
Daven merebahkan tubuh lelahnya di atas sofa usai pulang dari kantor. Hari ini benar-benar hari yang melelahkan baginya. Ternyata berpura-pura baik itu sangatlah sulit, apalagi pura-pura baik di depan wanita yang jelas-jelas membuatnya ingin sekali mencakar wajahnya.
Alana, wanita yang Jian jaga mati-matian perasaannya, justru mematikan perasaan dirinya. Demi menjaga perasaan temannya, Jian sampai menjauh darinya. Padahal ia yakin sekali jika wanita itu sudah nyaman dekat dengannya. Selama ini ia berusaha memperlakukan Jian dengan sebaik-baiknya. Bahkan saat ia mengetahui jika Jian ternyata sudah tidak lagi virgin, ia tetap tulus mencintai.
Dan sekarang, perlahan Daven harus mengikis perasaan itu pada Jian. Ia tidak akan memaksa kehendak. Meski itu sulit, tapi ia yakin pasti akan ada wanita yang lebih baik dari pada Jian. Mungkin, semoga saja.
Misi hari ini selesai, saat Daven mengetahui jika wanita yang ia temui di depan toilet tadi ternyata Alana, ia segera mengonfirmasi pada Ardy. Mau tidak mau sebab niat membantu, akhirnya Daven menuruti apa yang menjadi perintah temannya itu, meski terdengar gila.
Besok, ia harus kembali menjalankan misi serupa agar apa yang mereka rencanakan berhasil.
🌷🌷🌷
Keesokan harinya.
Daven terkejut mendapati Alana tengah menunggu di depan gedung Apartemen. Bagaimana wanita itu bisa tahu tempat tinggalnya? pikir Daven.
"Selamat pagi, tuan Daven," sapa wanita tersebut dan segera menghampiri tempat berdirinya.
Daven tak membalas sapaannya, ia hanya melemparkan senyum hambar yang sangat terpaksa. Meski demikian, Alana tetap klepek-klepek.
"Tuan, ini aku bawakan sarapan untukmu. Aku suapin, ya!" Alana membuka kotak makan yang ada di tangannya.
Melihat Alana hendak menyuapi, pria itu segera mencegah.
"Aku sudah sarapan, itu untukmu saja!" tolaknya.
Ada raut wajah kecewa dalam wajah Alana, tapi ia todak akan menyerah begitu saja demi mendapatkan hati sang pujaan.
"Hm, begitu. Ya sudah, kalau begitu untuk nanti saja. Ini," Alana menyodorkan kotak makan tersebut, mau tidak mau Daven menerima. Mau di makan atau tidaknya urusan nanti.
"Terima kasih!"
"Sama-sama, tuan. Jika kau menyukainya, aku siap membuatkannya lagi untukmu besok," ucap Alana dengan semangat.
"Tidak perlu, nanti kau akan repot!"
"Tidak apa-apa, tuan. Tidak usah sungkan, justru aku senang jika di repotkan olehmu."
Daven benar-benar ingin segera pergi dari sana guna menghindari komunikasi tidak penting yang membuat waktu menuju kantornya berkurang dengan cepat.
"Kalau begitu aku harus segera pergi ke kantor!" Daven melipir dari hadapan Alana, wanita itu berjalan mengahadang Daven.
"Tunggu, tuan! Apa aku boleh ikut bersamamu? Jalan menuju kantormu searah dengan kantorku, please!"
Benar-benar wanita tidak tahu malu, begitu yang ada dalam pikiran Daven. Tapi mungkin ini kesempatan untuk mengorek-ngorek hidup wanita tersebut.
"Ya sudah," jawabnya.
Alana benar-benar bersorak ria dalam hati, ternyata mengenai kedekatannya dengan Daven ada kemajuan. Dan ternyata semua yang kita inginkan tidak bisa biarkan dalam impian, semua harus di wujudkan dalam wujud yang nyata.
Dalam perjalanan.
Daven melirik sekilas wanita yang tengah duduk di sampingnya. Wanita tersebut memperlihatkan deretan giginya begitu ia melirik. Pria itu memasang wajah datar dan rasanya ingin cepat sampai di tujuan. Tapi sayangnya, mereka justru terjebak dalam kemacetan ibu kota.
"Tuan Daven," panggil Alana lirih.
"Hm," jawab Daven tanpa menoleh.
"Apa kau sudah memiliki kekasih?"
Daven spontan menoleh, lalu menggeleng kaku. "Tidak."
Alana tersenyum sendiri. "Mm, memangnya tipikal wanitamu seperti apa?" tanya wanita itu lagi.
"Wanita yang baik hatinya, dan yang penting dia bukan seorang pembohong."
Ucapan Daven barusan membuatnya sedikit tersinggung. Tapi ia pandai membalikkan keadaan dengan kembali menjelekkan Jian.
"Berarti Jian jauh dari apa yang kau harapakan," cetusnya.
Daven menghembuskan napas lelah, dia sangat muak mendengar kebusukan yang terus menerus keluar dari mulut Alana.
"Oh, ya, kau tinggal dimana?" tanya Daven setelah beberapa saat memilih diam. Wanita itu menanggapinya dengan begitu gembira.
"Aku tinggal di jalan XX, kenapa?"
Daven menggeleng. "Tidak, aku hanya bertanya saja," jawabnya datar.
Alana merasa jika Daven tengah mendekatinya, sebab pria itu sampai menanyakan dimana alamat rumahnya.
"Kau tinggal sendiri?"
"Aku tinggal bersama orang tuaku."
"Oh," Daven mengangguk-anggukan kepalanya sambil berpikir.
"Kalau boleh tahu, kenapa kau memilih bekerja di perusahaan tuan Ardy? Maksudku apa kau berasal dari keluarga sederhana?"
"Ayahku sebenarnya memiliki perusahaan sendiri. Hanya saja aku tidak ingin bekerja di perusahaanku, sebab aku tidak ingin menjadi bahan omongan karyawan di kantor ayah. Aku hanya berusaha mandiri, begitu," jelasnya dengan begitu semangat.
"Oh, memangnya nama perusahaan ayahmu apa? Siapa tahu perusahaan ayahmu pernah bekerja sama dengan perusahaanku?"
"Mmm .." Alana tampak gelagapan. "Perusahaan ayahku berada di luar negeri," jawabnya kemudian.
Dari cara bicara dan ekspresi wajahnya, Daven bisa menebak jika wanita itu tengah berbohong.
"Benarkah?"
"Ya."
"Kalau begitu, bisa aku main ke rumahmu?"
Alana mengangguk cepat. "Ya, tentu saja."
"Baiklah, nanti malam aku akan main ke rumahmu."
"Sungguh?" wanita itu menggelayutkan tangannya di lengan Daven, pria itu sampai bergidik tertahan.
Daven hanya mengangguk kaku dan berusaha tersenyum pada wanita di sampingnya. Alana mengepalkan kedua tangan di udara lalu menariknya ke bawah secara bersamaan.
Yes yes yes. ujar wanita itu girang dalam hati.
Lantaran jalanan sudah mulai lenggang, Daven kembali melajukan mobilnya.
🌷🌷🌷
Di Unit Ardy, pria itu tengah menemani Jian. Wanita itu kembali mengeluh pusing pagi ini.
"Kita ke Dokter saja, ya, aku takut kau kenapa-kenapa," bujuk Ardy untuk kesekian kalinya.
"Tidak usah, tuan. Aku hanya ingin tidur saja."
Ardy berdecak. "Tidur di pagi hari itu tidak baik, Jian."
"Tapi aku mengantuk."
"Tapi itu tidak baik untuk kan-" Ardy menghentikan kalimatnya dengan langsung mengatupkan bibir.
"Kan apa?" tanya Jian penasaran.
"Kan .." Ardy tampak berpikir, kata apa yang tepat untuk sebuah kata kan.
"Kan apa, tuan? Jangan membuatku penasaran!" seru Jian.
"Kaaan, kantung mata maksudku. Ya, kantung mata. Sebab tidur di pagi hari akan membuat kantung matamu seperti panda," jawabnya asal.
Jian mengernyit. "Benarkah?"
"Ya."
Wanita itu menganggukan kepalanya ragu. Seketika ponselnya mengalihkan perhatian mereka. Begitu Jian melirik ponselnya, di sana ada sebuah notifikasi pengingat.
Pengingat tersebut merupakan pengingat chek up rutin jantung ayahnya setiap 3 bulan sekali tiap tanggal 26, hal tersebut justru malah mengingatkannya pada sesuatu lain.
Tanggal 26? Harusnya aku sudah haid dari tanggal 20 kemarin. Kenapa aku belum juga haid, ya?
...Bersambung......
___
...Semoga kalian selalu dalam lindungan Allah,...
...di berikan kesehatan selalu, Aamiin....
...Terima kasih banyak sudah mengikuti cerita novelku sampai part ini. ...
...Jangan lupa untuk tetap dukung Novel ini!...
...Kumpulin POIN dan VOTE...
...sebagai dukungan kalian!...
...Dengan cara klik HADIAH dan...
...klik gambar kopi ☕☕☕atau gambar ❤️...
...Tambahkan ke rak favorit, ya. Supaya kalian dapat notifikasi ketika bab selanjutnya publish😊...
...Follow ig @wind.rahma...