One Night Stand With TUAN MUDA

One Night Stand With TUAN MUDA
Sikap Ibu Tiri


Sebuah mobil mewah memasuki rumah dan berhenti di sana. Satu orang pria dan wanita keluar dari dalam mobil tersebut secara bersamaan.


"Mau mampir dulu, tuan?" tawar Jian.


"Tidak, lain kali saja," tolak Ardy secara halus.


"Ya sudah, kalau begitu, aku masuk, ya," pamitnya.


Ardy mengangguk. Tapi seketika ia mengingat sesuatu. "Jian, tunggu!"


Pria itu menarik lengan Jian, membuat wanita itu menghentikan langkah. "Ada apa, tuan?"


Ardy mengambil sesuatu dari dalam mobilnya, kemudian memberikannya pada Jian.


"Kotak makanmu, besok bawakan bekal sarapan untukku lagi, ya!" pintanya seraya memberikan kotak makan berwarna pink tersebut.


"Oh, ya, aku sampai melupakannya. Terima kasih, tuan. Besok aku akan membawakannya lagi untukmu jika kau mau. Terima kasih juga untuk makanan tadi," ucap Jian.


"Ya, sama-sama."


Seulas senyum terukir daru kedua sudut bibir Ardy. Pandangan mereka saling bertemu, dan Jian segera menundukkan wajah untuk menghindari sorot mata hitam pekat yang membuatnya gugup seperti ini.


Ada sorot mata lain yang menunjukkan kemarahan dari seseorang yang duduk di mobil yang terparkir tidak jauh dari pelataran rumah Jian. Mobil itu membuntuti mobil Ardy sejak dari Apartemen


"Jadi ini rumah Jian," ujarnya.


Mobil tersebut mundur dan segera pergi dari sana, saat mobil milik Ardy hendak keluar dari halaman rumah Jian.


🌷🌷🌷


"Bagaimana merayunya hari ini, sukses?"


Suara tersebut terdengar saat Jian baru saja memasuki ruang tamu. Suara tersebut di ketahui milik Mella yang tengah duduk di kursi ruangan tersebut dengan kaki yang sengaja menumpang di atas kaki yabg satunya lagi.


Jian ikut duduk di kursi tunggal dan meletakkan tas kecil di atas pangkuannya.


Mella tersenyum remeh. "Memang kenyataannya seperti itu, kan?"


"Kenyataan apa?" Jian balik bertanya lagi.


"Mana ada pria tampan, big boss seperti Ardy yang mau dekat dengan wanita sepertimu, kau pasti merayunya kan?"


Jian masih tidak paham akan maksud ibu tirinya. "Aku bahkan tidak mengerti apa yang ibu maksud."


Lagi-lagi Mella tersenyum remeh. "Kau ini memang polos atau pura-pura polos? Saya heran, kenapa Ardy mau dekat denganmu, padahal dia bisa mencari wanita yang cantik dan berkelas lebih jauh darimu. Apa, kau sudah menjual harga diri padanya, sehingga dia mau saja denganmu?"


Mata Jian membulat, ia tidak menyangka jika ibu tirinya akan berpikiran seperti itu padanya. Tak ingin ada perdebatan, Jian memutuskan untuk pergi saja ke kamar.


"Lain kali jajakan tubuh jalangmu juga di klub, dan jangan lupa bandrol lebih murah agar banyak peminat!" teriak Mella, menghentikan langkah Jian sejenak, kemudian Jian kembali melanjutkan langkahnya masuk ke kamar.


Sampai di kamar, tubuh Jian merosot di balik pintu dan bersimpuh di lantai. Memeluk kedua lutut dan menenggelamkan dagunya di sana. Air matanya sudah tidak dapat ia bendung lagi, sehingga berjatuhan cukup deras. Setiap ucapan yang keluar dari mulut ibu tirinya selalu saja mengiris hati.


Entah apa kesalahannya pada Mella, sehingga wanita itu bersikap kasar seperti itu padanya. Apa mungkin seorang ibu tiri selalu bersikap seperti itu, so baik jika di depan seorang ayah padahal busuk di belakang? Bahkan banyak orang yang mengatakan:


'Jangan mau punya ibu tiri, dia jahat, nanti kamu akan di rebus olehnya' apa kata-kata ibu memang benar?


Dan yang membuat Jian semakin terisak, ketika ucapan wanita itu memang ada benarnya. Mengapa Ardy, seorang bos besar mau berhubungan dengan seorang karyawan seperti dirinya? Bukan karena tertarik, karena memang dirinya seperti sudah menjual diri pada pria itu untuk mengganti kerugian perusahaan.


Bersambung...


___


Tinggalkan jejak dengan cara like, komen, vote, ataupun beri hadiah melalui POIN maupun KOIN.


Karena dukungan kalian sangat berarti untuk saya serta memberi semangat lebih dalam menulis. 😊😊😊


Follow juga Ig @wind.rahma