One Night Stand With TUAN MUDA

One Night Stand With TUAN MUDA
Hikmah Dibalik Peristiwa


Usai permasalahan tentang Sagara selesai, kini Lily merasa lega dan tidak takut lagi untuk keluar rumah meski masih harus di temani oleh Jian. Dan sore ini, Lily meminta pada anak dan menantunya untuk bertemu dengan sang besan. Ardy pun tidak keberatan dan justru senang akan pergi ke rumah Jian.


Saat ini sudah pukul 5 sore, Damar bersiap-siap untuk pulang dengan menutup ruko. Sebab ia sudah di kabari jika Jian akan datang ke rumahnya bersama suami dan ibu mertuanya. Itu artinya akan menjadi moment pertemuan dengan besan yang pertama kali.


Damar juga sudah sudah mengatakan pada putrinya, jika ia masih di ruko. Dan Jian bilang akan mampir ke ruko tersebut agar mereka bisa ke rumah bareng naik mobil Ardy. Damar pun setuju, namun tidak dengan Mella.


"Mama mau pulang duluan saja, yah," ujar wanita itu sambil bersiap-siap akan pergi.


"Tunggu sebentar, ma. Mereka katanya mau mampir kesini dulu," cegah Damar.


"Ya sudah, kalau mau mampir ya mampir saja. Tapi mama mau pulang duluan," ucap Mella kekeh.


"Ma, tunggu sebentar, ya!" pinta Damar sedikit memohon.


"Mama mau pulang duluan, ayah. Memangnya kalau mereka datang kita gak perlu nyiapin sesuatu buat menjamu mereka gitu? Ya pastinya mereka bakalan makan di rumah kita, lah. Kalau mama gak siap-siap buat masak, terus siapa yang mau nyiapin? Memangnya harus Jian? Tidak, kan?" ketusnya.


Damar menghela napas sedikit berat, benar juga. Jika istrinya sudah di rumah, ketika mereka datang nanti semuanya sudah siap.


"Ya sudah, tapi mama hati-hati, ya!"


"Nah, gitu dong dari tadi. Mama pulang duluan," pamitnya, kemudian pergi usai mencium punggung tangan suaminya.


Dari kejauhan, mobil Ardy sudah hampir sampai di ruko yang kini menjadi tempat Damar usaha. Seketika kedua bola mata Jian melebar, saat melihat ada mobil truk yang sedang mundur dari sebuah tanjakan dan nyaris menabrak ibunya.


"Sayang, kumohon berhenti! Ibu sedang dalam bahaya," pinta Jian pada Ardy.


Ardy yang melihat kejadian itu segera menghentikan mobilnya, sementara Jian langsung turun begitu saja.


"Ibuuuu... Awaaaasss...!!!" teriak Jian sambil berlari.


Mendengar teriakan tersebut Mella pun menoleh, ia baru saja menyadari jika ada sesuatu yang akan membayakan dirinya. Bukannya segera menyingkir dan menghindari bahaya, tubuh Mella justru seakan kaku dan mematung. Bahkan berteriak saja pun sulit sekali ia lakukan. Mulutnya seraya terkunci bersama persendian tubuh yang lainnya.


Begitupun dengan Damar, pria itu bukannya lari menyelamatkan sang istri, lututnya malah gemetar dan melemas.


"Jiaaan, awaass!!" teriak Ardy cemas.


Jian menghambur memeluk Mella dan menyeret tubuh tersebut ke bahu jalan. Telat sedetik saja mungkin Mella sudah penyet sekarang. Sebab mobil truk tersebut kini terguling dan ternyata tanpa pengemudi.


"Jian, kau tidak apa-apa?" tanya Mella mengkhawatirkan kandungan anak sambungnya.


"Aku tidak apa-apa, bu," jawabnya sembari mengusapi sikunya yang sedikit lecet akibat membentur batuan yang ada di sana.


Ardy, Lily dan Damar berlari menghampiri mereka.


"Sayang, kau tidak apa-apa? Apa ada luka?" tanya Ardy memburu.


"Aku baik-baik, saja. Ini hanya luka kecil," Jian tersenyum tipis agar suaminya tidak cemas.


Ardy meraba perut Jian. "Syukurlah kalau tidak apa-apa, aku begitu mengkhawatirkan kalian."


Kalian yang Ardy maksud adalah suami dan anaknya.


"Terima kasih banyak sudah menyelamatkan nyawa ibu, Jian," ucap Mella dengan tulus.


Ini merupakan pertama kalinya Mella menyebut dirinya ibu pada Jian setelah beberapa tahun menjadi istri Damar. Jian sangat terharu dan sangat bersyukur dengan adanya kejadian yang memberinya hikmah.


"Sama-sama, bu," balas Jian seraya mengulas senyum.


Kemudian Mella memeluk tubuh Jian, cukup lama. Ternyata menghilangkan kebencian terhadap seseorang itu membuat hati kita terasa tenang. Semua yang melihatnya pun terasa adem sekarang, termasuk Lily yang baru saja melihatnya.


"Lain kali nurut kata suami, ma. Bir kejadiannya tidak seperti ini lagi," ujar Damar.


Mella pun melepaskan pelukannya dengan Jian, dan berganti menatap suaminya.


"Maaf, ayah!"


"Jangan di ulangi, ya!"


Mella mengangguk, lalu Damar memeluk tubuh wanita tersebut seperti orang yang tidak akan bertemu lagi, cukup erat. Damar tidak mau kehilangan seorang istri untuk yang kedua kalinya setelah Amina.


Bersambung...