
Sampai di depan gedung Apartemen, wanita yang tadi Jian temui di Supermarket itu mengikuti langkahnya masuk ke dalam gedung tersebut.
"Apa ibu sedang menghindar dari kejaran seseorang? Jika demikian, ibu sudah aman. Tidak usah takut lagi," tutur Jian agar wanita itu tidak sampai ikut masuk lift menuju lantai Unitnya berada.
"Tolong saya, nak. Tolong.." kata wanita itu seraya menelungkupkan kedua tangannya memohon.
Hal tersebut membuat Jian semakin di kungkung dalam kebingungan. Ia takut jika salah menilai orang. Satu sisi ia ingin membawa ibu itu sampai Unitnya, namun di sisi lain kekhawatirannya terhadap kejahatan bisa terjadi kapan saja terus memenuhi isi kepala.
Akhirnya ia memutuskan untuk membawa sang ibu tersebut ke dalam Unitnya, tapi sebelum itu, ia harus menghubungi suaminya terlebih dahulu.
Jian mengambil ponsel di dalam tas slempangnya, lalu mendial nomer Ardy di sana. Ia juga sedikit menjauh dari ibu tersebut, agar ibu itu tidak sampai mendengar pembicaraannya.
"Halo, sayang. Ada apa?" tanya Ardy dari sebrang sana saat saluran telepon baru saja terhubung.
"Iya, ini aku baru saja sampai di Apartemen. Tapi, aku ingin meminta izin padamu."
Di tempat Ardy berada, pria itu mengerutkan dahinya.
"Meminta izin apa, sayang?"
"Tadi aku bertemu dengan seorang ibu yang ketakutan. Dia meminta tolong padaku, lalu aku ajak dia naik taksi online bersama. Awalnya aku berniat untuk mengantarnya pulang, tapi dia sama sekali tidak mengatakan siapa dirinya dan dimana rumahnya. Hanya ucapan minta tolonglah yang terus keluar dari dalam mulutnya. Akhirnya sekarang ibu itu kubawa sampai Apartemen. Aku minta izin, bolehkan ibu itu aku bawa masuk ke dalam Unit?" jelas Jian panjang Jian.
Ardy yang semula duduk berputar di kursi ruang kerjanya seketika bangkit berdiri.
"Jangan membawa orang asing sembarangan, sayang! Kita tidak tahu apa yang akan dia lakukan," ujar Ardy tegas.
"Iya, aku tahu. Tapi aku kasihan. Aku tidak tega, dia terlihat ketakutan sekali. Aku rasa dia memiliki masalah. Izinkan aku membawanya masuk, ya!" pinta Jian sedikit memohon.
"Sayang, jika dia macam-macam bagaimana? Apalagi kau itu sedang hamil. Aku tidak mau kau sampai kenapa-kenapa," ujar Ardy cemas.
"Jika dia berbuat yang macam-macam, aku akan segera menghubungimu. Tapi aku mohon, izinkan aku membawa ibu masuk, ya!" harap Jian suaminya akan memberinya izin.
"Ya sudah, kalau begitu aku pulang sekarang. Setidaknya jika terjadi sesuatu yang tidak di inginkan aku sudah sampai di sana. Kabari aku jika ada sesuatu yang mencurigakan dari orang itu, dan kau harus sedikit waspada. Ok?!"
"Ya, aku pasti akan menghubungimu."
Saluran telepon pun di matikan, dengan langkah tergesa Ardy keluar dari ruangannya menuruni gedung kantor menggunakan lift.
Sementara di gedung Apartemen, Jian mengajak ibu yang masih berdiri tidak jauh darinya untuk masuk ke dalam lift. Ibu itupun mengangguk menurut.
Sampai di lantai dimana Unitnya berada, ibu yang belum di ketahui identitasnya langsung masuk begitu Jian mempersilahkannya.
"Duduk dulu, bu. Aku buatkan minuman hangat, ya!" tawar Jian, tanpa mengatakan sepatah katapun ibu itu langsung duduk di sofa yang Jian tunjuk.
Dengan susah payah Jian menenteng barang belanjaannya menuju dapur, sampai di sana ia segera membuatkan segelas teh manis untuk si ibu. Usai teh manisnya jadi, ia membawa gelas dengan piring kecil sebagai tatakan ke ruang tengah.
"Di minum, bu." Jian menaruh gelas tersebut di meja hadapan ibu itu.
Dengan cepat si ibu meraih gelas berisi teh manis tersebut dan meminumnya sampai habis. Padahal teh manis tersebut masih terlalu panas, Jian sampai melongo di buatnya.
"Ibu mau makan?" tawar Jian, karena sepertinya ibu itu kelihatan lapar sekali.
Dan benar saja, ibu itu menganggukan kepalanya cepat.
"Ya sudah, kalau begitu aku buatkan sup brokoli untuk ibu, ya. Sambil menunggu, ibu bisa membersihkan badan ibu terlebih dahulu, nanti aku kasih baju gantinya."
"Ini kamar mandinya, bu. Di dalam ada peralatan mandinya juga. Kalau begitu, aku tinggal sebentar untuk mengambil baju gantinya."
Kali ini ibu itu menganggukan kepalanya hanya sekali. Jian pun pergi untuk mengambilkan baju serta pakaian dalam yang masih baru untuk ibu tersebut. Untuk handuk sudah tersedia di kamar mandinya.
Begitu kembali ke kamar tadi berniat untuk mengantarkan baju, Jian mendengar suara gemericik air berasal dari shower. Namun yang membuatnya penasaran dan kini berdiri di depan pintu kamar mandi bukanlah suara gemericik airnya, melainkan suara tangis tersedu-sedu yang berasal dari ibu tersebut.
Kasihan sekali ibu itu, dia pasti memiliki masalah yang teramat berat. Batin Jian.
"Bu, aku taruh bajunya di atas tempat tidur, ya," kata Jian setengah berteriak.
Tanpa menunggu jawaban ibu yang ada di dalam kamar mandi, Jian langsung melipir keluar kamar guna membuatkan sup brokoli untuk si ibu. Sebelum itu, Jian menata bahan masakan yang masih berada di dalam kantong plastik itu ke dalam lemari es.
Jian mulai membuatkan sup brokolinya. Tanpa membutuhkan waktu lama, sup brokoli pun jadi. Ia memindahkan sup tersebut dari dalam panci ke mangkuk berukuran sedang, lalu menghidangkannya ke atas meja makan. Ia juga mengambilkan nasi dari dalam mejikom ke tempat biasa ia menaruh nasi dan menaruhnya berdampingan dengan sup.
Beberapa menit usai menghidangkan makanan di atas meja, si ibu tadi pun keluar dari kamar. Penampilan ibu itu terlihat berbeda, tidak ada lagi bercak darah di wajahnya. Hanya ada goresan luka-luka yang tersisa. Jian merasa iba melihatnya.
"Bu, ayo makan! Aku sudah selesai membuatkan sup untukmu," ajak Jian, ibu itupun berjalan menghampiri meja makan.
"Duduk, bu," Jian menarik salah satu kursi untuk ibu itu duduk, dan ibu itupun duduk.
"Di makan, bu. Maaf ya jika aku hanya bisa membuatkan sup brokoli!"
"Tidak apa-apa, nak. Terima kasih banyak telah menolong saya!" ucap ibu itu seraya mengulas senyum tulus.
Jian sedikit terkejut mendengar ibu itu akhirnya mau bicara selain kata minta tolong.
"Sama-sama, bu. Makan yang banyak, ya!"
Jian ikut duduk di depan ibu itu. Sepertinya ibu di hadapannya itu benar-benar kelaparan sekali. Jian jadi iba melihatnya, ia jadi teringat pada sosok ibunya sendiri.
Jian berniat untuk menanyakan identitas ibu itu setelah selesai makan nanti. Dan apa yang membuatnya ketakutan seperti tadi.
"Jian, kau dimana sayang..?!"
Suara terikan seseorang yang baru saja datang mengejutkan Jian dan ibu itu. Sampai-sampai sendok yang sedang ibu itu gunakan makan terjatuh ke kolong meja.
"Aku di meja makan," teriak Jian.
Ardy pun langsung melangkahkan kakinya menuju tempat Jian berada. Begitu melihat ada wanita yang tadi Jian maksud, ia berjanji akan segera mengusirnya.
"Hei, siapa kau? PERGILAH! Aku tidak ingin ketenangan kami terganggu gara-gara kau!" Usir Ardy kasar dengan menggebrak meja makan cukup keras.
"Sayang, jaga sikapmu!" ucap Jian lirih berusaha meredamkan emosi suaminya.
Mendengar bentakan yang kurang mengenakan, wanita yang tengah mengambil sendoknya itu mendongak dengan wajah ketakutan.
Ardy terperangah melihat wajah wanita yang saat ini berada di hadapannya.
"Kau-" lirih Ardy sambil dengan bibir gemetar.
"Anakku.."
Bersambung...