
Pagi-pagi sekali orang suruhan Ardy sudah tiba di rumah Jian untuk menjemput wanita tersebut. Orang itu yang akan mengantarkan barang-barang Jian ke Apartemen sementara Jian turun di tempat kerjanya.
"Terima kasih sudah nengantar saya, pak!" ucap Jian pada sopir suruhan Ardy.
"Sama-sama. Itu sudah mebjadi tugas saya, nona," balasnya. Kemudian kembali mengemudikan mobilnya setelah Jian turun dari mobil tersebut.
"Kau naik taksi online, Ji?"Jian terpelonjat mendapat pertanyaan dari Alana secara tiba-tiba.
"Mmm ... I-iya," jawabnya gugup.
Alana mengangguk-anggukan kepalanya. Kemudian mengajak Jian masuk ke gedung bersama.
"Ji, ku tahu, kemarin ada seorng wanita cantik berpenampilan seksi keluar dari ruangan tun Ardy. Dan di waktu yabg bersamaan aku masuk ke ruangan itu untuk memberikan laporan kerjaku, tuan Ardy terlihat sedikit berantakan. Kemejnya kusut dan rambutnya acak-acakan. Aku rasa, mereka baru saja melakukan adegan panas," cetus Alana membut mata Jian terbelalak.
"Kenapa kau bisa berpikiran seperti itu?"
Alana menghentikan langkahnya, begitupun dengan Jian. Wanita itu menoleh ke arah sekitar, khawatir akan ada orang lain yang akan mendengar perkataannya. Setelah merasa aman, dia kembali bicara pada Jian yng sudah tak sabar ingin mendengar jawabannya.
"Tuan Ardy itu memang suka memakai wanita untuk sekedar memuaskan dirinya. Bukan hanya kekasihnya, bahkan wanita lain. Beberapa karyawan di sini tahu hal ini, bahkan di antara mereka ada yang pernah melihat tuan Ardy masuk ke Hotel bersama 2 orang wanita sekaligus."
"Benarkah?"Jian terkejut mendengarnya.
"Hem. Bahkan mereka yang mengetahui hal ini sempat berfikir jika kau ..." Alana menggantungkn kalimatnya, memeriksa kembaki keadaan sekitar. "Kau melakukan hal itu dengan tuan Ardy agar kau tidak di jerat hukum," sambung Alana setengah berbisik
Jian membulatkan matanya sempurna terkejut. Ia tidak menyangka orang-orang an berpikiran sejauh itu padanya. Dia harus ekstra hati-hati dengan orang-orang di kantor jika tengah berbicara dengan pria itu. apalagi sampai memergoki kejadian seperti yang Ardy kemarin lakukan di ruangannya.
"Ak-aku ... aku memohon pada tun Ardy untuk memberiku waktu untuk menyicil semua kerugian di perusahaan ini. Dengan cara memotong 70& gajiku setiap bulan. Meskipun aku tahu ini akan membutuhkan waktu yang sangat lama," Jian berusaha menjelaskan kenapa ia masih bisa bekerja di perusahaan ini setelah kerugian besar yang ia ciptakan. Dalam hati, ia menyebut dirinya sebagai wanita munafik.
"Oh, begitu." Alana menganggukan kepalanya berulang kali.
Kemudian mereka kembali melanjutkan langkah guna sampai ke ruang kerja masing-masing.
Jian menatap wajah temannya selama mereka jlan bersama. Rupanya ia harus menutupi apapun yang menjadi privasinya dan membatasi diri dengan Alana.
Meskipun Alana ini temannya, semua harus ada batasannya. Sebab kita tidak tahu, seorang pengkhianat itu datangnya dari mana. Bisa jadi dari orang terdekat sekalipun. Terlebih Jian di sana baru saja 3 bulan, sedangakan Alana sudah hampir 2 tahun. Pertemanan mereka pun masih sangat singkat.
🌷🌷🌷
Di gedung PT. mayora Sentosa.
Pria bernama Daven itu sedang berputar di atas kursi kerjanya sambil memikirkan wanita yang akhir-akhir ini menyita fokus kerjanya.
"Jian benar-benar membutku penasaran, baru kali ini aku menemukan wanita semenggemaskan dia. Tapi sayabgbya, aku lupa bertukar kontak dengannya." Davel menyesal di pertemuan kemarin bahkn sampai mereka bisa makan bersama, dia tidak sempat meminta nomer telpon Jian.
Siang kini bergulir menjadi sore hari. Tepat di jam pulang kerjanya, Jian mendpat notifikasi pesan masuk ke ponselnya. Dengan cepat ia merogoh benda pipih di tas kecilnya.
Aku tunggu lima puluh meter dari gedung.
Pesan tersebut di kirim oleh Ardy. Wanita itu langsung paham maksudnya, sebab hari ini ia harus pulang ke Apartemen dan tinggal bersama ptia menyebalkan yang selalu memberinya ancaman.
Dengan tergesa Jian keluar dari gedung tersebut. Kemudian berjalan menghampiri tempat dimana mobil Ardy tengah menunggunya.
"Lama sekali!" cecar Ardy ketika Jian masuk ke mobilnya.
Jian melirik bosnya sekilas, lalu memilih memandang ke arah samping yang berlawanan. Tak mau membuang-buang waktu lagi, Ardy pun menancap gas mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
"Jangan pernah mengtakan pada sipapapun jika kau tinggal bersamaku!" suara Ardy membeah keheningan dalam mobil setelah beberapa saat mereka memilih saling diam.
"Ya. Akupun tidak ingin orang-orang tahu jika aku tinggal bersamamau," balas Jian tanpa menoleh pria di sampingnya.
"Di depan sana ada Supermarket. Kau turun dan beli bahan masakan. Kau bisa memasaknya untuk makan nanti di Apartemen." Jian melirik wajah Ardy yang tengah fokus menyetir sekilas.
"Ya."
Ardy menurunkan Jian di depan Supermarket dengan membekalinya uang cash. Ia memilih menunggunya di mobil. Lima beas menit kemudian Jian sudah kembaki dengan menenteng dua kantong plastik hitam berukuran besar di kedua tangannya.
Ada perasaan tidak tega nelihat Jian kesulitan membawa barang tersebut, dengan sigap Ardy turun untuk membantu Jin. Lalu memasukkan dua kantong plastik tersebut ke dalam bagasi mobil. Setelah itu kembali masuk ke mobil, begitupun dengan Jian. Sedektik kemudian mobil sudah melesat dari tempat tersebut.
Bersambung...
___
Jangan lupa untuk:
👍Tinggalkan Like
📝Komentar
❤Masukan rak buku favorit
📦Beri Hadiah
Jangan lupa untuk follow akun media sosialku:
IG: wind.rahma