One Night Stand With TUAN MUDA

One Night Stand With TUAN MUDA
Rasa Penasaran Ardy


Selamat hari SENIN, saatnya memberi VOTE!😊


🌷🌷🌷Happy Reading🌷🌷🌷


Mella, wanita bernama lengkap Maellani, yang memiliki paras cantik di usianya yang menginjak ke 38 tahun itu berjalan ke arah ranjang pasien dimana suaminya terbaring lemah di sana. Ia menarik kursi yang berada di samping kanan ranjang pasien kemudian duduk di sana.


Di tatapnya sang suami yang masih menggunakan beberapa alat medis seperti selang infus dan alat bantu pernapasan.


Perlahan Mella meraih buah tangan kekar dan kasar, lalu ia genggam erat. Sekilas ia mendaratkan ciuman di punggung tangan tersebut.


Damar Widyanto, pria yang ia taksir sejak masih duduk di bangku SMA itu kini menjadi miliknya seutuhnya. Setelah sebelumnya ia menikah dengan pria yang di jodohkan kedua orang tuanya dan resmi bercerai.


Kebetulan, sejak perceraiannya dengan sang mantan suami, ia mendapat kabar jika istri Damar meninggal dunia. Sehingga itu menjadi sebuah kesempatan emas baginya untuk mendapatkan pria tersebut.


Pada dasarnya Mella ini wanita baik, hanya saja ia tidak begitu menyukai anak dari istri suaminya itu, yaitu Jian.


Kelopak mata Damar mulai bergerak, dan perlahan matanya mulai terbuka. Mella tampak senang sekali.


"Ji, an .." ucap pria itu dengan suara serak, sorot mata Mella seketika berubah, senyumnya meluntur saat mendengar kata yang pertama terucap dari mulut pria itu.


"Ayah, ini aku Mella istrimu. Kau baik-baik saja kan?" Mella berusaha mengalihkan perhatian suaminya.


Damar menoleh, ia tersenyum pada Mella, lalu kembali menanyakan keberadaan putrinya.


"Jian mana, ma?"


Mella menghembuskan napas sedikit kasar. "Untuk apa menanyakannya, yah, dia sudah membuatmu seperti sekarang ini?!"


Damar terdiam sejenak, betapa sakit rasanya jika ia mengingat berita yang di sampaikan pria muda itu padanya beberapa hari lalu. Tapi ia tidak boleh menilai putrinya dalam satu sudut pandang saja, ia harus menanyakan langsung kebenarannya pada Jian.


"Ayah ingin bicara dengan Jian, ma. Ayah harus pastikan apa hal itu benar," pintanya.


Mella membelalakan mata malas. "Ayah harus istirahat, ya! Nanti, setelah ayah benar-benar pulih, kita bisa bahas itu lagi di rumah. Oke?!"


"Tapi, ma-"


"Pentingkan kesehatan ayah lebih dulu, ya?!"


Akhirnya Damar pun mengangguk nurut. "Iya, ma."


Mella pun tersenyum lega.


🌷🌷🌷


Sore bergulir menjadi malam hari. Ardy dan Jian masih stay di Rumah Sakit. Jian berharap ayahnya ingin bertemu dengannya. Tapi sampai saat ini, ibu tirinya belum juga keluar dari ruang rawat inap ayahnya. Itu artinya, ayahnya mungkin tidak ingin bertemu dengannya.


Ardy menatap wajah Jian lekat. Ia bisa merasakan bagaimana perasaan wanita itu sekarang. Perlahan ia meraih buah tangan wanita tersebut yang kini menoleh padanya.


"Jangan takut, kita pasti bisa melewati masalah ini!" tutur Ardy.


Jian hanya mengangguk sekali. Kemudian Ardy berusaha mencari topik pembicaraan lain. Ia tampak sedikit berpikir.


"Jian," panggilnya lirih.


"Hem?" jawabnya.


"Apa aku boleh bertanya sesuatu padamu?" Jian mengangguk. "Mm .. Apa kau begitu dekat dengan Daven?" tanya Ardy dengan penuh kehati-hatian.


Ardy mengangguk-anggukan kepala beberapa kali. "Menurutmu, dia baik?"


"Ya, baik sekali. Bahkan dia memperlakukanku dengan sangat baik, di saat orang-orang memperlakukanmu dengan buruk."


Ardy tidak suka mendengar kalimat Jian barusan, wanita itu seolah memuji temannya secara berlebihan.


"Apa kau memiliki perasaan padanya?" tanya Ardy lagi, ia semakin penasaran.


"Perasaan apa?" tanya Jian polos.


"Maksudku, apa kau jatuh hati padanya?"


Jian tampak sedikit berpikir. "Tidak, tapi perlakuan dia membuatku sedikit nyaman," jawabnya.


Ardy mulai gerah mendengarnya, tapi ia masih penasaran dengan perasaan Jian pada Daven.


"Nyaman?"


"Ya, tapi-" Jian menggantung kalimatnya, hal tersebut semakin membuat Ardy tidak sabar.


"Tapi apa?"


"Tapi aku jadi tidak nyaman dekat dengannya setelah aku tahu kalau ternyata Daven itu pria yang di taksir oleh temanku, dan-" lagi-lagi wanita itu menggantung kalimatnya.


"Dan apa, Jian? Katakan!"


"Dan ... Daven pernah menciumku."


Kedua mata Ardy memelotot, tubuhnya kini terasa panas menahan gejolak api yang baru saja tersulut. Ada pria lain yang berani menyentuh Jian, ia benar-benar tidak rela. Sangat.


"Lalu kau menerima ciumannya?" tanyanya dengan tidak sabar.


"Mmm ..." Jian tampak berpikir lagi, dan itu semakin memancing emosi Ardy.


"Kenapa kau mau berciuman dengannya, kau kan tahu dia temanku? Apa kau sampai bercumbu dengannya juga? Ayo, katakan, Jian!"


Jian mengernyit. "Kenapa kau harus marah?" tanyanya polos.


"Ya karena-"


"Aku bahkan marah padanya karena telah berani-beraninya menciumku," potong Jian, membuat pria itu seketika diam.


Ardy sedikit bernapas lega. "Sungguh? Kau tidak sampai bercumbu dengannya, kan?"


Jian menggeleng. "Kau ini bicara apa? Aku bukan wanita murahan seperti yang kau pikirkan. Jika bukan karena ancaman yang selalu kau berikan untukku, akupun tidak akan pernah melakukan hal itu denganmu."


Ardy seketika diam, ia merasa semakin bersalah pada Jian. Ia benar-benar menyesal. Kebenciannya yang terlalu besar pada ibunya membuat banyak wanita menjadi korban. Termasuk Jian.


Bersambung...


___


Tinggalkan jejak dengan cara like, komen, vote, ataupun beri hadiah melalui POIN maupun KOIN.


Karena dukungan kalian sangat berarti untuk saya serta memberi semangat lebih dalam menulis. 😊😊😊