
Hari demi hari telah pasangan Ardy dan Jian lewati, bulan demi bulan telah mereka lalui. Kini, usia kandungan Jian sudah menginjak ke 9 bulan. Tidak terasa, sebentar lagi si buah hati akan terlahir ke dunia, dan itu yang di nanti-nantikan oleh semuanya.
Hubungan antara kedua keluarga Ardy dan Jian pun sangat baik. Mereka selalu menyempatkan diri untuk berkumpul sekedar mempererat tali silaturahmi. Begitu juga dengan hubungan Jian dan Mella yang semakin membaik setelah kejadian kecelakaan kala itu.
Dan kini, keluarga Ardy dan keluarga Jian tengah berkumpul makan malam di sebuah restoran besar. Mereka duduk di meja berukuran panjang yang sebelumnya telah di pesan.
Obrolan ringan di selingi tawa canda menghiasi mereka. Membahas perihal usaha furniture yang kini maju pesat, kondisi Lily yang sudah sangat membaik, juga tentang penantian calon anak serta cucu tak mereka lewatkan.
Sampai akhirnya, beberapa orang pelayan restoran tersebut pun datang mengantar menu makanan yang sudah di pesan. Mereka pun mulai menyantap hidangan tersebut, di awali do'a yang di pimpin oleh Damar.
Sementara di tempat lain, ada Daven yang sudah menjadi pasangan suami istri dengan Diana. Mereka melangsungkan pernikahan sekitar satu minggu lalu. Dan tentunya masih hangat dan layak di sebut pengantin baru.
Semenjak menikah dengan teman masa kecilnya itu, Daven seperti mendapatkan sebuah kebahagiaan yang tak terhingga. Kehidupannya sekarang di penuhi warna-warni yang indah.
Seperti sekarang ini, istrinya tengah merajuk memintanya agar membelikan stok jajanan.
"Stok cemilanku habis, Dav. Nanti kita beli lebih banyak lagi, ya!" ujar Diana sambil menenggelamkan wajahnya di dada bidang milik Daven. Kebetulan mereka sedang berada di atas tempat tidur, saling memeluk, dan ada suara televisi yang sengaja mereka nyalakan.
"Iya, sayang.. Aku beli sama minimarketnya sekalian. Atau kalau perlu, aku akan beli sama penjaga kasirnya, itupun kalau perempuan."
"Iiihh.."
"Aaww..." teriak Daven saat Diana menyubit pinggangnya, antara sakit dan geli terasa mengumpul di perutnya.
Daven balik menyubit benda kembar Diana yang hanya menggunakan brraa, sebab satu jam lalu mereka baru saja melakukan hubungan manis.
"Iiih, Daven.. Usil banget, sih, kamu. Geli tau!" Diana menyingkir-ngingkirkan tangan suaminya saat cubitan itu terus berlanjut.
"Geli apa nikmat?" goda pria itu.
"Dua-duanya," balas wanita itu dan kembali memancing ketegangan sesuatu yang berada di balik selimut putih yang mereka pakai.
"Ya sudah, kalau begitu lanjut ronde ke 2, ya," pinta Daven sedikit merayu.
"Kenapa berhenti, sayang?" tanya Diana sedikit kecewa saat Daven berhenti sebelum ia menuju puncaknya.
"Sebentar, sayang!" kata Daven tanpa mengalihkan pandangannya dari layar televisi yang menempel di dinding.
***
Kembali ke restoran tempat keluarga Ardy dan Jian makan malam.
Di tengah-tengah makan malam mereka, dering ponsel yang terdengar nyaring berasal dari balik saku celana Ardy. Pria itu merogoh ponsel tersebut, berniat untuk mematikannya karena telah mengganggu acaranya. Namun saat melihat nama Daven yang tertera di layar ponselnya, ia mengurungkan niat tersebut dan segera mengangkat panggilannya.
"Halo, Dav. Ada apa?"
Seketika mimik wajah Ardy berubah terkejut, ada sebersit rasa takut juga di sana.
"Ada apa?" tanya Jian khawatir.
Semua pasang mata juga kini tertuju pada Ardy, menanyakan hal yang sama dengan Jian.
"Daven baru saja bilang, kalau lapas tempat Alana di penjara mengalami kebakaran. Semua narapidana di amankan, tapi ada satu tahanan yang kabur."
"Siapa?" tanya Jian dengan perasaan yang sudah tidak enak.
"Alana."
Jawaban Ardy membuat Jian was-was. Ia takut jika suatu Alana akan muncul kembali ke dalam kehidupannya. Terlebih wanita itu memiliki dendam yang yang begitu besar terhadap dia dan keluarganya.
Sepasang mata seseorang yang berdiri di balik tembok tertuju pada meja panjang yang membentang di hadapannya. Kedua tangannya mengepal serta sorot matanya di penuhi suatu kebencian.
"Aku tidak akan membiarkan hidup kalian bahagia," desisnya.
Bersambung...