-iya, tuan," jawabnya gugup.
"Lihat aku!" pinta Ardy, nada bicaranya terdengar serius.
Meski canggung, Jian mulai memberanikan menatap kedua manik mata Ardy, hingga kedua pasang mata mereka kini bertemu.
"Apa kau benar-benar akan menuruti permintaan ayahmu?" tanya pria itu.
Jian diam sejenak. Hal tersebut membuat Ardy kembali melontarkan pertanyaan.
"Lantas bagaimana dengan permintaanku? Apa kau dan ayahmu menyetujui?"
Jian bingung harus jawab apa. Lalu ia mengingat percakapannya dengan sang ayah tadi malam.
"Untuk hal itu, aku masih harus memikirkannya lagi, tuan. Aku belum bisa menjawabnya sekarang. Tapi untuk masalah resign kerja, ayahku sudah menyerahkan keputusannya padaku. Dan aku berharap masa kerjaku tidak berhenti sampai di sini," terang Jian.
Sorot mata Ardy memancarkan binar kebahagiaan. Tak apa Jian belum memberi keputusan untuk menikah dengannya, yang terpenting wanita itu masih akan tetap bekerja di kantornya. Itu sudah kebahagiaan yang luar biasa.
Ardy memegang kedua bahu Jian sambil menatap wanita tersebut dalam jarak yang cukup dekat.
"Sungguh?" tanya Ardy memastikan.
Jian mengangguk. "Ya, tuan."
Pria itu spontan memeluk tubuh wanita di hadapannya erat. Tubuh Jian sampai mematung dan kaku mendapat pelukan dari Ardy. Pria itu seolah sedang menyalurkan kebahagiaannya.
Pelukan tersebut berlangsung beberapa detik saja, Ardy segera melepas kembali pelukannya tanpa memudarkan binar bahagia di kedua manik mata hitam pekat itu.
"Aku benar-benar senang, akhirnya kau tidak jadi resign di perusahaanku, Jian. Maafkan atas semuanya yang aku lakukan padamu dan keluargamu, aku nyaris membuat ayahmu-"
"Tidak usah di bahas lagi, tuan!" pungkas Jian. "Lagipula, aku dan ayahku sudah memaafkanmu. Jadi tolong jangan bahas itu lagi, itu menyakitkan untukku!"
"Ya, Jian. Terima kasih, terima kasih karena kau dan ayahmu sudah berlapang dada memberi maaf pada pria sialan nan brengsek sepertiku."
"Ssstt .. Jangan bicara seperti itu, semua orang di bumi ini pasti pernah membuat kesalahan!" tutur Jian bijak.
Ardy semakin kagum pada Jian. Wanita itu benar-benar berbesar hati untuk memaafkan perbuatannya.
"Sekali lagi, aku minta maaf dan terima kasih banyak, Jian!"
"Ya, tuan."
Kedua bola mata Ardy sama sekali tidak memalingkan pandangannya dari wajah Jian. Bibirnya pun tak terlepas dari senyum yang mengembang dengan begitu manisnya.
"Oh, ya, tuan, apa aku boleh bertanya sesuatu padamu?" tanya Jian setelah kesenyapan terjadi di antara mereka beberapa saat.
"Boleh, tanya soal apa?"
"Mm .. Apa kau sudah tahu, siapa orang yang sudah tega memberi tahu ayah mengenai rahasia antara kau dan aku itu? Aku penasaran sekali siapa orangnya dan darimana dia mengetahui rahasia itu?"
Pertanyaan Jian seketika membuat Ardy gugup. Apa ia harus menceritakannya pada Jian? Tapi ia takut Jian kecewa setelah ini, dan jika Jian kecewa, itu artinya Jian memang ada memiliki perasaan pada Daven.
Dengan berat hati Ardy mengangguk. "Ya, aku sudah tahu."
"Siapa, tuan? Beri tahu aku!" pinta Jian dengan tidak sabar.
"Dia, temanku, temanmu juga," kata pria itu membuat kerutan di dahi Jian.
"Daven Sagara."
Jian langsung membulatkan matanya sempurna. Rasanya tidak mungkin jika pria itu yang membocorkan rahasianya pada ayahnya. Lagipula, Daven tidak tahu jika dirinya tinggal satu Unit dengan Ardy, lalu bagaimana cara pria itu mengetahui rahasianya? Dan, darimana pria itu tahu rumahnya sampai menghadap Damar, sang ayah Jian.
Jian menggeleng. "Tidak mungkin, tidak mungkin Daven, tuan! Beri tahu aku orang yang sebenarnya!"
"Semuanya mungkin, Jian. Daven memiliki perasaan padamu, jangan bodoh! Dia tidak rela jika kau dekat denganku, maka dari itu dia memberi tahu rahasia kita."
"Tapi darimana Daven tahu rahasia itu?"
"Aku juga tidak tahu. Tapi dia sudah mengakuinya. Bahkan dia memintaku untuk tidak memberi tahu hal ini padamu. Kau masih tidak percaya dan meragukanku?"
Jian terdiam. Rasanya masih tidak percaya jika Daven yang melakukannya. Selama ini pria itu begitu baik padanya. Meski terakhir kali pria itu membuatnya kecewa lantaran telah menciumnya.
🌷🌷🌷
Sekitar pukul 12 siang. Daven menunggu Jian di restoran tempat dimana Jian makan siang di sana. Setelah mendapat kekuatan dari sang ibu, kini pria itu dengan semangat untuk mendapat kata 'maaf' dari Jian.
Seulas senyumnya terbit pada saat wanita yang ia tunggu-tunggu menampakkan batang hidungnya. Tapi yang membuat senyumnya memudar, wanita itu tidak datang sendiri, melainkan bersama seseorang yaitu Ardy.
"Jian!" panggilnya begitu wanita itu akan melewati mejanya.
Jian dan Ardy menghentikan langkah seketika. Kini Daven bangun dari duduknya dan berdiri di hadapan Jian. Namun dengan cepat Ardy menghalangi pria itu.
"Ada apa, Dav?" tanya Ardy.
"Aku ingin bicara dengan Jian, bukan denganmu. Menyingkirlah sebentar!" pinta Daven.
Ardy tersenyum menyeringai. "Tidak bisa! Dan tidak ada yang perlu kau bicarakan dengannya."
Ardy menarik lengan Jian untuk segera pergi dari hadapan Daven, ia juga memutuskan untuk pindah restoran saja.
"Jian, tunggu! Aku ingin bicara denganmu," Daven menarik lengan Jian yang satunya lagi.
Melihat Daven menyentuh tangan Jian, memancing emosi Ardy. Pria itu langsung menepis tangan Daven.
"Jangan sentuh Jian! Dia milikku!" ucap Ardy dengan begitu percaya dirinya.
"Dia bukan milikmu dan belum jadi milik siapapun, jadi berhentilah mengaku-ngaku!" balas Daven tak kalah sengitnya.
Ardy kembali tersenyum miring. "Tapi sebentar lagi Jian akan menjadi milikku. Benarkan, sayang?"
Jian yang mendapat ucapan seperti itu tentunya gugup.
"Jadi sebaiknya kau berhenti berharap," imbuh Ardy.
Daven pun mulai kesal pada Ardy. Tapi tujuan utamanya saat ini bukan itu, ia hanya butuh maaf dari Jian.
"Jian, aku mohon, maafkan aku! Aku tidak bermaksud untuk melakukan itu pada ayahmu. Aku-"
"Percuma, itu tidak akan bisa mengubah semua yang sudah terjadi!" potong Ardy. "Ayo, sayang! Kita cari tempat lain saja," ajaknya sembari merengkuh bahu Jian.
"Jian, tunggu! Kau harus dengarkan penjelasanku, Jian! Bicaralah, jangan diam seperti itu, Jiaaan!" teriak Daven saat mereka sudah melipir pergi dari hadapannya.
Di kejauhan, Jian menoleh sekilas dengan persaan tidak tega. Tapi ia segera memandang lurus ke depan kembali saat Ardy mengatakan sesuatu.
Bersambung..
___
...**Dukung terus Novel ini dengan cara...
...Spam LIKE, KOMEN, VOTE setiap SENIN, dan beri hadiah POIN/KOIN**....
...follow juga akun media sosialku di Instagram @wind.rahma...